Married With Ketos

Married With Ketos
Extra part 07


__ADS_3

Malam sudah larut, Altezza sudah tertidur dikamar yang sudah memang disediakan untuknya sedari awal, tapi karena Bianca bilang ingin satu kamar bersama Altezza agar mudah memantaunya, jadi Agam tidak ada pilihan lain selain menempatkan Altezza bersama mereka.


Untuk sekarang, Agam sudah menempatkan Altezza dikamar yang lain, dia tidak akan mengizinkan Bianca untuk menjumpai bayi Altezza untuk sementara waktu, bukan hanya semata-mata untuk kebaikan putra mereka, tapi untuk kebaikan Bianca juga, dia ingin Istrinya beristirahat untuk sejenak, tanpa harus memikirkan Altezza.


Setelah Altezza lahir, hidup Bianca hanya terus berpusat pada Altezza, Altezza dan Altezza, sehingga dia kurang memperhatikan dirinya sendiri, Agam pun sampai turut prihatin melihat Istri tercintanya sampai turun badan, porsi makannya pun sudah berkurang hanya karena mengurus Altezza.


Agam membuka pintu yang dia kunci dari luar, dia masuk kedalam tidak dengan tangan kosong, ditangannya menggenggam nampan yang berisi satu piring nasi beserta lauk-pauknya sebagai pelengkap. Tidak ketinggalan segelas air putih.


Dia meletakkannya diatas nakas, Agam melihat Bianca yang sudah terlelap diatas kasur, dia naik keatas tempat tidur dengan merangkak mendekati Bianca.


Wajahnya mendekat, menghapus jarak antara dirinya dan Bianca hingga bibir hangatnya menyentuh kening Bianca yang sedang menyelam di lautan mimpi, "Maaf Bi.. maaf udah bentak juga kasar sama kamu, aku hanya sedang emosi.." lirihnya masih dalam posisi bibirnya mencium dahi Istrinya.


Dia menyesal telah melontarkan kata-kata yang tidak seharusnya, dia sudah memperlakukan Bianca dengan kasar dan dia telah--melukai hati Wanita yang sudah mewarnai hari-harinya selama ini. Bidadarinya yang telah berjuang keras dalam mengandung lalu melahirkan Putra kecilnya setampan Altezza.


Tidak sepatutnya dia marah seperti tadi, semestinya dia sebagai seorang Suami menghadapi situasi seperti tadi dengan kepala dingin, tak mungkin Bianca sengaja membiarkan anak mereka nyaris terjatuh dari atas tempat tidur, sedangkan dia saja sudah mengabdikan hidupnya untuk Putra semata wayang mereka.


"Eummm.." Secepat kilat Agam menegakkan punggung begitu Bianca menggeliat kecil, wanita itu mengerjap kan kelopak mata yang dihiasi bulu lentik tersebut mencoba menyesuaikan cahaya lampu yang menerobos masuk ke kornea matanya.


"Kak..?" Lirihnya dengan suara khas bangun tidur. Dengan muka bantalnya dia bangun dari posisi tidurannya.


"Makan."


"Eumm?" Nyawa Bianca sepertinya belum terkumpul total. Punggungnya dia sandarkan di kepala ranjang, seraya mengucek-ngucek matanya yang sayu, dia memperhatikan pergerakan Agam, mulai dari mengambil nampan yang dia letakkan diatas nakas tadi lalu meletakannya kepangkuan Istrinya yang sedang duduk selonjoran diatas kasur.


"Minum dulu, baru makan." Agam memalingkan wajahnya kesamping, Bianca mengangguk saja. Mengubah kakinya menjadi bersila, dia pun patuh seperti penitahan Agam, meminum lebih dahulu lalu mulai menyantap makanan.


Diam-diam ujung mata Agam melirik Bianca yang sedang melahap makanan yang ada dipahanya, tangannya terlihat sedikit tremor, apakah se-lapar itu? sampai-sampai vibrasi tangannya terlihat sejelas ini.


Mulutnya sedikit terbuka kemudian tertutup kembali, Agam ingin meminta maaf, kalimat yang sederhana tetapi egonya memenangkan jiwanya. Alhasil, kata-kata itu kembali terurung dalam batin.


"Ezza gimana Kak?"


"Udah tidur. Gak usah pikirin Ezza dulu. Ada banyak pelayan yang bisa menanganinya, mending isi dulu perut kamu."


"Aku kangen sama Ezza Kak.. apa Kakak benar-benar gak akan ngizinin aku ketemu sama Ezza..?"


"Untuk sementara aja, kamu utamakan diri kamu sendiri dulu, lihat penampilan kamu, jadi berantakan gini, kamu udah seperti gembel tahu gak?"


Hati Bianca tersentil mendengar penuturan Agam, apakah Suaminya ini sadar jika sepatah kata yang keluar dari bibirnya dapat menyakiti hatinya? ah, dia tidak akan pernah sadar. Lagi pula yang diucapkan oleh Agam memang fakta.


Dia tidak ada waktu untuk memperhatikan penampilan, mandi saja jadi jarang, bahkan menyisir pun sampai dia lupakan, rambutnya jadi kacau balau, wajah dan badannya sudah tidak seputih dan semulus dulu. Jadi, tidak heran jika nanti Agam akan berpaling darinya.


Senyum kecut terulas pada bibir Bianca, "Bia udah jelek ya Kak?"


Agam menghela napas kasar, bukan itu maksudnya, dia hanya ingin Bianca lebih memperhatikan dirinya sendiri dari pada Altezza, dia tidak peduli bagaimana pun penampilannya, Istrinya tetap terlihat paling cantik dimatanya terlepas bagaimana pun penampilannya.


Akan tetapi, lihat saja postur tubuhnya, benar-benar turun drastis. Dia menjadi kurus hanya karena mengurus anak mereka. Kantung matanya bengkak dan dikelilingi lingkaran hitam, mirip persis dengan mata panda. "Bukan gitu maksud aku.."

__ADS_1


Bianca mengangguk-anggukkan kepala, "Iya Kak, aku tahu.. nanti kalau seandainya kamu ketemu perempuan yang lebih cantik, Kakak bisa kok berpaling ke sama dia, tapi dengan satu syarat, Ezza harus pergi bersama aku, dengan kehadiran Ezza aku udah gak peduli sama dengan yang lain, asal bersama Ezza aku merasa akan menjadi orang paling bahagia di dunia ini."


Dua kening Agam menekuk dalam, dia benci dengan serentetan kalimat yang diutarakan oleh Istrinya barusan, dia tidak senang. "Bicara kamu kok jadi ngelantur gini?"


"Seandainya Kak, seandainya.."


"Tapi aku gak suka dengan kata-katamu, apakah kamu pikir aku semurah itu sampai-sampai berpaling ke perempuan lain? kita hidup bersama sudah bertahun-tahun Bia, kamu paling tahu gimana aku orangnya, prinsip aku gak pernah berubah, menikah sekali seumur hidup."


"Kan udah aku dibilang, seandainya Kak.. baperan amat sih.." Cetus Bianca kemudian menyuapkan kasar makanan kedalam mulutnya.


Lagi-lagi Agam membuang napas cukup besar, "Yasudah, kamu habiskan makanan kamu, aku kekamar sebelah dulu."


"Kakak gak tidur bareng Bia, malam ini?" Bianca mendongak saat Agam sudah mulai beranjak dari ranjang.


"Kita tidur terpisah dulu."


*****


Dengan gelisah tubuh Agam hanya bolak-balik terus di ranjang, netranya terus tertutup, tapi dia tak bisa masuk kedalam alam mimpi, dia merasa tidak nyaman, rasanya ada yang ganjil, dia tidak bisa tidur tanpa guling bernyawa, yaitu Istrinya.


Agam akhirnya bangun, dia mengacak-ngacak rambutnya kacau, "Arghhh! gini amat sih gak tidur sama Bia! gue tersiksa.."


Sudut bibirnya melengkung kebawah, dia ingin menangis mengingat hubungan mereka yang renggang belakangan ini, ada ketakutan dalam hatinya, dia telah kehilangan kepercayaan Bianca.


Bahkan kata-kata Bianca sewaktu dia makan tadi terus terngiang-ngiang diotak Agam, dia takut jika sewaktu-waktu Bianca akan meninggalkan dirinya, Agam menggelengkan erat kepalanya, menyangkal segala pikiran negatif yang hinggap dikepalanya. "Gak, gak mungkin!"


Beranjak dari ranjang, Agam pun melenggang dari kamar menuju kamar yang bersebelahan dengan kamar yang dia tempati, dia masuk kedalam bilik yang ditempati Istrinya, lampu utama sudah mati, hanya ada secercah sinar redup dari lampu tidur yang menjadi cahaya diruangan ini.


Agam merangkak keatas tempat tidur lalu menyingkap selimut merebahkan tubuhnya bersama sang Istri. Dia melilitkan tangan beserta kakinya ditubuh Bianca membuat tidur sang empu terusik. Bianca menggeliat, dia terbangun karena merasakan pergerakan juga dadanya yang terasa sesak akibat dekapan erat Agam.


Tanpa melihat saja, Bianca hapal dengan perawakan dan aroma mint yang menguar ini, siapa lagi jika bukan Suaminya. "K-kak.. sesak.." Bianca sedikit memberontak, pasalnya dia sampai kesulitan bernapas.


"Ssst.. bobo aja.." Suara berat Agam mengalun merdu dikeheningan suasana. Dia melonggarkan rengkuhannya mendengar perkataan Bianca.


Wajahnya terbenam diceruk leher Bianca, desiran deru napasnya dapat Bianca rasakan menerpa permukaan kulitnya, "Katanya mau tidur terpisah dulu.."


"Gak bisa bobo kalo gak ada guling bernyawa.." objek kenyal berpadu hangat menyentuh permukaan kulit ceruk lehernya, bibir tebal Agam mulai liar bergerak. Bianca hanya memejamkan mata menahan suaranya kala benda bertekstur lembut, gelenyar hangat tercampur sensasi geli yang menerpa leher jenjangnya.


"Bia.."


"Humm?"


"Maaf.." Gumam Agam yang masih dapat ditangkap oleh indera pendengaran Bianca.


"Untuk apa Kak?"


"Maaf untuk yang tadi.. aku udah bilang kamu Istri yang gak becus, sudah bertindak kasar," Agam meraba-raba lengan hingga tangan Bianca. "Gak ada yang luka? aku tadi kayaknya terlalu kasar narik tangan kamu.."

__ADS_1


"Gak papa Kak.. Bia juga salah.. seharusnya Bia gak tidur.. Kakak benar, Bia memang gak becus menjadi seorang Ib--"


Omongan Bianca tercekat oleh jari telunjuk besar Agam, dia meletakannya dibibir Bianca. "Sssstt, jangan ngomong kayak gitu, itu hanya omongan aku lagi emosi aja, kamu udah jadi Ibu terbaik dan terhebat kok untuk Ezza, aku tahu kamu pasti kecapean ngurus Ezza makanya sampai ketiduran."


"Jadi, Kakak udah izinin Bia ketemu sama Ezza?" Dengan bola mata berbinar-binar Bianca mengada agar dapat menatap langsung paras Agam dari bawah.


"Nanti, belum sekarang saatnya, kamu istirahat dulu untuk sementara waktu, jangan khawatir soal Ezza, dia biar diserahin para pelayan aja. Atau kamu mau pergi liburan? biar bisa healing untuk sejenak."


Bianca menggeleng menolak, "Gak mau Kak, buang-buang duit aja.."


"Emang berapa sih biayanya? jangankan hanya liburan, pulau saja bisa aku sewain untuk kamu Bia.. gak perlu cemasin masalah uang.."


"Bukan gitu Kak.. aku gak mau pergi liburan.. aku mau bareng Ezza aja, aku memang cape, tapi cuma dengan melihat muka Ezza rasa cape aku akan hilang Kak.."


"Tapi tetap saja, untuk sementara waktu kamu gunain waktu untuk istirahat dan melakukan apapun yang kamu mau.."


"Ish! tahu ah!" Bianca memukul kesal dada Agam, suaminya ini tak mengizinkan dirinya untuk menjumpai putra tampannya untuk sementara waktu, padahal belum genap sehari saja, Bianca sudah rindu, pengen lihat wajah lucunya.


"Jadi, Istrinya Agam lagi ngambek nih ceritanya.." Agam menangkup wajah Bianca yang lebih tirus dari yang dulu, "Jadi jelek gini gara-gara ngurus Ezza," Jemarinya mengusap lembut pipi tersebut.


"Yasudah cari yang lain aja sana! yang lebih cantik paripurna! jangan sama aku, udah jelek, bau, jarang mandi!"


Bianca mendorong dada Agam agar dapat menguraikan pelukan Agam, dia beralih posisi menjadi membelakanginya, kini Agam hanya dapat memandangi punggung Istrinya.


Agam tersenyum jahil kemudian kembali merapatkan tubuh mereka, bahkan kali ini dia mendekapnya lebih erat dari yang tadi, "Istri jeleknya Agam.. jangan ngambek dong.. nanti aku bawa kamu pergi fashion biar kamu jadi cantik lagi."


Sedetik kemudian, Agam berubah pikiran, dia menggeleng kecil. "Gak, gak, gak jadi. Kalo kamu cantik nanti banyak laki-laki yang lirik. Yaudah, jadi jelek aja, biar aku sendiri yang suka kamu.."


Tidak ada tanggapan, Agam lantas menarik bahu Bianca agar menghadap padanya. Mempersembahkan wajah Bianca yang sedang masam, dia memanyunkan bibirnya kesal.


Agam terkekeh lucu, dia paling senang jika Bianca sudah kesal seperti ini, lucu saja menurutnya saat dia memasang wajah cemberut. Agam mengais anak rambut yang menganggu pandangannya.


"Bi.. itu--anu--itumu udah sembuh total belum?" Cicit Agam.


Timbul garisan di dahi Bianca saat Agam mengucapkan perkataan yang tidak jelas tersebut. "Itu apa sih?"


"Bekas lahirannya Bi.. mau bikin Adek buat Ezza biar dia gak kesepian nantinya.."


"Gak-gak! Ezza aja belum gede, besaran dikit deh Ezzanya baru bikin lagi Adeknya."


"Tapi boleh yah gituan? lagi pengen Bia.."


Bianca berpikir untuk sejenak, punggungnya masih sakit, apakah dia bisa bertahan? "Tapi janji satu ronde aja?"


"Janji! Yeay! jatah!!" Seru Agam begitu mendapat lampu hijau, dia langsung saja bangun dan membuka pakaiannya hingga memamerkan sixpack yang tersusun rapi diperutnya lalu kembali menyelimuti tubuh mereka berdua, mereka melewati malam dengan bergelung didalam selimut tebal tersebut.


*****

__ADS_1


__ADS_2