
Pukul 09:05 Bianca telah menyelam ke alam mimpinya. Mungkin karena ke lelahan atau efek datang bulannya atau apa lah itu, Bianca tidur lebih awal dari biasanya. Sedangkan Agam yang belum mengantuk, melanjutkan kegiatannya yang tertunda karena istri manjanya minta di kelonin.
Lucu gak sih? padahal di hari-hari yang sudah mereka lalui, Agam lah yang manja kepada Bianca, kini terbalik lagi. Bianca tak kalah manja darinya. Mereka tidak lebih hanya sepasang dua remaja yang sama-sama manja di persatukan dalam ikatan pernikahan.
Kalau bukan keluarga mereka yang bisa di bilang cukup terpandang dan pastinya memilik harta yang berlimpah, mungkin saja mereka telah menjadi gelandangan. Mengapa? bayangkan saja, sepasang anak mudah yang masih duduk di bangku SMA sudah menjalani rumah tangga, apa yang mereka bisa lakukan untuk mendapatkan uang agar bisa bertahan hidup?
Masa-masa sekolah adalah masa tidak mudah untuk mencari pekerjaan. Patut di syukuri mereka terlahir dari keluarga kaya hingga tak perlu berpikir rumit sampai kesana. Tinggal jalani saja alur pernikahan yang telah di bangun. Bisa di bilang, mereka hanya mengharap uang dari orang tua.
Deringan ponsel milik Bianca, mampu menyita perhatian Agam yang masih sibuk belajar itu. Setelah Agam melihat siapakah si penelepon, rupanya Bunda Bianca, yakni Alena.
Agam mengangkatnya dan sempat mengobrol sebentar dengan Alena beserta Rendra di balik telepon, namun mereka mencari Bianca dan ingin berbicara dengan anak mereka tersebut, terpaksa Agam membangunkan Bianca yang sedang tertidur nyenyak di tempat tidur.
Agam menyingkirkan helaian rambut Bianca yang sedikit menutupi wajahnya, kebelakang telinga, lalu berbisik di dekat telinga Bianca. "Sayang.. Sayang.."
"Eumm.." Bianca menggeliat kecil, Agam mengecupnya di pipi, "Bangun bentar, ada Bunda sama Ayah nelepon, mereka pengen bicara sama lo, katanya lo rindu kan sama mereka?"
Netra Bianca terbuka sayup-sayup, menyesuaikan cahaya lampu kamar, "Emmm" muka bantal Bianca nampak jelas sekali, Agam mengusap pipinya dan menyerahkan ponsel Bianca kepada pemiliknya.
Bianca bersandar di kepala ranjang sambil mengucek matanya. "Hallo Bunda, Ayah.."
"Hallo Bia.. gimana kabar kamu?" Suara Alena terdengar dari seberang sana.
"Hmm, Bia baik-baik aja, kalo Bunda, sama Ayah gimana?"
"Baik juga.."
__ADS_1
"Gimana Bia? Agam memperlakukan kamu dengan baik?" Kali ini adalah suara Rendra, untuk memastikan apakah suami Bianca memperlakukan anaknya itu dengan baik atau tidak, kalau saja ada keluhan sedikit saja dari Bianca, dia bersumpah akan membalasnya lebih dari pada itu dan membawa Bianca pergi bersama mereka.
Mendengar pertanyaan yang terlontar dari Ayahnya, Bianca menoleh pada Agam yang persis di sampingnya sambil merangkul bahunya. "Dia perlakuin Bia dengan baik Yah, bahkan hampir semua pekerjaan rumah tangga, dia yang ngerjain, Bia ngerasa gak berguna sebagai istri.."
"Hey, kok ngomong gitu sih?" tegur Agam, bagaimana bisa Bianca berpikiran seperti itu. Padahal, dia hanya tak ingin istrinya, terlalu kecapekan.
Rendra dan Alena terkekeh mendengar keluhan Bianca.
"Sepertinya kamu dapetin pembantu gratis.." Kata Alena.
"Bukannya itu bagus? kamu gak perlu ke lelahan ngurusin berbagai kerjaan rumah tangga kalo gitu." Rendra yang berucap. Beliau lega mendengarnya. Ternyata Agam memang bisa di andalkan untuk mengurus dan menjaga anaknya.
Bianca memberengut sebal. "Bagus dari mananya Yah, malahan Bia ngerasa gak berguna jadi istri."
"Gak usah ngerasa gitu, lagian Agam juga ngelakuin itu supaya kamu gak terlalu capek. Ngurus semua pekerjaan rumah tangga itu gak gampang Bia.. butuh ekstra tenaga yang lebih."
Mereka berbincang-bincang cukup lama, Agam jarang berbicara, kadang ikut nimbrung kala percakapan mereka berkaitan dengan dirinya, kadang juga ia diam, mendengar obrolan mereka. Bianca melospek panggilan, agar Agam juga ikut mendengar suara Alena dan Rendra.
"Oh iya, Bia! ada kabar baik buat kamu!!" Celetuk Alena mendadak semangat beberapa derajat dari sebelumnya. Membuat Bianca dan Agam saling pandang mendengar katanya ada kabar baik.
"Apa Bun?" Bianca bertanya.
"Kamu bakal punya, adek!!"
"Hah, adek?" Bianca membeo, pikiran itu sudah terlintas di kepalanya, tapi segera ia tepis, karena dia tak ingin dengan kenyataan ini.
__ADS_1
Alena mengangguk semangat, Hendra mengusap pelipisnya pelan. "Bunda kamu lagi hamil, Bia." Beritahu Hendra kepada Bianca.
Bianca terdiam sesaat mendengar kabar buruk itu, "Kok Bunda bisa hamil sih?!!" tukasnya tak suka. Berarti, dia tak akan menjadi anak tunggal lagi, dan kasih sayang Ayah dan Bunda kepadanya akan terbagi kepada Adiknya juga. "Kalian ke Amerika beneran untuk perusahaan atau cuma bulan madu?! bisa-bisanya bikin Adek buat Bia!! gak-gak! Bia gak bisa terima ini!!" omelnya kesal. Raut wajahnya sudah masam. Agam hanya mengulum tawa pelan melihatnya.
"Loh? Emang Bia gak seneng bakalan punya Adek?" Tanya Alena.
"Seneng dari mananya?! ntar Bunda dan Ayah gak bakalan sayang lagi sam Bia, kalo Bia punya Adek!! pokoknya Bia gak mau punya Adek, titik!!"
Segera Bianca memutuskan panggilan secara sepihak karena tidak terima mendapat kabar itu. Kabar baik apaan? itu tidak lebih hanya lah kabar buruk untuknya.
"Hey? kok panggilannya di tutup?" tanya Agam.
"Ih, Bia kesel Kak!! Masa Bunda dan Ayah tega buatin Bia, Adek! padahal Bia cuma ingin jadi anak satu-satunya Bunda dan Ayah!" Bianca bersidekap dada sambil memasang mimik cemberut. Beberapa kali ponsel Bianca berbunyi, merupakan telepon dari Alena dan Rendra namun Bianca terus-menerus menolak panggilan dari mereka.
Bianca mengalihkan posisinya jadi berbaring di bantal sambil bergelung dengan selimutnya sampai menutupi kepalanya. Agam ikut bergabung dengannya sambil memeluknya layaknya guling. Keduanya terbalut di dalam selimut tebal tersebut.
"Gimana, kita juga buatin cucu buat Ayah dan Bunda?" usul Agam berbisik. Bibirnya sudah menyentuh daun telinga Bianca.
"Jangan ngadi-ngadi deh!" Bianca menahan napas ketika tangan Agam sudah merambat ke pahanya, mengelusnya sensual di sana.
"Pengen.." Agam berbisik lagi, kali ini suara terdengar lebih berat dari yang tadi.
"Kakak!! Bia, lagi dateng bulan!!" pekik Bianca saat tangan Agam sudah mulai menelusup masuk.
"S.h.i.t!!" Agam melupakan itu.
__ADS_1
TBC.