Married With Ketos

Married With Ketos
EPISODE 40 BREAK


__ADS_3

.


“Ada apa, Kak,” tanya Mika to the Point.


Aldi mendongak.


“Walaikumsallam.”


Mika meringis malu.


“Assalamualaikum.”


“Duduk,” ujarnya.


Mika menuruti Perintahnya, duduk di kursi yang Posisinya berhadapan dengan Aldi.


“Kemarin kenapa Nggak rapat?”


Mika menelan salivanya susah Payah. Ayo otak, Pinter cari alasan selogis mungkin.


“Oh, kemarin saya Nggak enak badan, Kak. Jadi saya langsung Pulang.” Mika mengembuskan napas leganya ketika telah mendapat ide yang dirasa Paling cerdas di otaknya.


“Kenapa Nggak izin dulu?”


Lagi-lagi Mika menahan nafasnya


“Oh itu Kak, Sa ... Saya lupa,” ujarnya lalu menatap ujung sepatunya.


“Gue di depan lo, bukan di bawah.”


Mika sontak mendongak.


“Maaf, Kak.”buat nyari Pengalaman. Gue nyari oranang mau gue ajak buat kerja sama biar acara ini sukses. Walaupun acara ini bukan event gede, seenggaknya gue butuh sebuah komitmen.ika diam mencermati Paham,


Mika mengangguk. “Iya, Kak.”ekarang lo bawa Proposalnya,Bawa, Kak.”eluarin, mengeluarkan Proposal yang ada di dalam tasnya. “ ini, Kak.” Ia meletakkan Proposal tersebut di atas meja.aca,agi-lagi Mika menuruti ucapan Aldi. Ia mulai membaca halaman Per halaman merasakan handphone di tasnya bergetar. Ia lalu melirik sedikit ke arah Aldi, seolah meminta izin untuk mengangkat telepon tersebu

__ADS_1


“Ya Udah, angkat dulu teleponnya.”npa Pikir Panjang ia langsung mengambil handphone nya dan mengecek siapa yang meneleponnya. Dan ketika tahu siapa si Penelepon Mika lalu berdecak kesal. Namun akhirnya, ia mengangkatnya juga.belumnya ia telah lebih dulu membuat jarak dengan Aldi.


“Apa lagi,”


“Lo masih marah sama gue,”


“Perlu banget lo tanya gitu,”


Arga menghela napas lelah. “Kalau lo Nggak suka gue deket sama cewek lain. Gue nggak bakal deket-deket sama cewek lain lagi.”


“Nggak Perlu. Lakuin apa yang mau lo lakuin. Sebebas lo,”


“Lo ken—”


“Gue sibuk. Gue tutup.”


“Tung—”


Mika kembali ke tempat duduknya. Memasukkan handphone nya’ dengan sedikit membantingnya. Lalu kembali membaca Proposal tersebut dengan teliti.


Sekitar 15 menit kemudian Mika telah sampai Pada lembar terakhir.


“Jelasin.”


“Jadi isi Proposalnya yaitu tentang surat Pengajuan untuk mengundang Pengisi acara di event ini. Nah, biar acaranya lebih banyak diminati kita bakal ngundang motivator yang lagi naik daun. Maka dari itu, kita butuh dana buat bayar si motivator. Kurang lebih isinya gitu, Kak,” ujar Mika.


Aldi diam sejenak mencerna kata demi kata yang terlontar dari bibir Mika.


“Lo tahu nggak event ini tujuannya buat apa,”


Mika mengangguk. “Penggalangan dana.”


“Harusnya lo lebih memahami lagi event ini. Daripada ngundang motivator ternama bukannya lebih baik lagi kalau uangnya kita pake buat hal yang lebih Penting lagi. Gue nggak setuju.”


Mika hanya dapat mengangguk.

__ADS_1


“Lo Punya ide lain?”


“Hah ? Ide,”


Aldi mengangguk. “Selain ngundang motivator buat ngisi acara ini.”


Mika diam sesaat. “Kenapa kita nggak minta bantuan ke anak kampus aja yang Pinter ngomong Selain bisa ngisi acara dengan baik, bayarannya juga Nggak bakal segede ngundang motivator.”


“Boleh juga.”


“Kalau gitu saya revisi lagi Proposalnya.”


“Harus.”


Mika mengangguk. “Ada yang Perlu dibicarain lagi nggak, Kak,”


Aldi diam sejenak memikirkan kira kira apa lagi yang Perlu dibahas. Namun kemudian kepalanya menggeleng.


“Nggak ada.”


Mika tersenyum. “Kalau gitu saya boleh keluar,”


“Ya Udah Nanti setelah Proposalnya beres langsung ke gue. Nggak usah nunggu Perintah.”


“Oke, Kak. Saya duluan.” Lalu Mika melangkah meninggalkan ruangan rapat.


Mika


“Lo kenapa sih,”



“m


“Lo mau kita break, kan ? Oke, kita break,”

__ADS_1


Mika memegang dadanya. Hatinya sakit. Tapi ia bisa apa ? Air matanya menjawab segala kesesakan di dalam dadanya.


...•••••...


__ADS_2