
Dekor warna putih menghiasi ballroom di hotel tempat penyelenggaraan pernikahan antara Bara dan Sasa. Eva dan Bea terlihat sedang memantau langsung tempat perhelatan itu, meskipun acara nya hanya di hadiri oleh beberapa orang yang di kenal saja dan terkesan private, itu tidak akan mengurangi sedikit pun kemewahannya.
" Wahhh cantik banget ya mbak tempat nya, aku gak sabar dech tiga hari lagi Sasa akan menjadi seorang istri bagi Bara dan menantu untuk mbak " ucap Eva dengan senyum mengembang penuh kebahagiaan, ia tak bisa membayangkan bagaimana putri nya itu yang ia sangat kenali dengan sikap yang terkadang suka bertindak seenaknya dan terkenal pembangkang akan menjadi istri dari seorang calon CEO terkenal.
" Ehh kamu ini apaan si, Sasa itu bukan menantu tapi putri ku " ralat Bea membuat Eva yang tadi nya sedikit terkaget menjadi tersenyum kembali.
" Ih ya ampun mbak aku kira apa coba, oh iya Bara sama Sasa gimana apa mereka akan sekolah besok kayaknya lebih baik kalau mereka itu libur ya mbak " ucap Eva memberikan saran pada Bea untuk menyuruh Sasa dan Bara agar bisa fokus dulu pada acara pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari.
" Iya juga ya, yauda sebentar mbak kabarin Bara dulu ya " ucap nya santai sambil mengeluarkan ponselnya lalu berusaha menghubungi Bara namun putra nya itu tidak mengangkat telfonnya hingga Bea beberapa kali melakukan panggilan.
" Gak di angkat Va, ya udalah mungkin Bara masih di sekolah nanti aja setelah pulang sekolah kita kasih tau mereka ya " ucap Bea pada Eva mereka pun melanjutkan tugas untuk melihat bagaimana dekorasi nya, tak jarang mereka pun memuji bagaimana cara kerja tim wedding organizer yang mereka gunakan.
****
Bara terlihat serius menatap laptopnya setelah cowok itu tadi melakukan teknikal meeting dengan beberapa pejabat organisasi basket, Bara selaku perwakilan kepala sekolah pun sudah memutuskan anggota mana saja yang akan turun dalam turnamen yang di gelar lima hari lagi.
" Woy Bar masih lama Lo disini " tanya Gantar cowok itu datang menghampiri Bara yang terlihat sendirian berada di ruang OSIS.
" Bentar lagi juga kelar, gimana Lo pada uda dapat pengganti sementara si Dom belum " tanya Bara lagi pada Gantar membuat cowok itu menggeleng pelan.
" Ha... tu anak juga kayak nya emang gak bisa di pegang omongan nya katanya cuma beberapa hari aja, ternyata sebulan ini dia bakalan gak masuk ke sekolah " ucap Bara sambil menutup laptopnya tanda perkejaan nya telah selesai.
" Ya.. kayak gitu lah Bar kalo kita terlalu menaruh nasib pada orang baru, kita belum kenal dia seperti apa tapi kita uda bisa memberikan nya sebuah tanggung jawab untuk berada di tim inti " ucap Gantar pada Bara sejujurnya cowok itu sedikit tidak setuju Bara memberikan langsung satu tempat kosong di tim inti karena mereka belum tau Dom seperti apa, hanya karena permainan dan skil yang bagus bukan berarti akan menjamin cowok itu tetap berada di sekitar mereka.
" Yaudalah kita gak usah terlalu mikirin semua nya " ucap nya lalu tampak membereskan semua barang perlengkapan cowok itu.
__ADS_1
" Oh iya Bar Lo gak ngambil cuti kan nanti setelah Lo nikah? tanya Gantar membuat Bara seketika tersenyum kecut, membahas pernikahan saja ia begitu malas apa lagi membahas cuti. Bara pun hanya memperlihatkan tatapan tajam matanya pada Gantar.
" Gak gak ada cuti cuti, apa lagi honey moon ngebahas pernikahan ini aja gue uda pusing setengah mati, apa lagi bahas bulan madu " ucap nya seketika lalu pergi keluar dari ruangan OSIS yang sedari tadi menjadi tempatnya bekerja.
" Trus Lo bakalan tetap sekolah setelah acara itu " ucap Gantar mereka menuju kantin saat ini lalu duduk di sebuah meja yang berada di tengah tengah kantin.
" Iya lah menurut Lo? lagian kalo gue libur Lo kan tau kita bakalan ada turnamen basket nanti gak ada libur libur " ucap nya lagi mereka pun memesan makanan untuk mengisi perutnya yang kosong hingga Regan datang dan membuat kantin riuh dengan kehebohan nya.
****
" Sa Lo gak papa kan " tanya Raja cowok itu menjadi sangat khawatir mendengar cerita dari Abel bahwa semua usaha Sasa gagal untuk membatalkan perjodohan ini.
" Gak papa Ja gue kan kuat, Lo tenang aja ya " ucap nya pada Raja yang duduk di sebelah nya. Raja pun seketika membuka ponselnya lalu ada pesan yang masuk dengan cepat ia membuka nya, pesan itu dari Dom hingga membuat cowok itu begitu serius untuk menerima nya.
" Apa Ja Dom gak balik kesini bulan ini, jadi maksud nya dia bakalan balik bulan depan gitu " tanya Abel, Raja seketika hanya mengangguk saja.
" Kenapa dia gak bicara ke kita langsung, kenapa harus dari pesan gini. Ada apa sama Dom, apa dia ada masalah. Raja Lo harus nelfon dia Ja, gue mau bicara sama dia " pinta Sasa sambil menggoyangkan tangan Raja, cowok itu seketika menelfon Dom namun tak ada balasan bahkan telfon nya tak di angkat sama sekali.
" Gak di angkat Sa, mungkin dia ada urusan Sa " ucap Raja berusaha memberikan pengertian pada teman nya ini.
" Coba telfon lagi Ja " ucap Sasa namun tak jadi ketika guru mereka kembali masuk ke kelas setelah pergi keluar sebentar .
***
" Ja coba telfon lagi " ucap Sasa mereka kini sudah berada di koridor sekolah semua murid sudah tampak berhamburan keluar dari kelas masing-masing bersiap untuk kembali pulang.
__ADS_1
" Gak di angkat Sa, mungkin dia gak bisa ngangkat karena sibuk " ucap Raja lagi, hal itu pun tak luput dari pandangan Bara dan kedua temannya. Hujan pun mulai turun ke bumi membasahi tanah yang tadi nya kering, Raja terus berusaha untuk menghubungi Dom namun tetap saja tak ada balasan darinya hingga perhatian mereka teralih oleh seseorang yang datang menaiki motor nya turun lalu dengan cepat menghampiri Sasa dan kedua temannya yang terlihat berdiri menanti hujan berhenti.
" Dengan Mbak Sasa " tanya seorang pria berjaket ojek online itu, dengan cepat Sasa mengangguk kan kepalanya mengiyakan pertanyaan pria itu.
" Ini saya mau antar barang, kayak nya dari pacar mbak dech " ucap nya sembari memberikan sebuah kotak kecil berwarna biru tosca pada Sasa.
" Pacar saya gak punya pacar pak " ungkap Sasa terus terang namun si pria pun terlihat senyum penuh ledekan.
" Ahhh masa si, lagi berantem ya mbak. Saya juga gitu kadang kalo saya lagi marahan sama istri saya, saya suka kirimin barang meskipun saya bisa antar sendiri kayak yang di lakuin mas mas yang ada di depan gerbang sana " ucap nya menunjuk ke arah gerbang sekolah sontak membuat ketiga nya terperanjat kaget, siapa orang yang mengirimkan Sasa ini, dia benar benar tak tau. Namun tiba tiba saja pikiran nya tertuju pada seseorang yang sedari tadi ia nantikan kabar nya .
" Dom " ucap Sasa lalu dengan cepat cewek itu berlari di tengah hujan yang begitu deras. Pandangan semua orang pun tertuju pada Sasa yang tiba tiba menerobos hujan.
' Dom ini Lo kan? gue tau ini pasti Lo? Lo kan yang kirimin ini buat gue, tapi kenapa Lo gak mau angkat telfon gue, kenapa Lo gak mau ketemu gue apa Lo uda gak menganggap gue sahabat Lo lagi '
" Sasa Lo mau kemana " teriak Raja yang tak bisa menerobos hujan, bukan karena takut sakit ia tak. ingin meninggalkan Abel sendirian mengejar Sasa.
Sasa berdiri di depan gerbang. Ia menoleh kesana kemari tak menemukan siapa pun selain angin yang selain kencang bersamaan dengan air hujan yang mengucur deras.
" Dom!!! Lo dimana " teriak Sasa saat tak menemukan siapa pun di sana. Namun pandangan nya tertuju pada sosok yang baru saja naik kedalam sebuah taksi, Sasa mengenali jaket, sepatu dan tas yang di kenali orang itu seketika Sasa berteriak memanggil nya namun taksi pun sudah melaju pergi.
" Dom!!! Dominiq Lo mau kemana, kenapa Lo gak mau ketemu sama gue " teriak Sasa gadis itu berlari mengejar taksi yang semakin jauh Sasa, Sasa terjatuh saat ia sudah tidak dapat lagi mengejar nya. Sasa hancur air mata bercampur dengan air hujan, serta teriakan tangis pilu gadis itu tertutupi oleh suara angin dan air yang menuruni bumi.
" Kenapa Lo ninggalin gue Dom kenapa " ucap Sasa terisak dada nya begitu sesak saat melihat penolakan dari Dom, penolakan. Secara tak langsung itu lebih sakit dari pada yang di hadapi nya kini.
" Kenapa Lo pergi Dom " ucap nya lagi, namun isakan itu perlahan sirna saat sebuah jaket hitam hangat membaluti nya seseorang berdiri di belakang Sasa membuat Sasa tertegun melihat sosok itu..
__ADS_1