Married With Ketos

Married With Ketos
Alena dan Rendra


__ADS_3

Termenung dengan tatapan kosong. hiruk pikuk di sekitar tidak dapat di tangkap jelas oleh Agam. Pikirannya penuh di isi oleh keributan tiada henti yang membuat dirinya kehilangan arah. Bahkan orang-orang yang berpakaian hitam berseragam telah berlalu dari sana, namun ia tetap kokoh berdiri di sisi makam Bastian berdampingan dengan makam Sandra.


Tidak menangis tapi hatinya terasa pedih. Kemungkinan air matanya telah kering karena sebelumnya ia sempat menangis terus-menerus dalam diam. Bianca yang senantiasa berdiri di sebelahnya mencoba memberanikan diri untuk membuyarkan lamunan Agam, ia mengenggam tangan Agam seraya berkata, "Gam? ayok pulang, langit mendung bentar lagi bakal hujan."


Agam menoleh dengan wajah sendunya menggeleng tidak mau pulang. "Gak mau.. aku pengen di sini terus nemenin orang tua aku di sini.."


"Kak? gak boleh gini.. kakak harus tegar." Melepas genggaman, tangan Bianca lantas terulur membingkai menangkup rahang Agam, ia menatap wajah kacau lelaki itu dengan lekat. "Inget Kak, masih ada aku sebagai istri kamu dan ada Cantika yang menjadi tanggung jawabmu. Kamu gak boleh lemah dan harus kuat.."


Kedua tangan Bianca pindah bekerja merapikan helai rambut Agam yang berantakan dengan telaten, susah payah ia menjijitkan kakinya. "Jangan patah semangat yaa, suaminya Bia.." bujuknya lalu mendaratkan berulang kali telapak tangannya di kepala Agam layaknya memberi kekuatan pada anak kecil. Wajah Agam turun ketika di tarik oleh Bianca dan memberinya ciuman cukup lama di kening Agam yang menerimanya spontan memejamkan mata.

__ADS_1


Hangat melingkupi perasaan Agam mendengar kalimat berunsur kekuatan yang di lantunkan oleh istrinya dengan suara halus dan lembutnya. Menenangkan sekali. Hal tersebut mampu membuat jiwa rapuh Agam yang tadinya lemah kini mulai bangkit, percaya diri bahwa di dunia ini ia tidak sendiri. Masih ada Cantika terutama Bianca, istrinya. Dua perempuan yang menjadi prioritasnya untuk sekarang.


"Ehm--" Deheman Alena memecahkan suasana antara Agam dan Bianca yang sama-sama memisahkan diri dengan canggung karena tertangkap basah oleh Alena dan Rendra yang baru sampai di area yang sama dengan mereka.


Kala mendapat informasi meninggalnya sahabat mereka, Alena dan Rendra segera buru-buru berangkat dan akhrinya mereka landing di Indonesia sepuluh menit yang lalu tanpa membawa barang-barang bermodalkan uang saja. Tidak ada waktu lagi untuk mereka bahkan hanya untuk berkemas.


"Bunda? Ayah?" Bianca berlari dengan semangat menuju kedua orang tuanya yang merentangkan tangan menyambut Bianca yang berhamburan memeluk mereka. Ketiganya saling berpelukan hangat mengobati kerinduan yang memupuk berbulan-bulan lamanya.


"Baik sih Bun.. tapi Kak Agam--" Bianca melirik Agam yang masih terpaku di tempatnya tadi, kakinya berat untuk ia gerakan. "Gitu deh.."

__ADS_1


Alena membelai rambut Bianca yang menikmati elusan sayang Bundanya. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa mendapat kasih sayang lagi dari Bundanya meski Bianca yakin mereka tidak akan lama di sini bahkan kemungkinan besok mereka akan berangkat pergi lagi.


Rendra melangkah ke arah makan basah Bastian di susul oleh Alena dan Bianca dan orang tua Bianca berjongkok di samping gundukan tanah tersebut. Menyisakan Bianca dan Agam yang berdiri menonton mereka yang mengadahkan tangan berdoa untuk almarhum. Tidak butuh waktu lama untuk mereka selesai berdoa dan kemudian berdiri hanya Alena, untuk Rendra masih di posisi tadi kelihatannya Beliau ikut serta berduka.


"Bia? kalian kesini naik apa?"


"Hmm tadi kami ikut rombongan yang bawa keranda, Bun.." Bianca memeluk lengan Agam.


"Oh yaudah kita pulang bareng aja ya?"

__ADS_1


Bianca melirik Agam untuk meminta pendapat dan di sambut oleh anggukan lesu oleh Agam sebagai tanda mengiyakan ajakan dari Alena.


***


__ADS_2