Married With Ketos

Married With Ketos
Extra part 04


__ADS_3

"Bi?! dasi aku mana?!" Agam mengobrak-abrik isi lemari mencari-cari letak dasinya dimana, perasaan ia meletakannya disini agar tak sulit mencari namun ia tak menemukannya dimana-mana.


"Kamu taruhnya dimana?" tanya Bianca. Saat ini ia sedang menggendong baby Altezza.


"Disini Bi!! tapi kok gak ada?!"


"Kalo disitu yah berarti disitu, kamunya aja carinya gak bener."


"Udah bener kok Bi, tapi memang gak ada disini!!"


Agam sudah mulai menyerah, ia telah rapi dengan pakaian formalnya, tapi dasinya belum ada jadi pelengkap karena hilang bagaikan ditelan bumi, jika sudah seperti ini, Agam tak ada cara lain selain hanya mengeluh pada Bianca.


Bianca membuang napas cukup besar, masih pagi, Agam sudah benar-benar merepotkan, semalam ia kurang tidur karena Altezza terus menangis, jika ada nanti yang mau mengadopsi Agam, dengan ikhlas sepenuh jiwa dan raganya, Bianca akan memberinya dengan gratis.


Bianca meletakkan Putra kecilnya dipermukaan kasur agar ia dapat turun tangan atas problem yang dialami Agam di pagi hari. Padahal, hanya perihal dasi.


"Awas! biar aku yang nyari! kalo ketemu, tidur diluar malam ini!" Bianca mendorong sisi tubuh Agam dari muka lemari agar ia memiliki akses.


"Yaudah coba cari! orang beneran, gak ada!" sungut Agam. Kini giliran Bianca yang menggantikan Agam mengobrak-abrik isi lemari.


"Ini apa?!!" Memasang wajah yang seakan ingin menguliti Agam hidup-hidup, Bianca mengangkat dasi yang terselip diantara lautan baju kehadapan Agam.


Agam menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. "A-anu.. tadi itu beneran gak ada Bi.."


"Sudahlah! malam ini gak mau tahu pokoknya kamu tidur diluar!" Bianca melempar dasi itu dengan geram, untung Agam sigap menangkapnya, kalang kabut ia menyusul Bianca menuju ranjang. Agam akan mencoba untuk kembali bernegosiasi, agar nasibnya bisa terselamatkan untuk malam ini.


"Bi.. jangan dong ih, tega banget jadi Istri, aku gak bisa tidur tanpa guling bernyawa, Bia.."


"Bodo amat!!"


*****


Oeekkk...Oeeekk..Oeeekk...


"Ezza mau apa hmm? kan udah dikasih ASI, kok nangis terus sih? ssst diam ya sayang.."


Bianca mencoba menenangkan baby Altezza yang rewel terus tak mau berhenti menangis, lama-kelamaan, Bianca akan ikut-ikutan menangis bersama Altezza karena sudah mulai lelah.


"Ezza, udah ya nangisnya? Mama capek tahu, biarin Mama istirahat sebentar saja, tadi malem Mama gak bisa tidur gara-gara Ezza nangis, jadi untuk sekarang, biarin Mama tidur untuk istirahat.."


Bianca menimang-nimang Altezza dalam gendongannya sambil tak menyerah untuk menenangkan bayi Altezza yang tak bisa diam.


"Ssstttt udahan nangisnya sayang.."


Oeekk...Oeekk...Oeekk..


"Sudahlah! nangis aja udah! gak peduli lagi gue!"


Bianca jadi muak sendiri karena tak berhasil menenangkan bayi itu, ia meletakkan Altezza dipermukaan kasur lalu memijat keningnya, ia merasa pening karena kurang tidur, dipinggiran matanya sudah dilingkari hitam-hitam seperti panda, padahal belum genap seminggu ia mengurus Altezza, tapi ia sudah merasa penat sekali.

__ADS_1


Ceklek.


Perhatiannya terpusat kearah pintu dimana ada Agam yang membuka daun pintu, ia baru saja pulang dari perusahaan, Bianca pun tak kuasa menahan tangisnya. Kedua sudut bibirnya melengkung kebawah. "Hikss Kak.."


"Loh? kenapa Bi?!" Belum sempat Agam menukar pakaian kerjanya, ia hanya melonggarkan dasi yang bertenggar di kerah kemejanya lekas menghampiri Bianca, tangan kekarnya menggapai punggung Bianca membawanya untuk didekap.


"Istrinya Agam kenapa nangis hmm?"


"Capek Kak, capek ngurus Ezza.. dia nangis terus.." Adunya dengan suara parau. Agam melirik Altezza yang sedang menangis sambil menggeliat dibagian ranjang.


Agam kemudian melepas pelukan agar dapat menatap Bianca, ia membelai sayang permukaan rambut Sang Istri, "Gak boleh ngomong gitu lagi ya? biar gimana pun Ezza Putra kita.. capek boleh asal jangan ngomong kaya gitu, aku gak suka."


Ia menoleh hidung mungil istrinya sebelum menghapus jejak-jejak air mata yang mengalir seperti air sungai di pipi Bianca. "Lagian kan ada pelayan, kenapa gak suruh pelayan aja sih yang ngurus Ezza?"


"Gak mau! aku kan Mamanya! jadi, harus aku yang ngurus.. aku takut kalo besar nanti Ezza malah lebih sayang sama pelayan yang ngasuh dia ketimbang aku, masa aku yang Mama kandungnya kalah sama pelayan?" Bianca menggerutu sambil sambil mengucek-ngucek matanya yang sembab.


"Yaudah kalo gitu gak usah nangis, ya? sekarang kamu istirahat, soal Ezza serahin ke aku sekarang."


Agam mengambil alih Altezza dengan membawanya kedalam gendongannya menggantikan sang Istri, ia berdiri mondar-mandir seraya menimang-nimang Altezza.


"Cup-cup-cup.. udah, jangan nangis lagi baby Za.. Ezza gak kasian sama Mama? dia capek loh ngurus Ezza yang rewel kayak gini. Jangan sering-sering rewel ya? biar Mama gak kesulitan.." bujukan Agam seperti sihir yang efektif membuat tangis Altezza perlahan mulai surut.


"Sepertinya Ezza pilih kasih, Kak. Lihat saja, kalo sama kamu, dia mau langsung diem, sama aku sukanya nangis terus." Celetuk Bianca yang sudah berbaring menyamping mengarah pada Ayah dan anak tersebut.


Agam terkekeh lucu mendengar ucapan Bianca, ia mendudukkan bokongnya diatas ranjang bersama dengan Bianca. Satu tangannya ia gunakan untuk mengusap-ngusap sisi kepala Bianca. "Tidur Bi, semalam kamu kurang tidur. Soal Ezza, gak perlu khawatir, serahin saja ke aku."


Bianca menggunakan lengan sebagi alas lalu dalam kesadaran yang mulai berkurang, pemandangan selanjutnya yang ia tonton adalah cara Agam berinteraksi dengan Putra mereka, ia merasakan kehangatan melihat mereka berdua.


Berangsur-angsur Bianca tak dapat lagi menopang kelopak matanya yang detik demi detik berjalannya waktu semakin memberat kemudian perlahan tapi pasti, dunia hitam pun mulai menyapanya.


Agam tersenyum teduh mendapati Ibu dari anak-anaknya telah tenggelam kedalam lautan mimpi, ia meletakkan Ezza disisi Bianca, telunjuknya diletakannya di bibirnya sendiri memberi sinyal bayi yang belum mengerti apa-apa itu agar tak berisik. "Bidadarinya kita lagi tidur, Ezza jangan ribut lagi ya? biar Mama gak terganggu tidurnya.."


*****


"Sayang, bangun sayang.. makan malam dulu.."


Suara berat yang begitu lembut memanggilnya dipadu dengan elusan halus di pipinya, dapat mengusik tidur nyenyak Bianca. Ia menggeliat lebar-lebar sambil meregangkan otot-otot-nya.


"Udah jam berapa, Kak?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur. Agam masih duduk disisinya, menunggu Bianca mengumpulkan nyawanya hingga full.


"Malam sudah larut, kata pelayan, kamu belum makan dari siang. Sekarang kamu cuci muka dulu terus kebawah, atau aku bawain kesini aja makanannya? biar kamu gak capek turun kebawah lagi."


"Ezza mana?" tanya Bianca lagi, yang tertera dipikirkannya baru bangun tidur hanya putra kecilnya yang ia tinggalkan tidur.


"Lagi tidur Bia..." Agam menarik kedua tangannya untuk membantunya bangun dari tidurannya. "Makan dulu, ya?"


Mendengar perintah dari Agam yang mengenai makan, Bianca jadi memegangi perutnya yang terasa keroncongan, malangnya nasib cacing-cacing diperutnya yang sudah demo meminta diisi, mendadak ia teringat jika dirinya tak mengonsumsi sesuap nasi pun dari siang tadi, hanya sarapan di pagi hari saja.


Usai pertimbangan pendek, Bianca pun akhirnya mengangguk berhubung ia lapar dan perlu mengisi perutnya yang terasa kosong. Tak lupa Bianca pergi kedalam mandi untuk membasuh wajahnya agar lebih segar.

__ADS_1


Setelah itu ia turun bersama Agam, tiba diarea dapur, tak ada tanda-tanda para pelayan disana karena jam segini mereka sudah tidur atau ada juga yang pulang ke rumah masing-masing bagi yang jaraknya masih dapat ditempuh dalam waktu menitan dengan alat transportasi.


Agam menata banyak jenis makanan mewah diatas meja. Makanan yang sempat ia perintahkan pada pelayan tadi sebelum istirahat untuk memanaskan hidangan tersebut karena teringat Bianca yang belum makan.


Bianca duduk bersiap akan menyantap makanan usai Agam menyajikannya. Agam juga mengambil tempat duduk di samping Bianca hanya untuk menemaninya makan, ia sudah kenyang makan malam duluan tadi saat Bianca sedang tidur.


"Mau makan sendiri atau aku suapin?"


"Makan sendiri aja."


Agam hanya mengangguk-anggukan kepala, beberapa menit hanya dentingan sendok mengenai piring yang menghiasi ruangan makan itu, Bianca yang sibuk melahap makanan, sedangkan Agam yang mengamati aktivitas Bianca.


Cukup lama dalam situasi tersebut, sebelum akhirnya atensi mereka tersita kearah Cantika yang memasuki area dapur lantas melintasi mereka berdua.


"Tika? kamu ngapain?" tanya Bianca memperhatikan gerak-gerik Cantika yang akan menuju kulkas.


Cantika menyahut cukup singkat dan seadanya, "Ambil minum." Cantika mengambil gelas teko yang berisi air dingin dari dalam kulkas, ia membawanya menuju keatas, persediaan airnya telah habis, Cantika kebiasaan menyimpan air didalam kamar untuk diminumnya kala sewaktu-waktu ia merasa haus di tengah malam.


Sepeninggalan Cantika, ponsel Agam yang tergeletak di atas meja makan tiba-tiba berdering tanda ada seseorang yang menghubunginya. Tanpa mau membiarkan benda itu berbunyi lama, Agam lekas mengangkatnya.


"Mister?" Gerakan Bianca yang akan menyuapkan makanan kesekian kali kemulutnya terjeda begitu mendengar suara perempuan yang terdengar halus dan manis dari seberang sana.


"Hm? ada apa menghubungiku malam-malam begini?" Tumben sekali Agam menggunakan kalimat yang cukup panjang, bukannya Bianca tak percaya dengan Agam, tapi sebagai seorang Istri, tak ada salahnya ia berpikiran negatif, dimana-mana sosok Istri akan cemburu apabila Suaminya berhubungan dengan perempuan lain.


"Begini Mister, hari ini Mister sudah bekerja keras, pasti Mister capek kerja seharian, jadi Mister sekarang lagi apa? apakah sudah makan?"


Agam berdecak kesal, wajahnya mengerut tak senang. "Jika bukan mengenai pekerjaan, jangan pernah menghubungiku."


Agam mematikan sambungan panggilan secara sepihak, terus terang ia sangat risih dengan orang yang menghubunginya jika bukan berkaitan dengan pekerjaan, terlebih orang itu adalah berjenis perempuan.


"Siapa?" tanya Bianca mendadak penasaran, ia kurang tahu mengenai kondisi perkantoran karena Agam melarangnya ini itu, tak terkecuali dengan urusan pekerjaan.


"Sekretaris aku, Bi.. dia hubungin aku hanya nanya hal-hal yang gak guna."


"Perempuan?" Bianca jadi memutar otak, ia menflashback pikirannya yang bagai kaset rusak terbayang di benaknya, jauh sebelum melahirkan ia pernah beberapa kali mengunjungi perusahaan Arbyshaka hanya untuk ketemu sekaligus membawakan bekal untuk Agam, disana ia sering mendapati Agam bersama dengan perempuan itu. Ia kira, Agam tak akan mempertahankan sekretaris tersebut lebih lama karena terlihat ganjen kepada Agam, tapi malah sampai sekarang?


Setelah mendapat anggukkan lesu dari Agam, Bianca meletakkan sendok yang ia gunakan makan dengan kasar. "Aku sudah kenyang." ujarnya dingin, ia berlalu meninggalkan Agam keatas usai menyempatkan diri untuk minum segelas air.


Agam hanya menatap punggungnya yang perlahan menjauh dari area dapur tanpa sepatah kata, ia tahu Bianca marah, namun berbicara mengenai sekretaris, Agam tak bisa berbuat apa-apa karena itu menyangkut pekerjaan.


Ia tak ada alasan untuk memecatnya sebab orang itu adalah salah satu ajudan kepercayaan Agam, merupakan sekretaris yang handal, kinerjanya pun kompeten dan bagus, serta belum ada juga calon yang dapat menggantikannya.


*****


Welcome konflik couple Agabi (Agam dan Bianca) rumah tangga mereka terlalu berjalan mulus selama ini, di hadirin pelakor yang bikin reader naik darah, seru nih kayaknya😭🤣👍


Yang udah hapus novel ini dari rak favorit sedikit disayangkan karena aku akan buat banyak extra part dan menambahkan sedikit konflik biar gak membosankan...


Tapi tenang saja, konfliknya gak bakal berat-berat amat, soalnya saya selaku Author perempuan hanya ingin membuat karakter cowok-cowok idaman yang gak akan mungkin ditemukan di dunia nyata😭

__ADS_1


__ADS_2