Married With Ketos

Married With Ketos
Rawat bayi besar


__ADS_3

Netra Agam menyorot dengan lekat Bianca yang sedang serius sambil menyerocos tanpa henti yang tengah mengobati lukanya. Di mulai dari pelipis sampai sikutnya, Bianca mengolesinya dengan cairan alkohol dengan telaten. Dan selama itu juga Agam setia terus menonton aktivitas Bianca bahkan untuk berkedip pun, Agam enggan, agar tak terlewatkan sedikitpun.


"Nolongin orang ya nolongin orang, tapi harus perhatiin juga diri sendiri, masa yang di tolongin baik-baik saja, malah yang menolong yang cedera." Meskipun mulutnya terus-terusan mengoceh panjang lebar, Bianca tetap mengobati luka Agam. Malahan raut mukanya nampak sangat serius, dia berusaha selembut mungkin mengolesi luka Agam, agar sang empu nya tak merasakan perih.


Selain cara tidurnya, gerak-geriknya, tubuhnya, satu lagi yang menjadi candu Agam, yang sangat teramat. Yakni, wajah serius Bianca yang di padu gurat marah serta di lengkapi raut cemasnya. Dia bertambah berkali-kali lipat lebih imut dan cantik jika sedang begitu.


"Jangan cuma pikirin keadaan orang, pikirin juga diri sendiri!!" Bianca menghentikan dumelan nya kala melihat Agam yang hanya menatapnya wajahnya, tanpa menyimak apa yang ia bicarakan. "Lo denger gak sihh?!!" tukasnya, seraya menekan kapas lebih kuat ke luka Agam karena kesal. Agam pun langsung merintih sakit, "Sshh sakit Bi.."


"Makanya! orang ngomong itu di dengerin!! jangan malah muka orangnya yang di perhatiin!!" Bianca berkacak pinggang serta menampilkan raut garang.


"Jangan salahin gue dong." Celetuk Agam sambil menyentuh luka di sikutnya dengan hati-hati. Dia cemberut, memajukan bibirnya bawanya, terlihat lucu di mata siapa pun yang melihatnya, tapi tidak bagi Bianca. Menyebalkan.


"Terus, siapa yang di salahin?!"


"Lo lah Bi, salah sendiri punya wajah cantik," sungut Agam.


Bianca memutar bola matanya. Lalu meraih plaster untuk ia lekatkan di pelipis dan sikut Agam yang cedera. Di sela kegiatannya  yang sedang menempelkan plaster di luka Agam, ia menyinggung omongan Agam sewaktu di perpustakaan. "Ngomong-ngomong, yang bilang, udah kecil, jelek, bodoh lagi, siapa ya?" Bianca sengaja menekankan di kalimat 'Jelek'


"Becanda doang Bi, becanda.."


Bianca mencebikkan bibirnya, kemudian karena ia telah selesai mengobati luka Agam, ia pun membereskan alat-alat P3K yang ia gunakan, kedalam kotaknya. Dia akhirnya naik menuju keatas untuk menyimpan P3K. Lalu di susul Agam tak lama dari situ.


***


"Bia.." Bianca yang sedang melepas seragamnya tersebut terpaksa harus terhenti, sebab tangan Agam yang telah melingkar di pinggangnya.


"Kenapa?" tanyanya yang tak mendapat tanggapan dari Agam, lelaki itu malah mengendus-ngendus, di mulai dari tengkuk, hingga ke leher bagian samping.


"Kakak.. lepasin dulu ih!" Kesal Bianca, mencoba melepas pelukan tersebut. Sayangnya, Agam malah semakin mengetatkan lilitan lengannya di pinggang Bianca.


"Mandi bareng ayok.."

__ADS_1


"Nggak!! kalo mandi bareng Kakak itu, yang durasinya hanya sepuluh menit malah sampe berjam-jam!" ketus Bianca.


Agam menarik lengan Bianca, untuk ia hadapkan kepadanya. "Janji, mandi doang, gak bakal macem-macem," pungkasnya terlihat meyakinkan. Tapi, Bianca bukanlah orang yang muda di kelabui, dia tahu betul, Agam itu orang yang licik, janjinya begitu, tetapi dia tahu, Agam pasti sudah mempunyai trik tersendiri agar mereka bisa melakukan yang aneh-aneh.


"Enggak! kalo gue bilang enggak--- KAK!" Bianca yang berupaya mendorong tubuh Agam itu, tubuhnya seketika melayang sesaat di angkat oleh Agam dan ia pikul di pundaknya layaknya beras, "KAKAK TURUNIN BIA!!!" Bianca meronta-ronta sambil memukul-mukul punggung Agam, jelas saja Agam tak akan mempedulikannya, lelaki itu membawanya kedalam kamar mandi.


***


Agam menggendong dengan gaya ala bridal style membawa Bianca yang dalam keadaan telanjang bulat, keluar dari kamar mandi. Sedangkan Agam hanya handuk yang melilit pinggangnya. Mereka baru saja selesai mandi, dan tentu saja, tidak yang seperti di janjikan oleh Agam, lelaki itu malah menerkamnya berjam-jam dahulu sebelum melaksanakan ritual mandi, membuat Bianca ke letihan. Sudah penat dari sekolah, di tambah lagi di makan oleh Agam. Nasib..nasib...tenaga Bianca terkuras habis.


Agam nampak merebahkan Bianca yang kelihatan kehabisan tenaga itu keatas ranjang. Setelahnya Agam lantas menegakkan tubuh, lalu dalam beberapa detik, Agam hanya memandangi Bianca yang kini sudah memejamkan mata itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Kedua gunung kembar serta v.agina Bianca masih terekspos sempurna.


Membuat Agam terpaksa meneguk ludahnya dalam melihat tubuh indah istrinya. DAMN!! kenapa tubuh istrinya ini candu sekali! bahkan, si junior sudah bangun lagi! sepertinya, asetnya masih belum puas.


Jitakkan bertubi-tubi Agam daratkan di kepalanya untuk menyadarkan dirinya sendiri. "Sadar bego!! lo gak kasian apa, liat istri lo yang udah tumbang gara-gara lo!!" rutuknya.


"Kak.." lirih Bianca yang baru saja membuka matanya, dia mendapati Agam yang memukul-mukul kepalanya tak jelas. Dia menatap aneh ke arah Agam. "Kenapa Kakak, memukul kepala sendiri?"


Agam mengusap tengkuknya kaku. "Untuk nyadarin gue, agar gak nerkam lo lagi, Bi."


"Salah siapa coba?" cetusnya sambil menuju meja rias, lelaki itu meraih sebotol bedak my baby versi jumbo dari sana, kemudian menuju tempat tidur di mana Bianca yang sedang berbaring.


"Kakak mau ngapain?" Bianca yang hendak bangkit itu, bahunya di tekan oleh Agam, agar kembali terbaring.


"Jangan bangun dulu Bi," pintanya, menahan Bianca yang hendak akan bangun lagi. Bianca memperhatikan Agam yang menuangkan bedak ke tangannya, lalu yang pertama-tama mengusapkannya ke perut Bianca membuat sang empunya cekikikan merasa seperti di gelitik kala tangan Agam dengan lihai menari-nari di permukaan seluruh perutnya.


Tangan Agam terjulur ke wajah Bianca, mengusapkan bedak di seluruh wajahnya, persis seperti bayi yang di pakaikan bedak oleh Ibunya setelah mandi. Agam dengan usilnya menekan-nekan pipi Bianca dengan telapak tangannya.


"Kakak ih!!" Bianca mendadak jadi sebal mendapat perlakuan itu.


"Pipi lo makin hari makin bengkak aja," Agam menoel sebelah pipi Bianca. "Ini juga, perut lo juga gak selansing dulu." Agam mencubit perut Bianca pelan, membuat sang empu terbahak, itu malah membuatnya kegelian sendiri.

__ADS_1


"Gimana kalo gue, ngediet kak? biar berat badan gue bisa turun."


"Jangan lah Bi, biarin aja kek gini."


"Gak mau.. nanti suami gue bakalan nyari istri baru." Bianca menyinggung.


"Ngapain nyari istri baru, kalo punya istri secantik ini?" Agam mencubit kedua pipi Bianca.


"Ishh!! suka bener nyubit pipi!!" Bianca memberengut sembari mengusap-ngusap pipinya yang bergejolak akibat cubitan dua di antara jemari Agam yang tak merasa bersalah sama sekali, justru sekarang lelaki itu tengah mengendus di bagian perutnya, "Eumm, bayi besar gue udah wangi!!"


Setelah itu, Agam pun beranjak dari ranjang untuk menuju lemari yang ada di sebelah kanan. Sedangkan Bianca yang sudah mengubah posisi tidurannya dari terlentang kini memiring sambil hanya mencermati setiap gerak-gerik yang di lakukan oleh suaminya itu.


Berhubung waktu sudah menjelang malam, Agam memilih baju piyama untuk istrinya. Tak perlu lagi pakaian dalaman, itu akan lebih menguntungkan untuknya. Lalu setelah itu dia menuju tempat tidur kembali.


Sehabis memakaikan celana pada Bianca, Lelaki itu menarik kedua pergelangan tangan Bianca agar perempuan itu bangun dari tidurannya. Bianca pun sudah malas berkomentar apa pun, karena jujur saja untuk sekarang, dia tak punya energi lebih untuk beragumen dengan lelaki ini. Lagi pula Agam tak melampaui batas, malahan hanya mengurusnya seperti anak kecil.


Bianca hanya mengamati kegiatan Agam yang memasukan kedua lengan baju itu ke lengannya. Sampai lelaki itu lalu mengancingkan satu persatu kancing baju piyama tersebut.


"Nah selesai.." Agam mengusap pelipisnya yang timbul sedikit peluh, menggunakan punggung tangannya. Sedikit lelah, tapi tak apa-apa. Hitung-hitung latihan mengurusi bayi dirinya dan Bianca kelak.


Cup


Bianca mengecup bibir Agam singkat. Membuat Agam terperangah seketika, langkah sekali Bianca berinisiatif sendiri, menciumnya duluan. Tepat di bibir lagi. "Imbalannya." ucap Bianca.


"Ulang Bi." Agam masih sedikit tak percaya.


"Apanya?"


"Ciumannya. Tadi gak kerasa." Agam menunjuk bibirnya, "Buruan.." desaknya.


"Gak." Hedehh, mulai lagi.

__ADS_1


"Aaa Biaa.. Ayok sekali aja, udah.." rengek Agam, lelaki itu nampak memonyongkan bibirnya layaknya bebek sambil memajukan wajahnya mengarah pada Bianca. Perempuan itu sontak membekap mulut Agam. "Gak..."


***


__ADS_2