Married With Ketos

Married With Ketos
Pewaris


__ADS_3

Di malam hari, Agam setia menemani Cantika di kamar rawatnya. Berbagai pemikiran yang menumpuk di kepala Agam, bagaimana kalau Cantika sudah sadar dan mencari keberadaan Papanya. Apa yang harus ia katakan?


Haruskah ia menyampaikan kalau Papanya telah meninggal dunia? bagaimana reaksi Cantika? sudah pasti ia akan amat terpukul.


"Kak? Bia mau ke kantin, Kakak gak mau ikut?" Ajakan Bianca membuyarkan segala pergolakan batin Agam, ia menoleh dan menemukan Bianca di depan pintu. Sedetik kemudian ia memberikan gelengan lemahnya, manik matanya terlihat sendu. "Aku mau nemenin Tika.."


"Iya nemenin Tika juga butuh tenaga Kak.." Bianca mendekati Agam, dan menarik tangannya secara paksa untuk berdiri, "Kakak harus makan, dari pagi Kakak belum makan.." ujarnya halus.


Sekali lagi Agam melirik Cantika yang terperban kedua matanya ia masih belum sadarkan diri sejak kemarin pasca operasi keratoplasti. "Tapi---"


"Betul kata Bia.. kalau kamu mau jagain Cantika harus makan dulu biar ada sedikit tenaga nya.." bujuk Alena dari sofa dekat hospital bad yang di tiduri Cantika.


Rendra turut mengangguk setuju. "Kamu laki-laki, jadi gak boleh lemah.." Beliau berdiri melangkah menghampiri Agam dan menepuk kuat pundak anak menantunya tersebut untuk memberinya semangat, "Kalo kamu gini terus, bisa-bisa aku akan bawa pergi Putriku bersamaku. Aku gak bisa ninggalin anak aku sama laki-laki lemah.."


"Jangan, Ayah!" Cegahnya cepat. Ia menggenggam tangan Bianca dengan pandangan menuju Rendra, "Jangan bawa Bia pergi dari sisi Agam. Agam hanya punya Bia sama Tika lagi."

__ADS_1


Rendra manggut-manggut. "Iya makanya kamu harus kuat biar bisa ngurus Cantika sama Putriku..juga---kamu masih punya tanggung jawab besar." Rendra memegangi kedua bahu Agam dengan vibes yang makin serius. "Gam, Bastian gak ada keturunan laki-laki yang bisa meneruskan perusahaannya, jadi---yang akan mewarisi tahta perusahaan besar Arbyshaka itu tidak lain hanya kamu! jadi kamu harus kuat karena masih banyak beban yang harus kamu pikul kedepan."


"Tapi--Agam gak ada hak untuk itu.. Agam hanya anak pung--"


Agam dan Rendra saling bertatapan serius dan Rendra berbicara memotong ucapan Agam barusan. "Gam dengarin aku!! aku pernah lihat di surat wasiat milik Bastian, di sana tertera nama kamu yang dia jadikan sebagai ahli waris. Bukan orang lain!! selama ini, dia sudah anggap kamu sebagai anak kandung. Dan kalau kamu merasa tidak enak hati, maka rawatlah Cantika dengan baik sebagai imbalannya."


Sementara lain Alena dan Bianca yang sudah duduk bersama Alena hanya menonton mereka.


Bergeming untuk sesaat, kemudian akhrinya Agam mengangguk mantap, berulang kali tepukan Rendra mendarat di bahunya lagi sebelum ia menarik diri dengan perasaan melega, "Bia, sana. Ajak suami kamu makan. Urusan Tika kami yang jaga untuk malam ini" pintanya menghampiri Alena.


"Hmm, gimana kita keluar?" Agam memamerkan senyum cerah lalu menular kepada Bianca, mereka terlihat seperti pasangan remaja yang tengah kasmaran.


"Oke!!" seru Bianca seraya berjalan keluar dari kamar rawat Cantika. Rendra dan Alena hanya menyaksikan saja sampai punggung mereka menghilang dari balik pintu, Alena memeluk lengan Rendra dan menyandarkan kepalanya di bahu Rendra yang menggenggam tangannya. "Liat mereka, jadi ingin kembali ke masa mudah lagi." Celetuk Alena.


"Ck jangan ah, banyak yang naksir sama kamu." Pukulan main-main dari Alena melayang mulus di lengan kekar Rendra.

__ADS_1


Alena mencebik bibir, "Bilang doang.. padahal pacar di mana-mana. Dasar playboy! tiga kali di selingkuhin tiga kali juga di maafin terus janji gak bakal di ulangi malah ujung-ujungnya di ingkari! untung aku sabar.." sindirnya.


"Iyakan sama mereka hanya main-main, sama kamu doang yang serius mah.." sanggahnya membela diri. Mereka kembali bernostalgia di dunia masa mudah mereka.


"Heh omong kosong!" damprat Alena yang tidak di respon lagi oleh Rendra agar tidak mengakibatkan adu mulut, ia malas kalau harus berdebat di sini. Tangan besar Rendra menjalar ke perut Alena. "Baby aman?" tanyanya mengalihkan topik.


"Aman-aman bae." Tatapan Alena turun jatuh kepada Rendra yang menempelkan daun telinganya di perutnya yang belum terlalu besar.


"Dia gak ke pengen apa-apa gitu? ntar aku yang penuhin."


"Gak ada, dia gak rewel." Rendra mengangguk-anggukkan kepala, anak kedua mereka yang tengah di kandung Alena berbeda jauh dari saat mengandung Bianca, sangat sangat rewel sekali. Bahkan Rendra saja kewalahan menuruti keinginan Alena yang kebanyakan di luar akal sehat.


Menyuruhnya bergelantungan di pohon mangga lah, sampai menitahkan dirinya untuk bunuh diri. Lihat Rendra nafas saja Alena menangis sampai mencakar-cakar wajah gantengnya. Yang paling bikin Rendra tidak bisa berkutik itu di saat Alena ngidam telur cicak. Gak aesthetic banget kan?


***

__ADS_1


Next?


__ADS_2