
Kecepatan kendaraan Agam memelan. Padahal dalam perjalanan ke mansion Ayahnya, jalanan tidak padat seperti ini, tapi mengapa pas balik menjadi macet hingga banyak kendaraan yang terjebak dan berdesak-desak kan.
Lalu di depan sana terlihat tidak hanya dua tiga oleh polisi dan juga banyak warga. Agam membuka kaca helmnya dan bertanya kepada bapak yang menghentikan kendaraan motor di sampingnya. "Pak? apa yang terjadi di depan sana?"
"Oh? kayaknya ada kecelakaan." jawab bapak itu. Pandangan Agam melurus untuk melihatnya, ia mencoba menajamkan indera penglihatan. Ada sebuah mobil yang rinsek di tepi jalan, tapi ada satu yang dapat membuat Agam membatu. Mobil itu nampak familiar.
"Kak? itu kayak mobil Papa.." lirih Bianca yang juga ikut berharap bahwa tidak seperti pemikirannya. Meski di dunia ini bukan hanya Papanya yang memiliki mobil seperti itu, bukan berarti hal tersebut menutup kemungkinan.
'Semoga saja bukan,' Batin Agam dilanda ketakutan luar biasa. Ia menepikan motornya dan turun, begitu pula Bianca. Mereka melanjutkan perjalanan dengan kaki menuju ke TKP. Selama perjalanan, Bianca terlihat tegang dan ketakutan, kedua tangannya panas dingin.
__ADS_1
Setelah melihat lebih dekat nomor plat mobil itu ternyata memang benar milik Ayahnya hingga membuat Agam menjadi ngeblank seketika. Mereka ingin lebih mendekat namun pihak polisi melarang melewati batas.
"Pak?!! itu mobil Papa saya!!" panik Agam hendak menerobos batas pengaman, sialnya ia di hentikan lagi oleh polisi, "Tadi di temukan dompet korban dan terdapat sebuah KTP atas nama Bastian Arbyshaka dan juga seorang anak kecil yang di duga masih duduk di bangku sekolah dasar. Kedua korban telah di larikan ke rumah sakit." ungkapnya.
Agam meraup wajahnya gusar. "Di larikan ke rumah sakit mana?!!" Agam jadi tidak bisa berpikir jernih. Bianca sudah terisak meratapi nasib. Padahal baru saja Agam mendapat kebahagiaan sesaat sekarang giliran musibah besar mengguncangnya hebat. Bianca memeluk lengan Agam dan mengusapnya menenangkan. "Tenang Kak..Mereka pasti akan baik-baik saja."
Setelah Polisi memberitahu alamat rumah sakit, mereka balik menuju motor dan bergegas menuju rumah sakit membela jalanan yang masih sedikit padat.
Luka hebat apa lagi yang semesta berikan kepadanya? belum puas kah selama ini membuatnya tersiksa dengan di tinggalkan oleh kedua malaikat tak bersayapnya. Kesakitan begitu hebat menghantamnya tiada ampun. Agam merasa ia hancur dan runtuh dalam waktu sekejap mata. Saat ini, Agam hanya berharap, Papanya dan Cantika bisa selamat dan akan segera pulih.
__ADS_1
Bastian masih dalam penanganan begitu pula dengan Cantika yang sedang di operasi karena mengalami insiden kecelakaan bersama Ayahnya. Karena itu, Agam bisa menyimpulkan bahwa sepertinya luka yang di alami Cantika lebih fatal dari pada Bastian hingga ia menjalani operasi. Ia tengah duduk di loby rumah sakit seraya mencengkram rambutnya frustasi dan mengalami parno.
Penampilannya jauh dari kata rapi, kaosnya terlihat kusut dan rambutnya berantakan karena tidak henti-hentinya ia jambak melampiaskan stresnya. Ia terlihat sangat kacau, perasaannya campur aduk dan pikirannya berkecamuk.
Sedangkan Bianca hanya melamun dengan tatapan kosong pertanda jika ia tidak kalah shock dari Agam. Sebelumnya, Bianca sempat menghubungi Ayah dan Bundanya yang lagi di Amerika untuk mengabarkan tragedi ini, tapi apa boleh buat. Mereka tidak bisa menjenguk karena jauh dan hanya bisa membantu lewat doa untuk kebaikan mereka.
Pintu ruang operasi terbuka memunculkan seorang dokter yang keluar dengan mengenakan seragam biru di lengkapi masker. Agam dan Bianca segera bangkit berdiri melihatnya dan langsung menghampiri dokter tersebut.
"Gimana Dok? operasinya lancar?"
__ADS_1
Dokter itu membuka masker, "Alhamdulillah lancar." Mereka bisa bernafas lega mendengarnya. Namun ketika mendengar sambungan ucapan dokter itu membuat mereka ibarat tersambar petir. "Tapi sayangnya---mata pasien di tancap oleh banyak beling-beling kaca mobil hingga mengakibatkan Pasien tidak dapat melihat lagi. Seribu kata maaf saya ucapkan karena dalam hal itu, saya tidak bisa berbuat apa-apa."
TBC