Married With Ketos

Married With Ketos
Kehabisan stok


__ADS_3

Rambut mereka berdua nampak berantakan tertiup oleh hamparan angin yang kencang menerpa keduanya. Malam ini tak berbeda jauh dari malam-malam sebelumnya, suasananya tetap dingin seperti biasa hiruk-pikuk jalanan kota terdengar ramai oleh kendaraan-kendaraan lain. Bianca mengeratkan pelukannya di pinggang Agam mencari kehangatan di balik itu.


Sebelah tangan Agam setia mengusap punggung tangan Bianca yang bertenggar di pinggangnya. Sejak tadi ia sadar, jika Bianca kedinginan, bisa Agam rasakan, tangannya yang terasa sangat dingin. Agam tak bisa berbuat apa-apa selain mengelus tangannya menyalurkan kehangatan, karena Agam juga begitu, dia lupa membawa jaket tadinya.


"Sabar ya Bi? ntar kalo sampe rumah, gue angetin sampe mampus." celetuknya bercanda. Kesal dengan perkataan itu, Bianca yang kini dagunya bertumpu pada pundak Agam itu memukul kepala Agam yang ikut-ikutan tak mengenakan helm.


"Awas ya, kalo gue mampus beneran, jadi duda lo!!" damprat nya meladeni guyonan Agam.


"Tinggal nyari istri baru." sahut Agam terdengar cuek. Bianca mecebikkan bibirnya sebal seraya melepas pelukannya kepada Agam. Kemudian melipat tangannya di depan dada.


"Nyebelin!!"


***


Pikiran Bianca di lumpuhkan oleh permainan Agam. Lelaki itu memperlakukannya dengan lembut kali ini. Seperti yang telah di janjikan oleh Bianca siang tadi. Agam benar-benar menagihnya dan tidak ada cara lain selain menepatinya.


Kombinasi suara d.e.sahan, lenguhan serta erangan erotis tak berhenti keluar, dengan irama saling sahut-menyahut dari mulut keduanya. Tubuh mereka, sama-sama di banjiri oleh keringat.


Entah sudah kesekian kali mereka pindah-pindah gaya hingga beberapa bungkusan mini bertebaran asal di area ranjang, dan untuk sekarang, meraka berdua melakukannya dengan posisi duduk di atas kasur. Bianca tengah memeluk leher Agam dan kakinya melilit erat di pinggang kokoh milik suaminya, tak tinggal serta wajahnya sudah menumpuk di bahu lelaki tersebut, menikmati sensasi yang bagaikan membuatnya melayang ke awan-awan.


"Sayang.. tatap akuhh.." ucap Agam sambil di akhiri mele.nguh. Tubuhnya bergerak, dengan lincah namun pelan dan lembut. Sebisa mungkin, Bianca yang hanya pasif itu berusaha menguasai dirinya, kepalanya terangkat dengan lemas, menghadap kepada Agam. Masing-masing sepasang iris mata mereka sama-sama sayu di kombinasi kabut gairah di sana dengan nafas yang menderu. Di tengah itu, Agam tersenyum tulus sambil mengusap pipi Bianca yang kini kedua matanya terpejam gelisah, terbawa suasana.


"Kamu, cantik banget gini.." bisik Agam mendesis pelan.


"Enghh ah.." Bianca tak menanggapi pujian Agam. Kepala Bianca kadang mendongak, kadang turun sambil menggigit bibir bawahnya. Dua gunung kembarnya pun tergoyang-goyang tak tentu arah. Tidak ingin membiarkan benda kenyal itu menganggur, akhirnya, Agam meremasnya. Lalu mengemutnya bagaikan seorang bayi.


Seusai itu, "Sayang.. hnghhh sayang.." racau Agam tidak jelas. "Udah gak sakit seperti yang pertama kali?" tambahnya bertanya masih dengan suara seraknya.


Bianca menggeleng lemah. Tangan Agam terangkat, mengelus lembut rambut Bianca disela permainannya. Lalu perlahan-lahan merambat ke tengkuk Bianca, menekannya agar wajah Bianca maju ke padanya, kemudian meraup bibirnya intens dan penuh kelembutan. Bunyi decapan ciuman juga penyatuan mereka terdengar nyaring di ruangan bernuansa putih abu-abu tersebut.


***

__ADS_1


"Nath! Nathan!!" Camella menggoyang tubuh Nathan yang sedang tidur nyenyak. Sudah berulang kali Camella membangunkannya dengan cara mengguncang tubuhnya kencang sambil memanggil-manggil namanya. Namun, lelaki itu nampak tidak terusik sama sekali.


Sekalinya tubuhnya merespon, hanya dengan menggeliat kecil, lalu selanjutnya kembali merapatkan guling pada dirinya. Padahal jam masih menunjukkan waktu tengah malam bahkan nyaris dini hari, entah kenapa Camella merasa sangat ingin makan rujak. Camella belum mempunyai pengalaman hamil sebelum ini, jadi Camella tak tahu apa penyebabnya tiba-tiba menginginkan sesuatu yang teramat. Jika tak mendapatkannya, Camella yakin, dia akan ngiler. Karena itu, Camella berinisiatif masuk ke kamar Nathan, untuk menyuruhnya membelikan kemauannya.


Tapi, alih-alih membelikannya, justru, Nathan tidak kunjung bangun walaupun sudah berulang-ulang, Camella berusaha membangunkannya, tidurnya sudah layaknya orang mati.


Sudut bibir Camella melengkung kebawah sebab tak berhasil membangunkan manusia kebo itu. Bola matanya pun sudah berkaca-kaca. Merasa putus asa, akhirnya dia, naik ke atas kasur dan merangkak mendekati Nathan, berikutnya ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Nathan setelah menyibak selimutnya.


"Nath... pengen rujak.." gumamnya, Camella mendongak menatap wajah polos Nathan yang sedang terlelap itu. Tadinya begitu, sebelum akhirnya atensi teralih pada tonjolan yang ada di bagian depan leher Nathan. Jakun.


Tangannya terangkat menyentuh jakun Nathan dengan jari telunjuk. Nathan melenguh pelan, agak terusik dengan sentuhan itu, di tambah lagi mencium aroma khas Camella yang sudah sangat ia hapal.


Kedua matanya yang terasa berat terpaksa harus Nathan buka. Dan--seketika matanya membelalak sempurna melihat Camella yang sudah ada di sisinya. "Mella!! ngapain lo di sini??!"


Nathan yang mengalami kekagetan hebat itu, segera beringsut sedikit menjauh dari Camella.


"Elahh Nath, kek gue mau perkosa aja lo!" cetus Camella memutar bola matanya.


Nathan tidak menanggapi perkataan Camella, dia malah kalang kabut, mencari kaosnya yang Nathan lepas sebelum tidur, setelah mendapatinya tepat di pinggirnya, Nathan pun mengenakannya.


"Jadi, ada apa gerangan, lo tiba-tiba nyelonong masuk ke kamar gue?" tanyanya setelahnya dengan suara lebih rendah dari yang tadi, dia sudah beringsut mendekati Camella yang kini telah duduk bersila di tengah ranjang.


"Nath.. gue gak tahu tiba-tiba pengen banget makan rujak. Padahal, gue udah coba nahan, tapi gejolak keinginan untuk makan itu, gak bisa kalah. Kira-kira kenapa ya?"


"Oh, lo ngidam.." Nathan manggut-manggut, lalu sedetik kemudian, matanya melotot. "Ngidam??!!! di tengah malam buta begini lo ngidam rujak?!! nyari di man lahh anjirr?!!" tanyanya tiba-tiba heboh.


"Terus? gue harus gimana Nath? apa gue tahan aja ya?" Jujur saja, Camella juga tak mau menyusahkan Nathan. Terlebih lagi, tengah malam begini, nyari di mana?


Nathan memijat pangkal hidungnya, dia mendadak shock dengan keinginan Camella yang ngadi-ngadi di waktu yang tak tepat. Ternyata mengurus bumil itu lebih sulit dari yang ia kira.


"Yaudah, kita nyari bahan dasarnya aja ya?," tuturnya pada akhirnya.

__ADS_1


"Terus, nyarinya kemana, tengah malam gini?"


"Hmm, gini aja deh, lo ikut gue nyari sejenis toserba yang buka dua puluh empat jam, soalnya pasti butuh waktu yang cukup lama nyarinya, gue takut ninggalin lo sendirian dirumah."


Camella sempat menduga Nathan tak akan mau mengusahakan kemauannya. Namun, ternyata dugaannya salah. Camella jadi tersentuh atas itu meskipun ada perasaan yang agak tidak enak hati telah menyusahkan Nathan. "Maaf yaa.."


"Maaf?"


"Iya, gue ngerepotin ya?" Camella menggaruk kepalanya yang tak gatal. Nathan membuang napasnya kasar. "Banget." sahutnya terdengar cetus. Camella cemberut mendengar itu. Tapi tetap beranjak dari tempat, melihat Nathan yang juga sudah turun dari ranjang.


Nathan menjangkau jaket yang tersampir di kursi belajarnya. Kemudian memakaikannya pada Camella. Tak lupa sekalian menyelubungkan tudungnya di kepala Camella. Dia menepuk-nepuk pelan pucuk kepala Camella yang kelihatan tak bersemangat.


"Tadi--bercanda aja kok, lo gak ngerepotin kalo itu buat baby."


***


Pukul 01:35, Bianca terjaga, karena merasakan sensasi geli menerpa di tengkuknya.


"Enghh, Kak..." Bianca melenguh, rupanya Agam sedang sibuk dalam kegiatannya yakni mengendus-ngendus tengkuk Bianca bahkan sesekali menjilatnya. "Bi... lagi yok, junior tegak lagi.." pintanya dengan nada merengek.


Bianca mendengkus, masih dengan mata tertutup "Kak, jangan macam-macam deh, gue ngantuk, capek!" kesalnya. Tapi, Agam malah mengubah posisi Bianca menjadi terlentang, dan mengungkung Bianca. Hal itu tentu membuat Bianca terusik, kesadarannya tiba-tiba full karena tindakan itu.


"Kakak.." lirihnya nanar, yang melihat Agam telah melebarkan pahanya.


"Sekali lagi ya Bi?" tanyanya sekedar basa-basi. Di sebabkan mereka masih sama-sama naked, itu pastinya memudahkan Agam. Jadi, tanpa menunggu jawaban dari sang empunya malah sudah masuk. Bianca me.ndesah pelan.


"Kakak.. pengamannya.." Kelopak mata Bianca terpejam gusar.


"Habis sayang.. janji, keluarin di luar."


***

__ADS_1


__ADS_2