Married With Ketos

Married With Ketos
Terciduk


__ADS_3

Malam hari. Suasana di area camping benar-benar dingin. Kemungkinan karena di area pegunungan itu mengakibatkan suhunya dinginnya relatif tinggi. Semua murid mengenakan baju bahan tebal dan jaket. Bahkan ada yang memakai syal. Makan malam telah di jalani dengan hikmat 20 menit lalu. Makan beramai-ramai lebih enak dan seru. Benar sekali. Seperti tadi contohnya. Sekaligus komedian bersama kawan-kawan. Terutama di lokasi tenda laki-laki.


Saat ini seluruh anak-anak SMA Garuda berkumpul di satu titik. Ramai-ramai bernyanyi dengan satu orang yang menjadi iringan gitar. Beberapa api anggun kecil menerangi malam ini. Sebenarnya, mereka ada rencana kegiatan menjelajahi hutan di malam hari ini. Namun--cuaca tidak mendukung. Awan berwarna hitam menyelimuti langit hingga bintang-bintang tak nampak sama sekali. Takutnya jika hujan turun di saat tengah menjalani permainan itu akan beresiko jika memaksakan tetap melaksanakan kegiatan itu. Alhasilnya, anak-anak hanya menyanyi dengan suka ria.


Berbagai lagu random yang mereka bawakan. Apa saja. Asal berseru-seruan. Meramaikan suasana malam ini.


"Tidur malam minum es teh satu gelas" salah seorang siswa lelaki yang menjadi gitaris itu melantunkan lagu itu sebagai komando. Lalu di ikuti oleh yang lainnya.


Ingat mantan punya juga berkelas


Dingin malam semakin suasananya ganas


Kutukan mantan masih teringat jelas


Tipis manis kucoba ramas-ramas elus-elus


Pegang di pinggang ikut main iris gemes-gemes


Kurindu bilas slaber luar dalam seperti es


Masih teringat kutukan mantan oh memang jelas


Kutukan mantan tak bisa dihiraukan


Ku teringat saat kita diranjang


Main pelan-pelan masukan dalam lubang


Ku tetap mengenang kutukan sang mantan--"


Mereka bernyanyi serentak sambil tertawa-tawa kecil. Berbagai melodi dan irama mengalun-alun. Seolah menikmati indahnya waktu kebersamaan mereka. Ini akan menjadi salah kenangan di memori terindah di suatu saat nanti.


Di samping siswa-siswi yang tengah asik bernyanyi. Nathan justru harus kerepotan mengurus Camella yang tiba-tiba muntah karena siklus kehamilannya.


"Huekkk huekkk." Nathan setia memijat tengkuk Camella. Bermodalkan lampu senter ponsel, posisi keduanya sekarang agak jauh dari tenda untuk berjaga-jaga.


Seluruh makanan yang tadinya di santap oleh Camella dia keluarkan kembali. Itu membuat Nathan cemas akan keadaan Camella. Mendadak dia jadi menyesal telah membuat gadis ini hamil. Dia yang melihat saja sudah merasakan bagaimana sulitnya.


Di mulai dari mual sampai memuntahkan isi perut. Gampang kelelahan. Cepat mengantuk. Kelihatan lemas. Belum lagi mengingat setelah sembilan bulan kedepannya, melahirkan itu adalah fase tersulit. Harus mempertaruhkan nyawa. Camella sendiri mau tak mau tetap harus mengalaminya di kemudian hari.


Sejujurnya, Nathan juga tak tega. Namun, nasi telah menjadi bubur. Tak ada lagi yang bisa dia lakukan selain terus berada di sisi Camella. Menemaninya menghadapi semua kenyataan di depan mata. Mempertanggung jawabkan atas kesalahannya. Iya. Dia siap. Yang menjadi masalahnya di sini adalah Camella. Gadis itu belum siap jika keluarganya tahu.


"Masih mual?" tanya Nathan yang sekarang tengah mencepol asal surai Camella yang awalnya terurai. Agar tak menjadi penghalang di wajah gadis itu ketika lagi-lagi mengalami mual dan berakhir muntah. Melihat gelengan kepala dari Camella membuat Nathan bernafas lega.


"Mau ketenda? atau mau di sini dulu?" tanyanya. Kalau dia mana-mana saja. Yang menjadi kepentingan kali ini adalah kenyamanan Camella.


"Di sini dulu. Gak mau di sana, berisik." ujar Camella sudah duduk di bawah salah satu pohon yang cukup besar. Di susul oleh Nathan yang patuh-patuh saja atas keinginan dari Camella.



"Mau peluk gak?" tanya Nathan kemudian telah merentangkan tangannya. Mungkin lantaran akhir-akhir ini pelukan Nathan terasa hangat dan nyaman, Camella langsung masuk kedekapan itu tanpa berpikir lagi. Nathan langsung memeluknya erat membenamkan wajah Camella di dada bidangnya.


"Nath.."


"Hm? kenapa?"


"Kalo lo tanggung jawab karena bayi gue di dalam perut ini--"

__ADS_1


"Bayi kita!" sela Nathan memprotes karena tak terima atas ucapan dari Camella.


Camella langsung mengoreksi perkataannya barusan. "Bayi kita-- otomatis lo bakal nikahin gue kan?"


"He'em." Nathan mengangguk mantap.


"Terus, pacar lo, gimana?"


Kedua alis Nathan mengkerut. "Pacar?" beonya tak mengerti. Dia sudah menjomblo sejak zigot. Terus, pacar yang di maksud Camella, siapa?


Camella mengangguk. Nathan melepas pelukan mereka agar bisa menatap Camella. "Pacar yang mana? ada lo liat gue pacaran selama kita deket?"


"Ada." sahut Camella sekali lagi mengangguk.


"Siapa? yang mana? kok gue gak ada ngerasa sama sekali pacaran sama cewek." Nathan menjadi bingung sendiri.


"Itu loh-- yang deket dengan lo terus itu--"


"Yang mana?"


"Yang cerewetnya minta ampun. Sering minta lo beliin jajan. Yang---"


"Oh! Tasya!" terkah Nathan tepat sasaran. Sebelumnya dalam waktu singkat dia sudah memutar otaknya dan sudah menemukan jawabannya.


"Nah iya kalo gak salah namanya Tasya ya? si adek kelas yang bareng terus ama bini Agam." ungkap Camella mengundang tawa kecil dari Nathan. "Lah, kok malah ketawa?"


"Gak Mel, lucu aja. Soalnya itukan sepupu gue."


"Hah?!!" beo Camella agak tak menyangka. Dia jadi speechless di buatnya. Jadi--- selama ini dia cemburu sama sepupu Nathan?


"Tuh mulut di tutup napa, kemasukan nyamuk nanti." Tangan Nathan bergerak merapatkan kedua bibir Camella yang menganga.


Nathan mengangguk. Sekali lagi membenarkan keterangannya tadi. "Iya dia sepupu gue. Jangan bilang, lo cemburu sama dia?" Lagi-lagi Nathan tertawa namun lebih kencang dari yang tadi. "Pantes aja. Sifat lo jadi berubah drastis. Beda dari yang lalu-lalu. Jadi, itu? lo cemburu?"


Melihat reaksi Camella yang memberengut. Tanpa di jawab sekalipun, Nathan sudah bisa tebak.


Nathan lantas meraih Camella kembali kedalam pelukan. "Hari ini tanggal berapa yah?"


Camella mendongak mendengar pertanyaan aneh Nathan. "Emang kenapa?"


"Mau nyatat dalam memori. Tanggal ini adalah hari terbahagia di sejarah hidup gue. Asli mah. Gak maen-maen. Seneng banget gue malem ini."


"Seneng kenapa sih?" tanya Camella tidak mengerti.


"Lo cemburu kan liat kedekatan gue sama Tasya?"


"Gak tahu juga sih." jawab Camella berbohong. Dia sendiri jelas tahu bagaimana perasaannya.


"Jawaban lo itu gue anggap iya. Nah, kalo cemburu itu berarti apa?"


"Apa?" Camella pura-pura tak tahu.


"Cintalah! lo kan cemburu gue deket sama cewek lain! itu tandanya lo cinta sama gue!"


"Idihh!" Camella mendelik segera melepas pelukan mereka.


Nathan langsung memegangi kedua bahu Camella. Rautnya mendadak berubah jadi serius. "Kali ini gue nanya serius Mell, lo cinta gak sama gue? kalo iya, yaudah kita hidup bareng yah. Lagian, kita jugakan sudah-- ehm itu udah ada bayi di dalem rahim lo." tuturnya.

__ADS_1


"Jadi, ceritanya lo ngelamar gue nih?" tanya Camella mencoba bercanda di tengah-tengah seriusnya suasana.


"Yah, itu termasuk juga. Intinya, lo cinta atau gak sama gue?"


"Yaudah, gue tanya balik, kalo lo, cinta gak sama gue?" bukannya menjawab, Camella justru mengajukan pertanyaan balik kepada Nathan.


"Cinta lah! masa lo gak peka sih! padahal sudah dari kelas tujuh SMP yaelah!" Jawab Nathan langsung tanpa keraguan.


"Hah? kok bisa sama?!!" Camella menyahut spontan. Antara sadar dan tiada.


"Lahh?!!" keduanya masih sama-sama mencerna kebenaran yang baru terungkap dari mulut mereka masing-masing. Padahal keduanya adalah golongan orang pintar. Namun, sangat goblok dalam masalah percintaan.


"Jadi---"


"Kita sama-sama suka tapi--itulah, pasti takut kalo salah satu pihak gak mempunyai perasaan yang sama, pasti hubungan pertemanan, hancur kan?" terka Nathan tiba-tiba sok quotes.


Camella manggut-manggut pelan baru paham.


"Tapi, serius Mell, masa selama ini lo gak sadar mengenai perasaan gue? Bahkan gue sampe bela-belain masuk di SMA yang sama lo biar terus bareng lo. Dan-- lo masih gak sadar?"


Kedua bola mata Camella membulat mendengar penuturan dari Nathan. Dia tercengang. Memorinya kembali memutar di masa lalu ketika baru memasuki SMA. Pantes saja Nathan bisa sekolah di tempatnya. Ternyata memang sudah di rencanakan. Camella kira hanya kebetulan.


"Mel! jawab napa Mel!" Nathan sudah mengguncang pelan pundak Camella menuntut jawaban. Membuat perempuan itu tersentak pelan.


"G-gue beneran gak sadar sumpah!"


"Tapi, sekarang udah tahu kan? gimana? mau gak kita hidup bareng?"


"Mau gak mau kita tetap harus hidup bareng. Demi--- masa depan dia." Camella mengelus perut datarnya. Membuat pandangan Nathan turun kebawah. "Boleh pegang juga gak?"


Camella nampak berpikir sesaat setelah akhirnya dia mengangguk. Mendapat persetujuan dari Camella, tangan Nathan terulur kearah perut Camella. Dan dengan sedikit tremor mengusap pelan di sana.


"Nanti kira-kira, berapa usia kandungan, baru perut membuncit?" tanya Nathan masih setia mengelus di sana. Pertanyaannya membuat Camella berpikir sekejap. "Kira-kira tiga bulanan sudah mulai kelihatan."


"Jadi gak sabar deh. Pengen usap-usap perut lo yang kek balon. Apa lagi kalo udah lahir. Kira-kira mirip siapa ya?"


"Harus mirip gue dong. Kan gue yang ngandung."


"Tapikan itu dari benih gue."


"Lo nitipnya sampe sembilan bulan di rahim gue!"


"Tapi--"


"Pokoknya harus mirip gue, titik!"


"Yaudah iya---"


"Ekhemmmm"


Perkataan Nathan terpaksa tak berlanjut ketika mendengar suara deheman juga langkah kaki mendekati lokasi mereka. Nathan segera menarik tangannya dari perut Camella lalu meraih ponselnya dengan senter yang masih menyala terletak di sampingnya. Dan mengarahkannya pada orang itu.


"A--agam?!" panggilnya sudah menegang serta panik. Demikian Camella.


"Balik ketenda. Di sana sudah pada gaduh nyari kalian. Terutama Kakak lo Mell. Darren."


Nathan dan Camella bukan melongo atas dari isi penuturan yang di sampaikan Agam. Melainkan deretan kalimat yang di ucapkan Agam. Baru kali ini mereka mendengar Agam mengatakan kalimat sebanyak itu. Walaupun masih tetap dengan minim ekspresinya.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2