Married With Ketos

Married With Ketos
Air terjun


__ADS_3


Dua remaja itu memandangi gemulai keindahan dari fajar yang terbit dari arah timur. Bianca menyandarkan kepalanya di bahu Agam. Sedang lelaki itu merangkul Bianca.


"Indah yah Kak." Tiga kalimat itu membuka percakapan yang tadinya hening hanya menatap indahnya cakrawala. Agam mengusap punggung Bianca. "Bagi aku, gak yang lebih indah, dari kamu." balasnya. Bianca menyikut dada Agam yang jahil mengeluarkan kata-kata mutiaranya. "Bisa aja kamu!"


Kembali lagi, mereka menggunakan 'Aku-Kamu' padahal semalam. Manggilnya seperti biasa. Yah begitulah keduanya. Apabila sedang dalam situasi romantis. Panggilan pun berubah. Setelah menikmati keindahan fajar, Agam akhirnya berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya untuk Bianca. "Ayok, balik."


Bianca segera menyambut tangannya dengan suka rela. Bangkit dengan bantuan Agam. Lalu langsung memeluk lengan lelaki itu.


***


Di pagi hari. Seluruh anak-anak Garuda mengikuti baris-berbaris. Dan di lanjutkan makan bersama di pagi menjelang siang.


Hari ini. Anak-anak menjelajahi hutan sekaligus hunting untuk mengabadikan momen ini. Beragam pose mereka pasang dalam pemotretan bersama-sama yang di taken oleh salah satu Guru yang menjadi pemandu mereka. Empat puluh menit mereka menjelajahi penjuru hutan rimba yang terletak di pegunungan itu. Lalu selanjutnya, mereka menikmati pemandangan alam di air terjun. Ikut serta mandi bersama di sana. Tak lupa semuanya di potret dalam kamera agar mengabadikan momen itu.



Berbeda dari yang lainnya mandi bersama-sama. Termasuk Bianca. Ada juga yang tak minat. Agam, Camella dan Nathan misalnya.


Jika Camella, bukannya tidak suka ikut-ikutan. Namun--dia di larang Nathan. Takut kenapa-napa katanya. Padahal kelihatannya seru. Mimik wajahnya sudah murung sejak tadi. Memeluk lututnya hanya menyaksikan anak-anak yang lain berenang di air terjun yang kelihatan segar itu. Dia dan Nathan duduk di bawah salah satu pohon rindang. Hanya menonton aktifitas anak-anak yang lain. Sedangkan Agam sendiri, di sibukkan mengawasi Bianca dari tepi air terjun.


"Nath.. pengen ikutan.."

__ADS_1


Nathan bersegera menggelengkan kepalanya. Melarang dengan tegas. "Duduk di sini aja bareng gue, jangan coba-coba lo beranjak sedikitpun dari posisi itu. Ntar kalo lo, kepeleset atau gimana? siapa yang bakal repot?"


"Repot?!! jadi, lo pikir gue ngerepotin, gitu?!" Nathan menggapai tangan Camella ketika gadis itu nyaris berdiri. Dan mendudukkan kembali gadis itu di posisinya semula. Nathan mengedarkan pandangannya kesembarang arah dimana mereka sudah menjadi pusat perhatian akibat dari suara Camella tadi yang cukup keras.


"Enggak-enggak kok, gak ngerepotin. Tadi--salah ngomong aja." Nathan mencoba membujuk Camella yang kini sudah melengkung sudut bibirnya kebawah dengan mata berkaca-kaca. Nathan menjadi kelabakan di buatnya. "Yaudah iya deh iya maaf. Lo gak ngerepotin. Aduhh-- jangan gini dong. Gue gak bisa meluk lo untuk nenangin kalo di depan umum gini." Nathan sudah kelimpungan melihat Camella yang sudah menangis. Tidak ada cara lain selain mengusap-ngusap kepalanya. "Maaf yah.. tadi--salah omong aja. Gak usah di masukin ke hati."


Nathan bisa memaklumi sifat cengeng dari Camella kali ini. Pasti bawaan kehamilannya. pikirnya. "Jangan nangis yah." Nathan tetap setia mengusapnya di sana. Sampai gadis itu terlihat tenang dan mengusap bekas air matanya yang sempat mengalir di pipinya. "Beneran, gue gak ngerepotin?"


"Iya bener. Gak ngerepotin kok." Nathan segera mengangguk cepat. Untuk meyakinkan. Jangan sampai membuat gadis ini menangis lagi. "Yaudah." Camella menyungut. Membuat Nathan bernafas lega melihat Camella yang sudah tenang.


Banyak para siswa yang ikut mandi di air terjun itu. Mereka semua terlihat bersenang-senang. Ada yang sudah saling memercikkan air. Dan ada yang sudah berenang. Pokoknya, mereka semua menikmati keseruan ini. Termasuk Bianca dan Tasya. Mereka tertawa-tawa saling memercikkan air ke satu sama lain.


"Rasain tuh!!"


Sedangkan Darren dan tiga Guru lainnya yang menjadi pemandu, memantau dari permukaan. Mengawasi aktifitas semua murid itu agar tetap aman.


***



Sementara itu di sisi lain yang merupakan di salah satu tenda. Sherly terpaksa tidak mengikuti kegiatan. Karena dirinya sedang tidak enak badan. Kepalanya terasa berat dan pusing. Dia sedang terbaring lemas didalam tenda. Di area tenda ini hanya ada dirinya sendiri sebab yang lainnya sedang mengikuti aktivitas seru-seruan di sana.


Sejak tadi dia hanya memejamkan matanya. Sampai tak sadar jika tenda di buka oleh seorang lelaki. Dia masuk tanpa suara. Namun Sherly dapat mendengar pergerakannya yang mendekatinya. Semulanya, Sherly tak menghiraukannya sebab ia kira itu adalah salah satu siswi yang setenda dengannya yang baru saja datang.

__ADS_1


Namun, ketika orang itu semakin mendekat. Sherly dapat mencium aroma parfum yang sangat ia hafal. Bersamaan dia menegang. Takut dan panik. Semakin tidak ingin membuka matanya berpura-pura tidur.


"Sher. Lo-- tidur?" Sherly mengabaikan itu. Dia masih belum ingin bergadapan dengan lelaki itu. Dia takut. Takut akan melakukannya di sini. Lelaki ini terlalu berbahaya. Mengingat tadi malam, lelaki ini memaksanya melakukannya di belakang tenda. Beruntungnya saat itu anak-anak sudah tidur. Sherly takut akan ketahuan anak-anak lain.


"Sher! buka mata lo! gue tahu lo pura-pura tidur!" Lelaki itu mengguncang keras tubuh Sherly sampai membuat sang empunya tersentak dengan mata terbuka. Akhirnya dia ketahuan. Sherly langsung beringsut lemah ke sudut tenda. "Sam.. Please.. jangan sekarang. Gue, lagi gak enak badan. Dan-- gue takut ketahuan."


"Apaan! sini lo!" Dia menarik kasar lengan Sherly yang lemas. Sherly semakin tidak tahu harus berbuat apa. Dia takut lelaki ini melakukannya di sini. Dia menggelengkan cepat kepalanya. "Jangan, pleas---"


Sherly terdiam ketika telapak tangan kekar itu mendarat di keningnya. Ternyata tidak sesuai dugaanya. Lelaki itu justru memperbaiki posisi Sherly semula. Dengan merebahkannya kembali. "Kita pulang duluan aja mau? Gue yang antar elo. Ntar biar gue yang izin sama Guru. Soalnya-- panas lo tinggi banget."


Sherly tersentuh mendengar penuturan yang terkesan merisaukan kondisinya. Namun-- ketika mendengar perkataannya selanjutnya, membuat Sherly seakan di jatuhkan kedasar lautan. "Gausah GR! gue lakuin ini bukan khawatir, tapi, karena lo itu budak nafsu gue! gue gak bisa lakuin itu pas lo lagi sakit, jadi gue ingin lo cepet sembuh. Biar bisa muasin gue lagi!"


"Atau-- lo mau gue lakuin itu di sini saat lo dalam keadaan begini? kalo iya yauda--"


"Jangan!" Sherly segera menyela. Lelaki itu membuang napas kasar. "Yaudah, lo kemasi semua barang-barang elo. Gue juga mau ke tenda laki-laki dulu mau ngemasin barang-barang gue."


"Beneran, kita bakal pulang duluan? emang Guru bakal ngizinin?"


Dia mengangguk sebagai tanggapan. "Itu biar gua yang urus."


TBC


***

__ADS_1


Tenang guys! ini masih dalam episode membosankan untuk memperbanyak chapter. Nikmati sebelum konflik yang akan datang☺️🙂😈


__ADS_2