Married With Ketos

Married With Ketos
EPISODE 41 BERAKHIR


__ADS_3

MIKA masih dapat bertahan walau nyatanya Arga sudah menghilang sejak seminggu yang lalu. Ia bahkan terus menyibukkan diri dengan kepanitiaan yang ia ikuti atau mengikuti UKM yang lumayan menyita Perhatian agar waktunya tak selalu tentang Arga


" Lo udah hubungin buat Pembawa acaranya, kan,” tanya Mona. si ketua Humas.


“Udah, Kak. Tapi mau datengnya dijemput. Nggak ada kendaraan katanya,” jawab Mika.


Mona mengangguk. “Ya udah, itu masalah gampang,” ujar Mona. “Lo udah hubungin bendahara belum,”


Mika menggeleng.


“Sekarang lo hubungin bendahara. Terus mintain bayaran buat si Pembawa acara. Bilang aja kita yang bakal ngasihin duitnya langsung.”


Mika mengangguk Paham. “Oke, Kak. Kalau gitu, saya ke bendahara dulu.”


Mona mengangguk lalu kembali mengamati berkas berkas yang ada di hadapannya. Kemudian Mika berlalu dari hadapan Mona dan melihat ke sekeliling ruangan untuk mencari bendahara. Dan ketika Mika menangkap siluetnya, tak menunggu waktu lama ia lantas menghampirinya.


“Kak, boleh ngomong,” tanya Mika.


Si Bendahara mendongak. “Eh iya, kamu divisi apa,”


“Saya divisi humas, Kak.”


Si Bendahara mengangguk.


“Ada Perlu apa,”


“Gini Kak, saya disuruh Kak Mona buat minta dana buat bayar Pembawa acara. Soalnya nanti yang bakal ngasihinnya dari Humas langsung.”


Icha Bendahara mengangguk anggukkan kepalanya tanda menyimak. “Boleh deh.” Lalu ia merogoh amplop yang ada di dalam ranselnya. “Nih, ntar kalian berarti langsung kasihin aja ya. Nggak usah ada konfirmasi lagi.”


Mika menerima amplop tersebut.


“Oke, Kak. Makasih.”

__ADS_1


Mika berlalu dari situ dan kembali menghampiri Mona. “Nih Kak, kata Kak Icha nanti Nggak usah konfirmasi lagi.”


Mona mengambil amplop tersebut.


" Ya Udah kerja lo hari ini udah beres. Lo boleh Pulang. Tapi inget besok jangan lupa dateng. Ntar yang ada lo udah capek sana sini Pas hari H nya malah Nggak dateng.”


Mika tersenyum. “Pasti, Kak.”


“Kalau gitu saya duluan, Kak,” Pamit Mika.


Mona mengangguk. Mika meraih ranselnya lalu menyampirkan di bahunya. Kemudian ia mulai melangkah keluar dari ruang rapat.


“Lo mau Pulang,” Tiba-tiba suara dari arah samping mengagetkannya.


Mika sontak menoleh. “Eh, iya, Kak.”


“Gue anter.”


Aldi menghela napas. “Ya Udah ati-ati.”


Mika mengangguk. “Saya duluan.”


Mika kembali melanjutkan langkahnya. Untuk menemani kesepiannya, ia merogoh handphone yang ada di saku celananya. Namun nampaknya itu adalah sebuah kesalahan terbesarnya. Sebab saat ia membuka lock handphone nya, yang terpampang di sana adalah foto Arga. Mika memejamkan matanya. Ia masih bisa bertahan walau nyatanya tak ada kabar dari Arga seminggu ini.


Mika memutuskan Pulang dengan menaiki angkot. Alasannya cuma satu, biar dia lama sampai.


Dan rencananya gagal total karena angkot yang dinaikinya hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai ke rumahnya, seolah alam juga mendukung untuk membuatnya berlarut dalam kesedihan. Saat sudah sampai di rumah, Mika tak tahu harus melakukan apa. Rasanya ia hanya ingin memejamkan matanya dan terbangun besok Pagi. Atau jika bisa, ia ingin langsung men-skip malam ini.


Setelah sampai di kamar, Mika kembali terdiam. Lama-lama kesunyian ini membunuhnya secara Perlahan. Mika kembali mengeluarkan handphone-nya. Ia berencana menghubungi teman-temannya, siapa tahu mood-nya kembali lagi.


Orang Pertama yang akan Mika hubungi adalah Satya.


“Hallo,” sapa suara di ujung sana.

__ADS_1


“Lagi apa lu,”


“Be, entaran dulu ya gue lagi ada kelas,” bisik Satya sepelan mungkin.


Mika tersenyum kecut. “Oke.”


Mika menghela napas. Lalu yang kedua adalah Raina.


Sampai Panggilan kelima, Raina tidak dapat dihubungi. Mungkin ia juga sibuk. Lalu ia beralih ke kontak Firdan.


“Hallo,” ujar Firdan.


“Lagi apa lu,”


“Mik, Gue matiin dulu ya teleponnya. Ini gue lagi kuis, hapenya lagi gue Pake buat searching,” bisiknya.


Mika berdecak. “Kebiasaan lu.”


Mika menghela napas. Tak mungkin ia menelepon Ibay. Diakan sedang akademi militer, Pasti dilarang membawa handphone.


Maka yang terakhir, ia akan menghubungi Sela.


“Hallo,” ujar Sela.


“Lagi Ngapain lu,”


“Mik, bentar, gue matiin dulu ya. Gue lagi rapat, entar gue telepon lagi kalau udah beres.”


“Oke.”


Mika lagi-lagi menghela napasnya. Pada akhirnya, ia hanya seorang diri di sini. Jarak memang kejam, begitu saja menenggelamkan semua kenangan.


...•••••...

__ADS_1


__ADS_2