
Bughh Bughh Bughhh
Nathan hanya bisa berpasrah ketika wajahnya di pukuli habis-habisan oleh Vendra--Papa Camella. Pukulan ini tak sebanding dengan sesuatu berharga yang telah di renggut olehnya. Kali ini, dia sudah memantapkan tekadnya untuk mengungkapkan semuanya pada keluarga Camella. Nathan sudah siap dengan semua resiko yang akan ia dapatkan.
"Cukup Pah! Udah! Nathan udah kesakitan!" Camella sudah menangis di pelukan Melti--Mama dari Camella. Dia tak sanggup melihat Nathan yang sudah babak belur di hajar oleh Papanya. Camella tahu, Papanya murka karena dirinya, tapi-- setidaknya Nathan mau bertanggung jawab.
Di samping itu, Darren hanya menonton dari sudut dinding sambil bersidekap dada. Percayalah, tangannya juga sudah gatal ingin menghajar Nathan.
Bughh Bughh Bughhh
"Berani, beraninya kamu hamilin anak saya!!" hardik Vendra tak berhenti menghajar Nathan. Posisinya, lelaki itu sudah terkapar di bawahnya. Sedangkan Vendra masih terus melanjutkan aksinya, di atas tubuh Nathan. Hingga menyebabkan, lelaki itu sudah tak berdaya, wajahnya di hiasi memar. Bahkan hidungnya sudah mengeluarkan darah.
Setelah puas menghajar Nathan yang kelihatan telah terkulai lemas, Vendra menyudahi aksinya, dadanya naik turun menatap Nathan sengit. Berselang detik kemudian, Vendra berdiri, beralih melihat ke arah Camella yang masih terisak.
"Ngapain kamu tangisin cowok brengsek kaya gini!!"
"Nathan bukan cowok brengsek pah! buktinya dia mau bertanggung jawab!" Camella membatah ucapan Papanya di sela tangisannya.
"Bukan masalah tanggung jawabnya Mell!! justru laki-laki yang sudah berani menghamilimu di luar nikah itu sudah membuktikan bila dia bukan lelaki baik-baik!" papar Vendra.
Camella membalasnya. "Tapi-- Nathan bukan sengaja lakuin itu ke aku pah, dia--gak sadar."
"Papa gak mau tahu apa alasannya! yang perlu kamu fikirkan itu impian kamu dan masa mudah kamu Mell! kamu mau menikah di usia mudah seperti ini?! nikah itu bukan hal main-main Mell!" Semua penuturan Vendra memang masuk akal.
"Terus Mella harus gimana? semua udah terlanjur terjadi." Sahut Camella parau. Melti mengusap belakang kepalanya. Beliau tak bisa memihak siapapun, karena di sini, Camella dan Nathan memang salah, walaupun itu hal yang di unsuri ke tidak sengajaan, tetap saja itu perbuatan zina.
__ADS_1
Dari pada itu, tindakan suaminya, ia akui, cukup keterlaluan untuk seusia Nathan. Namun, tak bisa juga untuk di larang, sebab dia juga mempunyai hak untuk itu, Ayah mana yang tak akan kecewa dan marah ketika mengetahui putrinya di hamili lelaki yang belum terikat pernikahan? terlebih lagi mereka masih duduk di bangku SMA, yang berarti masih cukup labil.
"Gugurin anak itu!" desis Vendra. Biarkan siapa saja menganggapnya orang jahat, ini demi masa depan Camella. Dia ingin yang terbaik untuk putrinya.
Camella dan Melti di buat tercengang mendengar itu. "Ven, bukannya itu keterlaluan? kamu mau membunuh nyawa yang gak berdosa?" ucap Melti benar-benar tak habis fikir dengan jalan fikir suaminya.
"Ini demi masa depan Camella! dia masih mempunyai cita-cita yang belum ia gapai! dan--masa depannya masih panjang!"
Camella menangis terguguh di pelukan Mamanya. Awalnya, ia memang tak menginginkan bayi di kandungannya, tapi, seiring mengalirnya waktu, dia menjadi sayang kepadanya, walaupun masih berbentuk janin. "Gak pah, Mella mau ngelahirin anak ini! Mella sayang sama bayi Mella!"
"Mell! pikirin masa depan kamu!! masa depan kamu akan hancur jika menikah di usia mudah seperti ini!!"
"Mella gak peduli pah! Mella gak peduli!!" teriak Camella histeris.
Nathan berusaha beringsut dengan sisa-sisa tenaganya. Bersusah payah, dia memegangi pergelangan kaki Vendra. "Om, jangan suruh Camella gugurin anak kami Om, saya janji, biarpun saya anak yatim piatu, saya akan berusaha untuk menghidupi anak dan cucu Om." ujarnya memelas. Pria paru baya itu langsung menghempaskan tangan Nathan dari kakinya. Nathan di buat mengerang kesakitan karena mengenai wajahnya yang sudah luka-luka.
Semulanya Darrel mendukung perihal Papanya yang menghajar Nathan habis-habisan, tidak ketika mendengar pengajuan Papanya yang diluar logikanya. Sebenarnya dia juga sangat marah kepada Nathan yang telah menghamili adiknya yang telah ia jaga dan lindungi selama ini. Tapi, dia tak setuju dengan ke ingin Papanya yang akan menggugurkan bayi yang tak berdosa itu.
Ternyata tidak sesuai ekspektasi Vendra. Camella lebih memilih Nathan, terbukti dari perempuan itu cepat-cepat menghampiri lelaki itu, membantunya bangun, dan memeluknya.
"Mella lebih milih Nathan! kalo itu bisa mempertahankan bayi ini!" ujarnya telak, wajahnya sudah bersimbah air mata. Vendra tercengang dengan pilihan Camella.
"Mell.." lirih Nathan terdengar lemah. Dia menumpukkan dagunya di pundak Camella. "Maaf. Maaf, gue yang anak yatim piatu ini, udah berani hamilin lo." bisiknya terdengar pedih. Hati Camella teriris mendengar hal tersebut. "Gak Nath, lo bakalan jadi Ayah yang terbaik buat dia." Camella menuntun tangan Nathan ke perutnya. Nathan tertawa pelan. Lalu terbatuk-batuk darah.
"Nath.."
__ADS_1
"Gapapa, ini gak sebanding dengan apa yang gue renggut dari lo." lirihnya. Camella menggeleng nanar. "Semua udah terjadi. Mau menyesal juga sudah percuma." balasnya, memang tak ada jalan lain.
Memutuskan untuk membawa Nathan pergi dari sana, Camella membantu Nathan berdiri dan memapahnya. Sebelum mereka beranjak, perkataan dari Vendra menstopkan mereka. "Ini pilihan kamu Mella! sesuai perkataan papa tadi! jangan pernah injakan lagi kaki kamu di rumah ini! dan--" Vendra memejamkan matanya rapat bersiap akan mengeluarkan lontaran yang mungkin akan membuatnya menyesal di kemudian hari. "Mulai saat ini! kamu, bukan lagi dari keluarga ini!"
Cukup lama Camella tak berkutik,"Terserah!" Begitulah tanggapan akhir dari Camella. Nyatanya, dia dapat merasakan benda tak kasat mata menghujam, dan meremukkan hatinya ketika mendengar itu. Tapi, ini semua sudah menjadi pilihannya.
Camella memapah Nathan keluar dari rumahnya dengan perasaan campur aduk. Tiba di depan rumah, Camella memesan taksi online untuk mereka.
"Maaf." Bisik Nathan di dekat telinga Camella, sekali lagi meminta maaf. Entah sudah ke berapa kali kalimat itu keluar dari mulut Nathan. Meskipun ia tahu, walau sampai jutaan kali ia mengucapkannya, itu tak akan mampu menebus kesalahan besarnya. Dan satu lagi, dia telah membuat hubungan Camella dan keluarganya, hancur.
Camella menggeleng. "Gapapa Nath. Gak perlu ngerasa bersalah, ini sudah pilihan gue."
"Mell!" suara bariton Darren menginterupsi sepasang remaja itu. Mereka sama-sama mengalihkan pandangan ke arah Darren di arah belakang, mendatangi keduanya.
"Tujuan kamu, ke mana?" tanyanya saat tiba di depan mereka. Pertanyaan itu ia tujukan untuk Camella.
"Rumah gue, Bang." Nathan yang menjawab. "Gue bukan nanya sama lo ya, gue nanya sama adek gue!" tukasnya sinis.
"Kalo kamu gak ada tempat tujuan, mending, ke apartemen Kakak aja. Tinggal di sana." Darren melirik sewot ke arah Nathan. "Dari pada tinggal di rumah tuh cowok! mending tinggal di apartemen Kakak, hidup kamu bakal Kakak jamin." bujuknya. Di sambut gelengan kepala dari Camella.
"Gak Kak, Mella akan ikut ke mana Nathan pergi. Dia--pilihan aku. Dan sesuai kata-kata papa, aku bukan lagi dari keluarga ini."
"Tapi Mell--" Ucapan Darren terpaksa harus menggantung karena taksi yang di pesan oleh Camella telah tiba.
"Maaf Kak, kami harus pergi." Camella memapah Nathan memasuki taksi itu, sebelum Camella menyusul masuk, Darren menahannya sejenak dengan kalimatnya. "Mell, nanti kalo terjadi apa-apa sama kalian, jangan sungkan hubungin Kakak yah. Kakak bakalan bantuin kalian, semampu Kakak." tuturnya.
__ADS_1
Darren melirik ke dalam mobil itu, "Oh iya, setelah luka pukulan Papa ke si brengsek itu agak mendingan, Kakak yang bakalan gantian ngejahar dia." Kelakarnya kemudian.
TBC.