Married With Ketos

Married With Ketos
Di culik?


__ADS_3

"Zella? katanya lo bakalan beli hadiah buat mama lo, kok sampe nyasar ke rumah kosong, kaya gini?"


Bianca celingukan ke sekeliling, di sini sangat sepi, tidak ada siapa pun, hanya dirinya dan Zella yang baru datang ke area ini.


"Bego." celetuk Zella.


Kening Bianca tertekuk mendengar itu, "Bego? siapa?" tanyanya sambil menoleh pada Zella.


Zella langsung menata rautnya, dari yang awalnya sinis menjadi seperti yang biasanya. "Enggak. Maksud aku, akunya yang bego, aku salah alamat."


"Masa sih?"


Lengkungan seringaian itu terbit di bibir Zella kala melihat seseorang berpakaian serba hitam, tiba tepat di belakang Bianca tengah membawa balok kayu.


Brukkkk


Kepala Bianca berkunang-kunang sesaat di hantaman balok kayu itu dengan kuat mengenai kepalanya. Tubuhnya oleng beberapa saat lalu tumbang tak sadarkan diri.


***


Sherly meraih ponselnya yang berada di atas kasur karena benda tersebut berbunyi, sambil satu tangannya menggosok handuk di rambutnya yang basah karena baru habis menyelesaikan agenda rutinitasnya, dia duduk di tepi kasur, kemudian mengangkat pemanggil dari nomor yang tidak di kenali-nya tersebut.


"Hallo?"

__ADS_1


"Apa ini atas nama Sherly? anak dari pasien atas nama Ibu Irma?"


"Iya, saya sendiri." Sherly masih santai mengusap handuk di surai nya, namun ketika mendengar perkataan dari lewat telepon itu "Ibu Anda---" membuat gerakannya itu terhenti seketika. Jantungnya terasa berhenti bekerja detik itu juga, otaknya ngeblank untuk sesaat mendengar kabar yang membuatnya runtuh.


Tuk


Ponsel dan handuknya telah jatuh kelantai tanpa ia sadari, Sherly menggelengkan kepalanya nanar menepis semua kenyataan. Air matanya telah luruh tanpa di minta. "Enggak!! gak mungkin."


Hidupnya telah hancur total. Tujuan hidupnya---telah pergi untuk selamanya.


***


Agam berjalan mondar-mandir di teras rumah, dengan suasana hati yang kalut, kecemasan yang teramat menguasainya. Bagaiman tidak? sudah pukul 08:12 Bianca belum juga pulang. Sore tadi, Bianca berkata akan pergi bersama Zella untuk menemani gadis itu membeli hadiah untuk Mama-nya. Tapi sampai sekarang, Bianca belum juga pulang.


Agam pun tak lupa menghubungi Tasya menggunakan ponsel Bianca untuk menanyakan, mungkin saja gadis itu bersama istrinya. Namun, hasilnya nihil. Bianca tidak bersama Tasya. Yang artinya, Bianca hanya sedang bersama Zella.


Sedari tadi, batin Agam tidak bisa tenang, pikirannya selalu di penuhi oleh pertanyaan-pertanyaan risau, Bianca ke mana? apakah dia baik-baik saja? kenapa sampai sekarang belum pulang? apakah ada yang terjadi dengan istrinya?


Untuk menenangkan perasaannya yang campur aduk, Agam yang sudah pergi ke arah ruangan itu, mengambil segelas air bening, dan meneguknya dengan tangan yang bergetar. Takut, panik, gelisah, kalut segala ke resahan tercampur aduk di relung Agam.


Plangggg


'Bi, lo kemana?' batinnya, bersamaan dengan gelas yang jatuh dari tangannya. Firasatnya tidak enak.

__ADS_1


Drrrttttt


Di tengah kegundahan Agam, tiba-tiba ponselnya bergetar, Agam yang mengira itu adalah panggilan dari istrinya bergerak cepat langsung memeriksa ponselnya, dan saat melihatnya, telepon itu dari panggilan yang tak di kenal. Raut berharap Agam kini tergantikan dengan garis wajah bingung. Namun tak urung, ia tetap mengangkatnya.


"Hallo?"


"Hmmphhh" Samuel melepas kasar lakban yang menutupi mulut Bianca sampai membuat sang empu meringis pelan, "Kak.. tolongin Bia..."


"Hallo? Bi? lo di mana?" Agam sangat panik mendengar suara Bianca yang tengah menangis.


"Hiksss. Bia.. Bia di seka---" Samuel sudah membawa sedikit lebih jauh ponselnya dari Bianca.


"Hallo?" Agam melihat sebentar apakah panggilannya terputus atau masih terhubung di layar ponselnya, kemudian kembali menempelkan benda pipi itu di telinganya.


"Lo, udah denger tadi suara istri kesayangan, lo?"


"Lo apain Bia?!!" Nada suara Agam meninggi, hanya kekehan sinis terdengar dari seberang sana membuat Agam menggeram tertahan.


"Lo, siapa anjing!!! atas dasar apa lo nyulik Bia?!!!" Rahang Agam mengeras tersulut emosi, seingatnya istrinya tidak pernah melakukan kesalahan apa pun. "Heh slow men, gue gak bakal ngapa-ngapain istri lo, tapi--sebagai gantinya datang di sini."


"Sebutin tempat lo sekarang juga!!!" Agam tidak ingin banyak basa-basi.


"Gue, kirim lewat pesan."

__ADS_1


***


__ADS_2