Married With Ketos

Married With Ketos
Extra part 11


__ADS_3

Bianca mengambil koper lalu dengan gerakan terkesan buru-buru ia memasukan satu persatu pakaiannya yang ada didalam lemari kedalam koper. Ia sudah membulatkan tekad untuk pergi dari sini. Hidup tanpa Agam, tanpa Altezza. Ia memutuskan untuk pulang pada orang tuanya.


Bukannya ia tak menyayangi Altezza sehingga tak membawa Putranya bersama dirinya, tak ada yang lebih Bianca sayangin dari pada Anaknya, tapi ia teringat perkataan Agam, ia hanya lah seorang Ibu yang tidak becus.


Disini, Altezza akan mendapat kasih sayang lebih dari pada yang ia beri. Ada Agam dan juga pelayan lain yang bisa merawat dan mencintainya dengan sepenuh hati.


Usai mengemasi barang-barangnya dan hendak pergi, atensi Bianca tak sengaja teralihkan kearah meja yang terdapat beberapa bingkai yang berisi foto pernikahannya dan Agam, tidak ketinggalan foto mereka bersama dengan bayi Altezza.


Dengan embun yang membasahi pipinya, Bianca mengelus foto Agam yang ada didalam gambar, "Bahagia selalu Kak.. maaf, aku sudah jadi Istri yang gak guna dan gak becus dalam mengurus Altezza, putra kita.." Bianca mendongakkan kepala menghalau air mata yang kembali berdesakkan ingin keluar.


"Kamu gak boleh cengeng, Bia! Mungkin, ini adalah akhir dari jodoh kamu dan Agam!" Secepat kilat Bianca menghapus air matanya yang akhirnya luruh lagi dan lagi lalu meraih bingkai foto yang berisi mereka bertiga. Agam, dirinya dan Altezza. Biarlah ia membawa kenangan sederhana ini bersamanya.


Sedangkan Agam, baru sampai di mansion belum lama dari kedatangan Bianca. "Bi, Nyonya dimana?" Tanya Agam pada Bi Asri saat berada diruang tengah, ia mengedarkan pandangan kearah sekeliling, biasanya jam segini tempat nangkring Bianca diruangan tengah, menonton tv sambil menimang-nimang Altezza.


"I-itu Tuan--tadi Nyonya buru-buru keatas sambil nangis. Bibi gak tahu Nyonya habis ngapai--"


Belum juga selesai serentetan kalimat Ibu Asri, Agam sudah melangkah tergesa-gesa menaiki anak tangga, mereka berpapasan didepan kamar. Jantungnya nyaris berhenti berfungsi akibat melihat Bianca dengan koper berukuran cukup besar ditangannya. "Bia?! Kamu mau kemana?! Kenapa bawa koper?!"


"Gue mau pulang, minggir!" Bianca menepis tubuh Agam yang menghalangi jalan agar memberinya akses pergi dari sana, Agam lekas menyusulnya menuruni anak tangga dengan langkah tak kalah cepat dari Bianca yang sedang menyeret koper.


"Mau pulang kemana Bia?! Kita lagi berada dirumah!!"


"Aku mau pergi Kak! Pergi dari sini!"


"Kalo alasan kamu ingin pergi karena kejadian di kantor tadi, biar aku jelasin! Tadi, jas aku ketumpahan kopi, Perempuan tadi hanya bantuin aku membersihkan pakaian aku meskipun sudah aku tolak dengan keras."

__ADS_1


"Terus apa gunanya lo jelasin itu sekarang?! Toh keputusan gue untuk pergi dari sini udah bulat! Kalo lo berpikir gue pergi hanya karena kejadian tadi, lo salah."


"Bukan hanya karena itu, tapi rumah tangga kita memang sudah gak harmonis sejak Ezza lahir. Gue selalu berusaha untuk jadi Istri sekaligus Ibu yang terbaik, tapi lo hanya mau dimengerti tanpa mau ngertiin gue! Lo egois tahu gak?!"


Kini langkah Bianca sudah keluar dari mansion hendak menuju jalan yang mana sudah terparkir sebuah taksi yang di tumpangi Bianca kemari. Agam tak menyerah, ia tak berhenti mengejar langkah Bianca yang sedang mencurahkan segala gelora hatinya yang terpendam selama ini, lelaki itu berusaha keras mencoba menahan Bianca yang selalu ada cara menepis tangannya.


"Bia, jangan kaya gini.. kita selesaikan ini baik-baik ya? Jangan pergi.. jangan tinggalin aku sama Ezza.. kami butuh kamu..tolong, Bia.." Agam kembali menangkap pergelangan tangan Bianca lalu hanya dalam satu hentakkan, ia memasukkan Bianca kedalam pelukannya, tak peduli bahkan Wanita itu sudah mengamuk dalam dekapan eratnya.


"Please jangan pergi.. Berpikirlah realistis.. Bagaimana dengan Ezza? Bagaimana dengan aku? Bagaimana dengan rumah tangga kita yang sudah terbangun dari lama? kamu tega, ninggalin Ezza begitu saja? Putra kita butuh keluarga yang lengkap.. kasihani aku dan Ezza, Bia.." Suara berat yang selalu terdengar tegas, kali ini terdengar bergetar. Aura kharismanya menghilang antah berantah. Yang ada hanyalah kesenduan.


Sungguh, ia takut, takut kehilangan Istrinya yang sudah menemaninya sedari jenjang putih abu-abu. Wanita yang telah mewarnai hari-harinya saat dirinya dalam keterpurukan. Wanita yang sudah rela berjuang melahirkan Putranya. Bagaimana caranya ia bisa hidup tanpa separuh jiwanya?


Siapapun, tolong! Agam tak tahu bagaimana caranya mempertahankan Bianca disisinya. Ia tidak ingin Bianca pergi meninggalkan dirinya.


Terus terang, di satu sisi Bianca ingin menangis sekencang-kencangnya mendengar setiap penuturan Agam, ia ingin membalas pelukan Agam dengan sangat erat dan berbisik padanya, 'Aku tidak akan pernah meninggalkan, kalian. Kalian berdua adalah duniaku.' Tapi sayangnya di lain sisi, amarahnya menguasai hingga melebihi akal sehatnya.


"Sehat-sehat terus Kak. Gantikan gue ngurus Ezza, ya? Gue titip dia pada Kakak. Selamat tinggal."


"Enggak Bia! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku sama Ezza!" Agam menggeleng nanar, sebisa mungkin ia mengejar mobil yang perlahan tapi pasti sudah mulai melaju cepat meninggalkan dirinya dan segala kenangan mereka. Didalam mobil Bianca menutup kedua telinganya mencoba untuk menulikan pendengarannya, isak tangisnya tergugu. "Maafin, Bia Kak. Selama ini Bia belum bisa jadi Istri yang terbaik.."


"Mbak? Ini gimana?" Tanya Pak sopir turut prihatin melihat Agam yang gencar berlari mengikuti mereka dari balik kaca depan.


"Gak papa Pak.. lanjut aja.."


"Bia!!!"

__ADS_1


Bugh!


Kaki Agam tersandung sebuah batu hingga mengakibatkan dirinya tak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya dan berakhir jatuh tersungkur diaspal, ia tak bisa lagi mengejar kendaraan yang sudah jauh sekali dari jangkauannya, Agam menyalurkan rasa campur aduk, dimulai dari kalut, sedih, emosi yang menggerogoti jiwanya dengan memukul aspal dengan bertubi-tubi. Tak menghiraukan keadaan tangannya yang telah berlumuran darah segar.


Agam meraung hebat ditengah jalan. "Arghhhhh! Bia! Jangan harap kamu bisa lepas dari genggamanku! Sekalipun menyeret kakimu, aku tetap akan membawa kamu balik ke sisiku!!"


*****


Siapa yang menaruh bawang disini?🤧



...Jangan lupa mampir ke karya terbaru saya yaa.. Mungkin saja sesuai selera kalian🤗...


...Oh iya, mari berteman dengan Author😗...


Instagram:



Facebook:



...Jangan lupa difollow yaa biar rame.. Kalau ada yang ditanyakan mengenai cerita, bisa tanya-tanya lewat DM🤗...

__ADS_1


...Atau kalau Author kelamaan update-nya, kalian bisa teror melalui akun sosmed Author yang tertera diatas.....


__ADS_2