Married With Ketos

Married With Ketos
Perempuan rendahan


__ADS_3

Samuel mencengkram kuat rahang Sherly agar wajahnya tak bergerak. Entah sudah ke sekian kalinya dia berusaha memasukan pil obat kedalam mulut Sherly. Sementara Sherly sendiri menolehkan kepalanya ke kanan-kiri seraya merapatkan bibirnya agar obat itu tak berhasil masuk kedalam mulutnya.


"Lepasin gue Sam!!" Sherly memberontak, berusaha lepas dari belenggu Samuel.


"Enggak! sebelum bayi itu berhasil gue lenyapin!!"


Karena tidak ada cara lain, Samuel pun menggunakan cara yang lebih ampuh. Yakni, memasukkan obat itu kedalam mulutnya dan menempelkan bibirnya tepat di bibir Sherly, menyalurkan pil itu kedalam mulutnya. Setelah berhasil masuk, Samuel sontak menghempaskan kepala Sherly ke dinding, hingga kepala Sherly terbentur cukup keras.


Sang empunya mengalami sakit menjalar ke kepalanya, bahkan Sherly sampai merasa berkunang-kunang. Dia menggelengkan kepalanya seraya mengerjab-ngerjabkan matanya untuk memperjernih rotasi pandangannya.


"Telan!!"


Jelas saja Sherly tak akan mengabulkan perintah Samuel, dia malah meludahkan pil itu dari mulutnya.


Emosi Samuel makin meluap melihat obat itu sudah tergeletak di lantai. Matanya sudah memancarkan amarah yang berapi-api.


Dia menarik lengan Sherly dengan kuat agar berdiri. Detik berikutnya, ia dengan keji mencekik Sherly hingga nafas perempuan itu tersendat-sendat. Sherly memukul-mukul tangan Samuel yang bertenggar di lehernya. "L-lepashh.."


Wajah Sherly sudah memerah mendapat cekikan yang begitu kuat dari kedua tangan besar Samuel. Sherly ke sulitan untuk bernafas. Tadinya, Sherly sempat berusaha melepaskan tangan Samuel, namun sekarang, dia sudah tak punya tenaga lebih untuk melawan.


"Bunuh bayi itu!!!" sentak Samuel. Cekikkan di leher jenjang Sherly bukannya mengendur malah makin ketat. Membayangkan wajah bayi haram itu membuatnya semakin kalut, aura gelap menguasainya, dia tak bisa berfikir lebih jernih. Dia benci, sangat. Kepada anak haram. Sekalipun itu anaknya sendiri.


Kelopak mata Sherly terpejam gusar, mencoba untuk mengambil nafas di dalam pasokan oksigen yang makin lama kian menipis. "L-lepasin..." gumamnya nanar.


"L-e-pasin.. Sam.." Air matanya yang tak mampu lagi Sherly bendung akhirnya tumpah.


Deghh

__ADS_1


Samuel yang menyadari itu, menghempas Sherly, hingga perut sang empunya mengenai salah satu pinggiran meja di kelas itu, sebelum perutnya berhasil terbentur, Sherly cekatan menutupi perutnya dengan telapak tangannya agar benturannya tak terlalu berefek pada kandungannya.


"Sher.. gue gak bakal tanggung jawab pada janin yang belum tentu milik gue.." lirih Samuel.


Nafas Sherly terengah-engah seraya terbatuk-batuk kecil. "Gue.. bisa rawat dia, sendiri.." balas Sherly, dia akan menjadi seperti Mamanya yang merawatnya penuh kasih sayang yang tulus, walaupun Papanya telah meninggalkannya dalam keabadian, sejak dirinya masih dalam kandungan.


Dengan sisa energinya, Sherly mencoba menegakkan tubuhnya dengan bantuan menumpukkan tangannya di atas meja, kemudian dia berjalan dengan tertatih-tatih menuju bangkunya.


"Rawat sendiri, terus akan menghidupinya dengan hasil kerjaan lo selama ini? lo tahu? itu pekerjaan haram Sher! haram!!!"


Iya, Sherly tahu, dia jelas tahu jika itu adalah pekerjaan yang tak patut. Tapi--dia tak ada pilihan lain. "Jika itu demi bisa menghidupinya, sekalipun caranya salah, mau gak mau gue akan melanjutkan hidup dengan mencari uang dengan cara seperti itu.."


"Hentikan Sherly!!! yang akan menderita anak lo sendiri!! dia akan tumbuh dalam kesengsaraan. Karena apa? dia akan di cap anak haram dan anak dari seorang pelacur!!" Sarkas Samuel terdengar marah. Dia tak peduli lagi akan kemungkinan yang mendengar perkataannya barusan.


Sherly menutupi seluruh wajahnya dengan telapak tangannya, pundaknya nampak bergetar. Dia menangis terisak-isak di balik itu. "Lo gak bakal ngerti Sam.. karena lo, punya segalanya.." ujarnya parau. Tak apa, bukan hanya sekali dua kali dia mendapat cemoohan seperti ini dari kerabatnya yang tak mempunyai hati nurani, walaupun tahu salah satu sanak saudaranya tengah berjuang untuk hidup, tak sepeser pun yang keluar untuk membantu ataupun menolong. Alhasil, Sherly harus memikul semua beban itu dipundaknya.


Sherly melipat tangannya di atas meja, lalu menelungkupkan kepalanya di sana. Dia menangis sesenggukan. 'Sher.. gue gak bakal tanggung jawab pada janin yang belum tentu milik gue' Untaian kalimat yang terdengar sederhana, namun itu sangat menyakitkan dihati kecil Sherly.


"Ini anak lo, Sam..." Lirihnya. Tidak mungkin Sherly begitu yakin terhadap itu tanpa penyebab pasti. Sudah beberapa bulan berakhir, sejak dari pertemuannya dengan Samuel. Dan sejak ada Samuel yang menjadi pelanggan setianya, Sherly tak pernah lagi melakukan itu dengan siapapun. Jadi, siapa lagi yang menjadi Ayah dari bayi dalam rahimnya jika bukan Samuel?


***


Hiruk pikuk di area kantin terdengar riuh akan seluruh anak-anak yang makan ataupun sekedar nangkring disana. Berbagai kegiatan yang mereka lakukan di sana. Di mulai dari makan bersama, bermain game, sekedar berngobrol ria ataupun bergosip. Intinya, kantin itu tempat terbaik untuk melakukan apapun.


Tak terkecuali Bianca dan Tasya. Mereka hanya duduk-duduk saja di salah satu meja kantin sambil berbincang-bincang dengan pembahasan random. Jangan lupakan Samuel yang duduk bergabung bersama mereka.


Kalau Samuel hanya duduk enteng atau santai-santai tanpa banyak tingkah bersama mereka, Bianca tak akan merasa kesal ataupun risih. Namun, cowok itu, dengan serampangan sesekali mencubit-cubit pipinya, bahkan sampai merangkulnya. Bukannya apa, Bianca dapat melihat aura horor Agam dari sudut sana. Menyeramkan.

__ADS_1


"Sam! udah deh!! jahil banget sih!!" gerutu Bianca yang tak di pedulikan Samuel. Kesekian kalinya, dia mengulek-ngulek pipi Bianca yang makin hari semakin tembam saja.


"Imut banget adek gue ini" kata Samuel yang tak habis-habisnya menjahili Bianca.


Cup.


Oke, kali ini Bianca benat-benar merutuki si Samsul akan tindakannya yang semena-mena. Kenapa lelaki ini berani sekali memberinya ciuman di pipi?! di depan umum lagi! OH MY GOOD!!


Bianca melirik sedikit demi sedikit kepada Agam. Nah kan!! ekspresinya sudah bagaikan ingin menelan orang hidup-hidup!! Bianca menelan salivanya susah payah melihat aura Agam yang seakan ingin menerkamnya sekarang juga. Tuhan, lindungilah Bianca ketika sampai di rumah!


Nathan yang paham pun menepuk-nepuk bahu Agam yang kelihatan seperti sedang menahan kentut--ralat emosi. Dahi Agam berkerut tidak suka menatap Bianca dan Samuel. "Sabar Gam sabar, jangan terbawa esmosi."


Sebelah tangan Agam yang tadinya terkepal, menepis tangan Nathan yang singgah di pundaknya. Kemudian menghela napasnya kasar.


Sedangkan Samuel hanya menyengir, mengeluarkan tampang tak berdosanya.


"Bangsat lo Samsul!!" rutuk Bianca seraya menggosok-gosok pipinya yang terkena noda dari bibir Samuel, Bianca sudah menyorot sinis kepada Samuel yang berada di sisinya.


"Heh Samsul!! sembarangan banget sih nyium-nyium orang!! kalo orang yang ada pawangnya gimana?! parah banget sih!!" Tasya juga ikutan sensi melihat tindakan Samuel tadi. Namun Samuel tak menghiraukan ketidak suka'an kedua gadis yang sedang bersamanya.


Pandangan Samuel, mengedar ke penjuru kantin yang terlihat ramai, kemudian atensinya reflek terpusat pada sosok Sherly yang sedang duduk menyendiri di salah satu meja. Lalu bibirnya menyunggingkan senyum miring melihat Sherly yang ternyata sedang menatap ke arahnya juga. Dia, merangkul pundak Bianca, lagi.


Sherly hanya bisa menundukkan pandangan, agar air matanya yang meluruh tanpa komando itu tak ada yang melihat. Perasaan ini semestinya tidak ada. Samuel hanya pelanggannya dan tugasnya hanya melayaninya, dia tak mempunyai hak untuk cemburu apa bila Samuel bersama dengan gadis lain. Tapi, mengapa rasanya sesakit ini? melihat pemandangan tak mengenakkan baginya itu bagaikan ribuan duri yang menancap di dadanya.


Apakah ini hukuman untuk seorang perempuan rendahan sepertinya?


***

__ADS_1


__ADS_2