
"TIDAK!!"
"Astagfirallahaladzim.." Dengan napas memburu, berkali-kali mulut Agam melafalkan kalimat istighfar saat baru terbangun dari bunga tidur paling terburuk sepanjang masa. Ia seperti tertidur panjang, memimpikan Istrinya meninggal dunia akan menjadi traumanya yang paling terdalam.
Setelah merasa lebih tenang dan stabil, Agam mengedarkan pandangan ke sembarang arah, ia sedang ada dikamar berarti yang tadi benar-benar hanyalah mimpi buruk belaka bukan realita. Agam dapat bernapas lega jika begitu, "Untung saja hanya mimpi.." Gumamnya. Lalu ia melihat ke arah jendela yang mana ada pancaran mentari menembus tirai jendela sebelum akhirnya menoleh kesamping yang mana diatas lantai beredar beberapa botol alkohol disana.
Agam meringis kecil sambil memegangi kepalanya yang yang terada amat berat dan berdenyut. Ia baru teringat bahwa semalam dirinya tepar di pojok dinding tepatnya di samping sebuah meja yang mana dirinya ber'mabuk-mabukan di kamarnya semalam untuk mengurangi stresnya yang ditinggal Istrinya pulang ke rumah orang tuanya.
Lengan Agam terangkat, lantas meraba-raba di atas meja mengambil ponselnya dari sana, seingatnya ia meletakkannya diatas meja setelah menggunakannya terakhir kali.
Setelah mendapatkan apa yang ia mau, Agam kemudian menghubungi kontak Istrinya. Berdering cukup lama hingga sampai sebuah suara Wanita paru baya yang menyambutnya dari seberang sana setelah panggilan tersambung.
"Hallo? Agam? Ada apa menelepon pagi-pagi begini?"
"Bunda!! Bunda, Bia dimana?! Dia baik-baik saja kan?!" Tanyanya panik luar dalam.
"Humm? Bia? Sekarang dia masih tidur. Masalah kesehatan--dia memang lagi kurang fit akhir-akhir ini."
"Bentar, Agam tutup dulu teleponnya, Agam mau siap-siap dulu otw kesitu Bunda! Agam akan membawakan Dokter untuk Bianca! Bilang ke Bia kalau bangun nanti jangan banyak bergerak! Agam akan sampai disana tiga puluh menit lagi."
"E-eh Agam, tapi---"
Tut..Tut..Tut..
Agam sudah memutuskan panggilan lebih dulu tanpa mau mendengarkan keterangan Alena lebih detail, membuat dahi Alena yang ada dilain sisi berkedut bingung, beliau mengangkat panggilan dari Agam sebab ia menemani Putrinya tidur setiap malam, sementara Rendra bersama dengan anak kedua mereka. Ia pun baru bangun dari tidur.
"Apa yang terjadi dengannya? Sungguh aneh." Monolognya menatap punggung Bianca yang sedang tidur nyenyak dalam posisi membelakanginya. "Padahal kan Istrinya gak mengidap penyakit serius."
Sementara diseberang sana, Agam mengambil Putra mungilnya dari boks bayi. Altezza kecil rupanya sudah bangun dengan enteng, hanya menggeliatkan badannya tanpa mengeluarkan tangisan. "Bayi Ezza sejak kapan bangunnya, hmm?"
Agam mengangkatnya di udara dan menggesek-gesek hidung mereka berdua. "Kita mandi bareng ya? Siap-siap mau jemput Mama...Papa bakal bawa Dokter kesana untuk memeriksa Mama..Papa gak mau nanti mimpi buruk Papa jadi kenyataan." Agam melangkah kearah kamar mandi dengan menggendong Altezza.
*****
Agam turun dari dalam mobil yang mengantarnya sampai dikediaman mertuanya. Selain dirinya dan Altezza, ia juga membawa seorang Dokter Wanita yang ia rekrut untuk memeriksa Istrinya.
Dengan tak sabaran ia membunyikan bel rumah secara beruntun membuat penghuni yang ada didalam sana segera membukakan pintu untuknya.
Ceklek..
"Eh, Nak Agam.."
"Bunda! Bawakan Ezza bentar.." Agam melewati Alena begitu saja setelah memberikan Altezza secara paksa pada Alena, langsung menerobos masuk tanpa menghiraukan siapapun disekitarnya, ia menemukan Bianca sedang berbaring disofa panjang sambil menonton tv. Dengan segara Bianca bangun dari posisinya melihat kehadiran Agam di ruangan yang sama dengannya. "Loh Agam--"
"Dok, buruan periksa dia!" Titah Agam cepat.
"Baik, Pak. Sabar sebentar, Bapak tidak boleh terlalu panik."
Kini Agam telah duduk disamping Bianca yang bersebelahan dengan Dokter, memeluk kepala Bianca dan mengusap-usap belakang kepalanya. "Bia tenang aja! Kakak akan mencarikan obat atau Dokter terbaik untuk menyembuhkan mu! Kakak gak akan biarin Bia kenapa-napa!" Racau Agam tidak jelas, Bianca yang kebingungan mendorong dadanya agar menjauh.
"Kakak kenapa sih?! Bia baik-baik aja.."
"Dok, periksa dia secepatnya."
"Baik Pak.."
Dokter itu menggulir stetoskop dibagian dada Bianca. "Apakah ada gejala-gejala yang Ibu rasakan akhir-akhir ini?" Tanyanya setelah menurunkan stetoskop dari telinganya.
Bianca melirik Agam yang mendesaknya. "Katakan Bia! Gejala-gejala apa yang kamu rasakan akhir-akhir ini! Biar Dokter tahu apa penyakit yang kamu idap! Sesepele apapun penyakit! Kita gak boleh menganggap remeh!" Omelnya membuat Bianca membuang napas jengah, apakah Suaminya kehabisan obat? Atau otaknya jadi miring akibat ia tinggalkan berminggu-minggu?
"Belakangan ini saya sering sensitif. Mood saya jadi suka naik-turun, sedih tanpa alasan, kadang juga emosi saya meluap-luap, sering kali rindu dengan Suami saya dan ingin segera memeluknya. Apalagi makanan yang biasa jadi makanan favorit saya menjadi makanan yang paling saya benci, malah saya akan mual-mual kalau menghirup aromanya."
__ADS_1
Bu Dokter mengangguk-angguk paham. "Jadi, bagaimana Dok? Apakah Istri saya mengidap penyakit serius! Dokter harus segera menangani Istri saya!!" Volume suara bariton Agam meninggi, ia sedang tak bisa berpikir jernih sekarang, mimpi pahitnya semalam menghantui jiwanya.
"Tenang Pak.. Istri Bapak sepertinya tidak sakit hanya saja dari gejala-gejala yang dia sebutkan tadi, saya dapat menyimpulkan kalau Istri Anda sedang mengandung."
"Justru itu! Dok--" Perkataan Agam spontan terjeda setelah menyadari sesuatu, kelopak matanya mengerjap tak percaya dari fakta yang diungkapkan oleh Bu Dokter dua detik lalu. "M-mengandung? M-maksudnya-- Istri saya sedang Hamil?!" Matanya terbuka lebar terkejut bukan main. Sungguh, ini diluar dugaannya.
Dokter itu mengangguk sambil melemparkan senyum simpul. "Iya.. menurut prediksi saya, sepertinya Istri Bapak sedang mengandung. Kalau mau yang lebih pasti, silahkan periksa ke Dokter kandungan atau testpack agar hasilnya lebih akurat."
Alena menepuk dahinya dengan sebelah tangan. "Agam.. Agam.. makanya dengarkan dulu penjelasan orang, bukan asal mengambil asumsi. Tidak seperti yang kau kira, kesehatan Putri saya terganggu faktor usia kandungannya yang masih muda bukan mengidap penyakit serius. Bia juga sudah melakukan pemeriksaan dengan berbagai jenis testpack dan hasilnya positif."
Agam langsung memasukkan Bianca kedalam dekapan hangatnya. Tak terhitung berapa kali ia memanjatkan sujud syukur kepada Tuhan. Ia bersyukur bahwa kejadian nelangsa itu hanyalah mimpi belaka, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa ada calon anggota keluarga baru lagi didalam perut Bianca, kebahagiaan mendatanginya secara bertubi-tubi. Agam sampai tak bisa menafsirkannya melalui bait lengkara.
"Bi.."
"Iya Kak.." Bianca menepuk-nepuk punggung Agam yang terlihat bergetar, menangis mungkin? Jika memang menangis sudah pasti air matanya tidak lain dan tak bukan air mata haru kelewat bahagia.
"Bia..."
"Iya Kak.." Agam membenamkan wajahnya diceruk leher Bianca.
"Bianca...Istri kesayangan Kakak.."
"Hemm.."
Alena geleng-geleng kepala melihat interaksi mereka berdua, apakah mereka melupakan bahwa dirinya dan Dokter masih ada disini. Peka kalau mereka berdua butuh luang berdua, Alena pun inisiatif mengajak Bu Dokter yang sejak tadi hanya berdiam diri melihat pasangan tersebut. "Mari Dok, ikut saya keruangan lain. Biarkan mereka berdua melepas rindu.."
"Baik Buk." Mau diajak berkompromi, Bu Dokter dan Alena yang sedang menggendong bayi Altezza melangkah menjauh keruangan tamu dengan ruangan yang terpisah dari ruangan ini.
Agam melepas pelukan agar dapat menatap Istrinya dengan sepenuhnya. Ia menyingkirkan helaian anak rambut yang menghalangi wajah cantiknya sementara Bianca timbal balik, menyeka jejak air mata Agam. "Kenapa gak kabarin ke Kakak hmm? Gak peduli mau kamu marah atau usir Kakak dari sini, Kakak tetap akan datang kalau tahu kamu lagi mengandung buah hati kita yang berikutnya, Adek Ezza.."
"Bia juga belum lama tahu keberadaannya. Baru tahu kemarin lusa Kak. Niatnya Bia mau pulang besok sekaligus memberi surprise ke Kakak. Eh, Kakak udah datang duluan hari ini, kejutannya gagal dong.. padahal Bia sudah menanti reaksi berlebihan Kakak, pasti seru.."
Cup!
Tangannya bergerak, meraba-raba perut Istrinya yang masih datar. "Udah berapa minggu usianya?"
"Belum tahu Kak. Belum periksa di dokter kandungan."
"Nanti kita pergi bareng-bareng ke dokter kandungan ya? Kita periksa kandunganmu.."
Bianca mengulas senyum sambil mengangguk setuju, "Kira-kira cewek atau cowok?"
"Kakak maunya apa?"
"Cowok suka, cewek pun apalagi, biar keluarga kecil kita jadi lengkap. Tapi, alangkah baiknya kalo kembar, tambah ramai rumah kita."
"Gak-Gak! Satu aja Bia gak becus ngurus, apalagi tiga. Ntar kalau Bia lalai lagi, dibilang Istri manja dan teledor dalam mengurus anak." Singgungan Bianca langsung membuat Agam terpukul detik itu juga.
"Enggak sayang..Kakak gak akan mengulangi kesalahan kedua kalinya.. lupakan soal itu, Kakak hanya sedang lepas kendali. Kamu kan tahu gimana orang emosi, kata-kata pedas pasti terlontar semua."
"Dan kebanyakan kata-kata pas emosi itu apa adanya."
"Sekalipun itu memang benar, Bia itu Istri kesayangan Kakak.. gak peduli mau Bia seorang Istri yang gak becus, teledor, manja. Terlepas dari itu semua, Kakak tetap cintaaa... Pake banget ke Bia..Kakak cinta ke Bia gak pake alasan. Kurang lebihnya Bia, Kakak terima apa adanya."
"Ntar kalo anak kita udah banyak. Cinta Kakak udah ke bagi ke mereka berarti rasa cinta Kakak ke Bia bakal berkurang dong..?" Bianca jadi cemberut, berhasil menimbulkan rasa gemas pada Agam sehingga ia mencubit kedua pipinya yang sudah lebih berisi dari pada sebelum ia angkat kaki dari rumah mereka.
"Cinta itu satu, sayang itu umum. Kakak akan membagikan sebagian rasa sayang ke anak-anak kita nanti, sedangkan cinta hanya untuk Istri Kakak seorang, yaitu Bia..." Towelan dari jari telunjuk besar Agam menyapu hidungnya. Bianca mengerucutkan bibirnya berusaha menahan kedutan dibibirnya.
*****
"Eh Neng Bia? Tumben nongol disini lagi?" Celetuk Mang Jino yang mendapati Bianca dan seorang Pria sedang jalan-jalan melintasi kawasan bengkelnya.
__ADS_1
"Iya Mang. Udah tiga minggu Bia menetap disini."
Mang Jino melirik Agam yang sedang menggendong seorang anak kecil di soft structure carrier. "Itu Suami dan anak Neng?" Tanyanya lagi mendapat anggukan dari sang empu. Ia ingat, bahwa lelaki ini yang pernah diakui oleh Bianca sebagai pacarnya saat berkunjung ketempat ini.
"Wah!! Selamat atuh! Udah lama gak berkunjung kesini, sekalinya berkunjung, eh tahu-tahunya sudah bersuami. Sudah punya anak satu lagi."
Bianca kemudian melayangkan senyum ramah. Ia mengelus-elus perut ratanya. "Bia juga lagi hamil muda Mang. Do'akan ya semoga calon anak kedua Bia sehat-sehat terus hingga lahiran nanti."
"Aminn! Pasti atuh!" Mang Jino mengangkat jempolnya.
Agam melirik Mang Jino sinis sebelum menarik-narik ujung baju Bianca tak sabar. "Bia.. udah ayok.. katanya mau jalan-jalan.."
Di hempaskannya tangan kekar Agam yang singgah di pakaiannya lalu ia pun melayangkan senyum canggung pada Mang Jino yang menonton mereka berdua, "Bia permisi dulu ya Mang? Bia mau jalan-jalan dulu bareng keluarga kecil Bia.."
"Oke atuh! Hati-hati ya Neng!!" Serunya melambai-lambai tangan pada mereka yang sudah mulai menjauh.
*****
Bianca menyandarkan sisi kepalanya di bahu Agam yang sedang menggendong Altezza, mereka berdua sedang ada ditepi danau yang terbentang didepan sana, menikmati suasana sore hari yang damai dan tenang. Udara pun terasa sangat sejuk disini.
Tangan Bianca terulur menowel ujung hidung Putranya yang sedang mengedip-ngedipkan matanya polos. "Gede nanti, Bia mau jodohin Ezza dengan anak Tasya ah.. biar kaya kita.. pernikahan dilandasi perjodohan gak seburuk itu kan Kak? Buktinya kita berdua bahagia meskipun pernikahan kita hanya berdasarkan perjodohan."
Agam menyahut sambil mengusap-usap perut Bianca menggunakan satu tangannya yang bebas. "Jangan ah.. saat itu, Kakak udah terpikat sama Bia lebih dulu sebelum kita menikah. Untuk itu, kita bisa hidup sama-sama dengan mudah, walaupun Bia masih berhubungan sama si Lucas-Lucas itu sih.."
Dalam seketika, Bianca menegakkan punggungnya. Mereka berdua sedang bernostalgia. "Iya juga ya? Bahkan Bia udah lupa tentang itu. Ih! Bia labil banget sih waktu itu!" Bianca menggampar kepalanya sendiri atas kesalahannya dimasa lalu. "Masa iya masih mempertahankan hubungan gak jelas ditengah pernikahan kita?! Ini berbicara mengenai pernikahan loh! Ikatan yang kuat. Ikatan yang gak bisa di anggap main-main!!"
Agam meraih tangan mungil Istrinya untuk ia masukan kedalam ruang genggamannya. Fungsi sebenarnya agar Bianca tidak memukul kepalanya sendiri, bisa benjol disana. "Gak papa. Semuanya sudah berlalu. Garis besarnya, sekarang kita bahagia kan? Bahkan anak kita udah mau otw dua."
"Sekarang, Kakak tanya. Bia bahagia selama hidup dengan Kakak?" Tambahnya.
"Oh tentu saja bahagia lah! Pake triple banget lagi!!" Antusiasme sekali Bianca bergelayut manja di lengan Agam. Lelaki itu tersenyum tipis, akhrinya ia bisa melihat Istrinya kembali ceria dan penuh energik. "Kalo Kakak, gimana? Bahagia gak hidup bareng Bia yang cerewet dan kekanak-kanakan ini?!"
Bianca mendongak kearah Agam, memudahkan untuk Agam melabuhkan ciuman cukup lama di dahinya, kelopak netra Bianca tertutup secara otomatis menerima ciuman tulus darinya. Setelah menjauhkan wajahnya barulah Agam memberikan jawaban. "Gak usah ditanya. Saking bahagianya, Kakak gak bisa menjabarkannya melalui kata-kata maupun tindakan. Pokoknya Kakak bahagiaaa banget.."
"Love sekebun for Kakak!!" Seru Bianca semangat dua belas. Ia menyamankan kepalanya dibahunya sang Suami lagi.
"Too, sayang.."
...(Memories picture)...
...Bianca Dealova Christabel...
...Agam Ezekiel Arbyshaka + Altezza Reiki Arbyshaka...
Huaaa!! Ini ending yang sebenarnya!!
Itu reader yang sempat mengamuk nih! Bianca gak jadi ubi! untung saja Author baik😤
Setidaknya berikan apresiasi kalian untuk Author! Dukungan yang terakhir di cerita MWK!!
Kalau ada spin maupun sekuelnya, nanti akan Author kabarkan! Yah walaupun mungkin sudah beda lapak nantinya.. Regulasi NT sekarang ngelawak! Berat bingit buat Author remahan macam saya. Jadi, kemungkinan saya akan pindah lapak, insyaallah..
Padahal di NT sudah nyaman bangetðŸ˜
Dari sini, cerita MWK dinyatakan benar-benar telah usai ya. Gak ada lagi bonus part selanjutnya, huaa jadi sedih memprank para pembacaðŸ˜
__ADS_1
Kalau gak puas dengan endingnya kalian buat novel sendiri aja terus buat ending yang kalian inginkan, gampang kan?!😈🤨