
Perbincangan ria juga hidangan ringan yang disediakan yang di selenggarakan dalam perayaan sederhana itu, dilanjutkan dengan acara BBQ di area kolam yang terletak dihalaman belakang mansion. Seluruh tamu kini meramaikan disana, dengan obrolan-obrolan random yang tak akan mungkin bisa ada habisnya.
Sementara yang lain disibukkan dengan sesi barbeque, Altezza kecil di tangani oleh Alena. Bianca sendiri memilih hanya untuk berdiam diri ditepi kolam sedikit jauh dari tempat mereka melakukan acara barbeque.
Tak usah ditanya lagi mengapa ia tak ikut bergabung bersama mereka, Bianca akan kesal apabila menjawabnya, tentu saja Agam tak mengizinkan dirinya bergerak, jadi lebih baik ia berdiri saja disini. Bianca mendadak berdoa dalam hati, berharap ia sekalian di kutuk oleh Tuhan jadi patung, biar Agam tahu rasa.
"Ekhem, kenapa hanya berdiri disini terus? gak ikut dengan mereka?" tanya Gelard basa-basi. Ia mengambil tempat disisi Bianca, sejak tadi ia cukup prihatin dengan Bianca yang nampak tertekan pada sikap Suaminya sendiri.
Bianca memutar bola matanya malas. "Hah, tanyakan ke kakak lo."
"Harusnya lo bersyukur. Jarang-jarang loh, Suami yang kayak Agam. Manjain lo sama gak nuntut lebih. Biasanya, cowok kalo udah punya istri bakal memperlakukan perempuan gak ada bedanya sama pembantu. Harus pinter masaklah, harus pandai beres-beres rumah lah, yang intinya harus serba bisa. Agam, ada gak nuntut lo kayak gitu? gak ada kan?"
Bianca merenung, yang dikatakan oleh Gelard memang benar adanya, ia tak bisa menepis itu. Tapi jika berbicara mengenai syukur, yang patut disyukuri karena mereka terlahir di keluarga yang berada hingga membuat kehidupan mereka jadi lebih mudah, semua urusan yang di sebutkan oleh Gelard barusan ditangani oleh para pelayan.
"Dari pada itu, gue lebih penasaran dengan Ibu biologis anak lo si Noel. Kalian datang hanya bertiga doang? selama ini gak mungkin lo belum nikah. Apalagi dengan adanya Noel?"
Tatapan Gelard menerawang kedepan, ia tersenyum tipis. "Noel, gak ada Ibu. Gue, yang jadi Ibu sekaligus Ayah untuknya."
"Tunggu, jangan bilang dia anak lo--" Bianca menoleh, menatap Gelard dengan menyelidik, ia tak yakin menanyakan ini, tapi sudah sangat lama, seharusnya Gelard sudah dapat melupakan dia, bukan?
"Dengan Sherly?" Imbuhnya bertanya.
Gelard tertawa mendengarnya, ia menggeleng. Dapat Bianca lihat, Gelard mendongakkan kepala menuju keatas langit yang gelap dihiasi taburan bintang, lengkap dengan rembulan malam yang bersinar paling terang.
"Kalo bisa, gue pengen malaikat kecil kami dapat bertahan hidup saat itu, biar gue yang ngerawat dia sampai besar, dengan begitu rasa penyesalan gue bisa sedikit terobati. Tapi sayang banget, Sherly gak ingin sendirian disana, jadi dia mengajaknya juga biar ada yang menemaninya."
Bianca mengangguk-anggukkan kepala, ia kemudian memilih untuk diam saja mengurungkan segala tanggapannya, karena takut mungkin jika ia bertanya lagi, akan lebih menyakiti hati Pria disampingnya. Hanya satu hal yang Bianca dapat jawabannya. Gelard, belum bisa melupakan, Sherly.
"Waktu cepat berlalu ya? sekarang lo udah jadi Mama aja. Padahal perasaan baru kemarin-kemarin kita melewati masa SMA bersama?" celetuk Gelard kembali bernostalgia.
"Yah, memang waktu gak akan terasa berlalu."
__ADS_1
"Bia!! sini makan dulu! kamu belum makan malam kan?!" Agam memanggil dari sisi lain berhasil membuat Bianca menoleh kearah dimana mereka melakukan barbeque.
Bianca berseru sebagai balasan. "Iya!!"
"Sam, gue kesana dulu ya? takut nanti kalo lama-lama tuh misua bakal ngamuk."
Begitu mendapat anggukan dari Gelard, Bianca berjalan menuju dimana perkumpulan para tamu yang ada Agam-nya disalah satu mereka.
****
Acara syukuran telah selesai, seluruh tamu sudah pulang berhubung perayaan sudah berakhir. Bianca kini sedang memberi Altezza ASI di kamar.
"Ezza..udah dong, sekarang giliran Papa lagi.." Ujar Agam memelas, sedari tadi ia sudah menunggu gilirannya untuk menyusu, tapi Altezza tak kunjung selesai-selesai.
Selain itu, Agam ingin menangis saja rasanya saat Bianca mengabaikan dirinya dan hanya fokus dengan Altezza. Tangan Agam menarik-narik ujung baju Bianca. "Bi.. aku lagi Bi.. masa Ezza terus? akunya kapan?" Bibirnya melengkung kebawah.
Bianca memukul gemas tangan Agam, "Ngalah sama anak kecil. Kamu udah gede."
"Yah... Bi.. t-tapi itukan dulunya hak aku.. Aaa masa sekarang jadi hak Ezza juga sih?! gak mau Bi gak mau!!" Agam menendang-nendang udara membuat Bianca jadi pusing tujuh keliling.
Agam mendelik sinis, lebih tepatnya menyinis pada Altezza, Putranya sendiri yang dengan seenaknya sedang mengulum p.u.t.i.n.g gundukan Bianca yang awalnya hanya miliknya saja kini harus berbagi dengan anak setan itu, memang lebih baik dari awal ia tak bikin anak itu biar semua yang ada pada Bianca hanya miliknya seorang.
"Gak mau tahu pokoknya aku nunggu jatah habis Ezza, titik gak pake koma!" Pungkasnya tak bisa diganggu gugat. Bianca menghela napas kasar, ia beralih melirik jam, menunjukkan pukul sembilan lewat.
"Mending Kakak tidur aja, katanya besok pagi mau berangkat kerja."
Agam mend.esah malas, mau tak mau ia merebahkan tubuhnya dalam keadaan merajuk, "Kalo aku ketiduran baru Ezza kelar, bangunin aku." Agam berpesan sebelum memejamkan kelopak matanya.
Tak lama kemudian, Altezza telah terlelap didalam gendongannya, Bianca pun memang sudah diserang kantuk juga, tidur disaat seperti ini memang ide bagus. Ia meletakkan Putra kecilnya di box bayi karena sudah tertidur.
Bianca kembali naik ketempat tidur agar bergabung bersama sang Suami yang mungkin saja telah tenggelam kedunia mimpi juga seperti putra mereka, ia membaringkan tubuhnya disebelah Agam, niatnya yang akan segera menutup mata jadi terurung saat melihat wajah polos Suaminya yang sedang tertidur.
__ADS_1
Ia mengelus sebelah pipinya lembut, "Kasian Suaminya aku, gak dapet jatah."
"Siapa bilang?" Tiba-tiba kelopak netra Agam terbuka, menunjukkan iris matanya yang berwarna hazel, Bianca dibuat sedikit terkejut, karena sekiranya tadi, Agam sudah tertidur tapi ternyata belum.
"Kakak, belum tidur?" Yah, Bianca mempertanyakan pertanyaan yang bodoh.
Tuk!
Dengan gemas tangan Agam menggetok dahi Bianca, "Kalo tidur gak mungkin buka mata, bego banget jadi Istri."
"Ish! dasar suami durjana!" Bianca merutuki Agam sambil mengusap-ngusap dahinya yang digetok oleh Suaminya tersebut.
"Ezza udah tidur?" Gantian, giliran Agam yang bertanya.
Bianca menjawab setengah gondok, "Kamu nanyeak?!"
"Kamu bertanya-tanya?" Agam menambahi dengan di bumbuhi kekehan renyahnya. Gerak-gerik Agam yang akan menyingkap baju piyamanya tak luput dari lirikan Bianca.
"Gak bisa tidur sebelum n.e.n.en." Celetuknya vulgar tak heran mendapat geplakan maut di lengannya, cengiran khasnya menjadi pemandangan super menyebalkan dimata Bianca sebelum wajah Agam terbenam di dadanya.
"Ssshh, jangan digigit!" Bianca kembali memukul lengan Suaminya yang seperti bayi besar sedang menyusu pada Ibunya. Agam mengeluarkan ni.p.le dari dalam mulutnya hingga menimbulkan bunyi khas, ia menyempatkan diri menatap Bianca.
"Lebih enak dari yang sebelumnya, Bi. Kali ini ada ASI-nya."
"Udahan aja ya? mending kita turu. Aku udah ngantuk banget sama capek juga tadi."
"Yahh.. padahal masih pengen, tapi--yasudah kalo kamu capek." Dengan setengah hati, Agam kembali menurunkan kembali pakaian Bianca. "Asal puk-pukin, yah?"
Ia mengambil satu tangan Bianca, membawanya menuju kepala sebagai gantinya. Bianca yang sudah khatam sama segala keinginan Agam pun telah paham, ia menepuk-nepuk pelan kepala Agam seraya mulai memejamkan mata bersiap akan menyapa kegelapan, sementara lelaki itu sedang menghirup rakus aroma khas tubuh Istrinya sambil memeluknya layaknya guling.
*****
__ADS_1
Karena ada yang ngerequest kelanjutan extra partnya, jadi aku tambahin yah
Next lagi gak nih?