Married With Ketos

Married With Ketos
Bocil nya Agam sudah dewasa


__ADS_3

Sudah menjadi rutinitas Agam, apa bila pulang sekolah, dia akan menunggu Bianca dengan jarak yang agak jauh dari sekolah, agar tak ada yang mencurigai hubungan mereka. Bianca bilang tadi, dia akan sedikit lama, karena dia ada jadwal piket yang mengharuskan dirinya membersihkan kelas.


Agam bersandar pada tubuh motornya sambil memasukkan tangannya ke saku. Raut wajahnya tetap seperti biasa, terlihat datar, tanpa ekspresi apa pun. Aura dinginnya pun menguar dari dalam dirinya. Hanya diam tanpa suara dengan pandangan lurus tanpa menengok ke kanan-kiri. Cukup lama dia dalam posisi itu, hingga atensinya tersita pada seorang perempuan yang melangkah ke tengah jalan raya. 'Mau bunuh diri kah?' batinnya. Lalu mengedikkan bahunya tak peduli.


Awalnya memang Agam acuh tak acuh apakah gadis itu akan berbuat nekat atau apa lah. Namun, ketika melihat sebuah transportasi beroda empat melesat kencang dari depan sana, tentu saja jiwa keperimanusiaannya mendadak hadir. Agam bergerak secara impulsif, beranjak dari tempatnya saat melihat mobil itu semakin lama makin mendekat dan yang paling parahnya, perempuan itu masih tak menyadarinya. Benar-benar cari mati.


Dengan terpaksa, Agam mesti mengambil tindakan, dia berlari ke arah jalan raya dengan langkah yang sangat lebar untuk mengejar waktu, sebelum mobil itu benar-benar menabrak perempuan itu.


Kemudian detik selanjutnya, tubuh Sherly terhuyung ketika dia di tarik kuat ke tepi, hingga dia terjatuh menimpah tubuh seseorang yang menolongnya.


Brughhh


Lelaki yang berada di posisi bawahnya mengerang kesakitan saat merasakan punggungnya yang nyeri akibat terbentur di aspal, jangan lupakan pelipisnya yang juga bertubrukan dengan beton pembatas.


Netra Sherly pun terbuka sedikit demi sedikit. Setelahnya, perempuan itu dengan spontan meraba semua tubuhnya, "Gue belum mati?" 


Helaan napas lega keluar dari mulutnya ketika merasa kalau dia memang belum memasuki alam lain alias masih hidup. Pandangannya pun kemudian menuju kebawah karena merasa ada sesuatu yang dia tindih. Tepat sekali, matanya langsung membelalak melihat Agam yang sudah terkapar di bawahnya sambil meringis kesakitan.


"K-Kak Agam!!" Sherly yang panik segera menyingkir dari atas tubuh Agam. Dan membantu Agam untuk bangun.


"Lo gak papa?" tanya Sherly sambil memperhatikan Agam, apakah lelaki ini yang menarik tangannya tadi, hingga dia bisa terhindar dari musibah dan berakhir hanya jatuh ditepi jalan?


"Itu, pelipis lo--" tangan Sherly yang nyaris menyentuh pelipisnya langsung terhempas sebab di tepis oleh Agam.


"Jangan sentuh, gue!!" ujarnya terdengar dingin namun penuh penekanan. Agam menyentuh sikutnya yang cedera akibat benturan di beton. "Ssshh." Agam merintih kecil.

__ADS_1


"Kak, itu sikutnya berdarah.." Sherly ingin menawarkan untuk mengobati Agam, namun melihat aura Agam yang tak bersahabat membuat niatnya terurung, pandangan Sherly terangkat, mengikuti pergerakan Agam yang berdiri. Lalu sedetik kemudian Sherly pun ikut berdiri.


Tubuh Sherly yang terasa sangat lemas dan lemah itu, otomatis terhuyung, Agam yang melihat itu pun secara spontan sebelah tangan Agam tergerak, menyanggah pinggang Sherly agar tak terjatuh.


Di saat yang bersamaan, Bianca sudah berjalan dari arah kanan untuk menuju ke tempat di mana Agam biasa menunggunya, waktunya tepat sekali, ia melihat pemandangan yang tak mengenakan itu.


"K-kakak?" Bianca sedikit shock melihatnya, pasalnya, Agam bukan lah tipikal pria yang sembarang merangkul-rangkul perempuan.


"B-bi?" Agam yang gelagapan seperti tengah melakukan sesuatu dengan Sherly itu secepat kilat melepas sanggahannya di pinggang Sherly hingga sang empu nya sontak jatuh terduduk di tepi jalan.


"Awshhh." Sherly bisa merasakan bokong juga perutnya yang perih.


Dengan perasaan paniknya, Agam lebih mendekati Bianca. "Bia!! ini gak seperti yang lo kira.." Mengingat bagaimana sifat Bianca yang mudah salah paham, dia ingin segera meluruskannya, agar Bianca tak keliru. "Bia, gue tadi hanya--"


Mata Agam mengikuti ke mana Bianca melangkah, yaitu menuju Sherly, Agam menduga Bianca akan memarahi Sherly, namun rupanya prediksinya salah, Bianca membantu Sherly untuk berdiri dari duduknya.


"Lo-- gak papa?"


Sherly menggeleng, namun raut wajahnya seperti sedang menahan sakit, benar sekali perutnya terasa keram.


"Beneran?" Bianca ingin memastikan. Melihat kondisi Sherly yang terlihat pucat itu menghadirkan simpati pada diri Bianca. Walaupun Sherly pernah bertengkar dengannya, bukan berarti Bianca harus menaruh rasa dendamkan kepadanya?


Sherly menganggukkan kepala sebagai tanggapannya atas pertanyaan Bianca. "Iya---gue gak papa." jawabnya agak canggung, pasalnya dia pernah merendahkan Bianca. Mungkin menurut orang-orang, Bianca kalah semua aspek dari Sherly, namun siapa yang tahu, kalau selama ini Sherly iri dengki kepada Bianca yang terlihat menjalani kehidupan dengan bahagia tanpa memikirkan belajar dengan lebih agar bisa menjadi sosok yang pintar dan tak perlu lelah, bekerja keras seperti dirinya. Yah, Sherly iri kepada Bianca dari sisi itu.


"Bagus deh kalo gak papa," Seusai mengatakan itu, Bianca pun menghampiri Agam yang berdiri tak jauh dari mereka. Itu tak luput dari perhatian Sherly, dia ingat, kalau Agam pernah mengatakan jika Bianca adalah pacarnya.

__ADS_1


Sherly akui, mereka berdua adalah pasangan yang serasi. Sama-sama mempunyai hati yang sebaik malaikat.


Lihat saja tadi, walaupun dengan sifat judesnya, Agam tetap mau menolongnya. Dan--Bianca, meskipun Sherly pernah merendah-rendahkannya, tetap mau membantunya. Padahal, jika Sherly di posisinya, tak akan sudi menolong orang yang sudah pernah memandangnya sebelah mata.


Balik lagi ke Bianca, "Ayok pulang," ucapnya kepada Agam.


"Bia--lo gak marah kan?" Agam hanya memastikan. Takutnya kejadian seperti hari itu, terulang kembali.


"Kenapa? emang tadi lo ngapain sama Sherly?" Bianca menoleh pada Agam. Tahu kah Agam, jika dirinya yang seperti ini malah semakin membuat Bianca menaruh rasa curiga kepadanya.


Agam hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Tadi--gue nolongin dia doang,"


"Yaudah kalo gitu kenapa Sherly nya di lepas tadi? jadi jatoh kan dia nya?"


"Yah--gue takut lo salah paham Bi.."


Seraya meraih helm Agam, Bianca pun menghembuskan napasnya. Dia tak ingin bersifat kekanak-kanakkan lagi. Bianca tahu, Agam bukanlah tipe lelaki yang akan mudah menghianati seseorang. Apalagi istrinya sendiri.


"Enggak, gue percaya kok sama lo." ujarnya. Bianca lantas menarik dasi Agam, agar tubuh lelaki itu terbungkuk. Kemudian Bianca memasangkan helm kepada lelaki itu.


Di balik helm full face nya Agam tersenyum teduh, Bianca sudah berubah. Dan Agam senang Bianca bisa mempercayainya.


Lalu lelaki itu meraih helm cadangannya di tangki motor, dan memasangkannya kepada Bianca. "Bocil gue udah dewasa ya." ujarnya seraya menepuk-nepuk kepala Bianca yang sudah terbalut dengan helm.


***

__ADS_1


__ADS_2