
Apakah ada hal buruk yang terjadi dengannya? pikir Bianca melupakan ketegangannya.
"Ternyata lo masih berani ketemu sama gue setelah apa yang gue lakuin ke lo?" Samuel memberikan sebuah senyuman kepada Bianca tapi terlihat pahit. Tidak seperti biasanya senyum ramah.
"Kali boleh jujur. Gue takut banget ketemu lo lagi. Tadi saja saat gue baru nginjak di muka pintu cafe. Gue udah gemetaran." Tutur Bianca jujur apa adanya. Samuel terkekeh kecil. Aneh sekali. Kalau tadi senyuman pahit. Sekarang, kekehan miris.
"Ada sesuatu yang terjadi sama lo?" Bianca mendadak penasaran. Dan di mulai lah percakapan mereka yang intens dalam mode serius.
"Kentara banget ya?" tanyanya mendapat anggukan Bianca sebagai tanggapan.
"Gini deh. Seperti apa yang gue katakan di pesan, gue ngajak lo ketemu cuma mau minta maaf doang. Gak akan macem-macem. Gue gak ada maksud buruk juga kok ke lo. Hari itu sejujurnya gue nyulik lo gak ada niat mau bahayain lo. Tujuan gue hanya jadiin lo sebagai umpan untuk mancing kedatangan Agam."
"Tunggu tunggu!! gue bingung deh sama lo. Lo abu-abu banget. Di sekolah aja lo sama Agam gak ada interaksi sama sekali. Tapi, kenapa tiba-tiba jadi punya dendam? salah Agam sama lo apa?"
"Gue gak dendam. Lebih tepatnya benci doang."
Bianca mendelik samar. "Apa bedanya coba." Gumamnya aneh.
"Yang intinya gue minta maaf. Sampein juga ya permintaan maaf gue ke Agam. Gue sadar. Kalo kebencian itu malah mendatangkan bencana. Bukannya puas, lukanya malah nambah." Samuel tersenyum getir.
"Penyebab lo benci sama Agam Apa?" Satu pertanyaan yang terngiang-ngiang di kepala Bianca.
__ADS_1
"Nanti juga lo bakal tahu. Cepat atau lambat, kalian akan bertemu dengan dia. Yang intinya, gue gak bisa cerita. Kalian akan tahu melalui dia."
"Dia?" Gumam Bianca jadi semakin bingung.
"Oh iya gue mau jujur. Sama lo doang loh ini. Karena lo termasuk orang berharga bagi gue. Gue sayang ke lo. Sebagai adek." Samuel berkata masih berbicara kepada Bianca.
Percakapan mereka masih berlanjut. "Yaudah iya terserah lo mau sayang gue sebagai apa. Asal jangan ada perasaan aneh-aneh. Ehm-- seperti rasa cinta gitu."
"Gak, enggak." Samuel mengelak, tangannya melambai-lambai turut tidak membenarkan."Gak mau gue saingan sama---" Samuel melirik Bianca sejenak, sepertinya belum saatnya Bianca mengetahui ini. Ia tidak berhak untuk memberitahu. Merepotkan jika harus bercerita panjang lebar. Biar lah itu menjadi urusan Ayahnya saja. 'Kakak..' sambungnya dalam hati.
"Sama?" Bianca membeo penasaran. Bahkan keningnya hampir menyatu masih menunggu ucapan Samuel selanjutnya. Samuel terkesiap kemudian kelihatan canggung. "E-h enggak kok." Ia menyengir memamerkan deretan gigi putihnya.
Bianca merotasikan matanya kesal. "Gaje."
"Mau denger kejujuran dari gue?"
"Apa?" tanya Bianca sedikit malas.
"Sebenarnya anak yang di kandung Sherly anak gue."
"Hah?" Kali ini Bianca benar-benar kaget dengan pernyataan Samuel.
__ADS_1
"Sumpah gak boong lo?!!" Damrat Bianca dengan nada suara naik beberapa oktaf. Cekatan, Samuel membekap mulutnya. "Ssst, kita jadi pusat perhatian." Bianca cengar-cengir tak berdosa mengusap tengkuknya kemudian ia celinguk kanan-kiri, benar sekali seisi cafe menyorot kepada mereka.
"Terus, gimana kabar Sherly sekarang?"
Kontras raut Samuel terlihat jelas sekali langsung berubah. Lebih di dominasi oleh kesedihan dan terlihat murung. "Kayaknya beritanya belum menyebar sampai ke sekolah."
"Semenjak dia di keluarin dari sekolah. Gue belum ada dapat kabar sama sekali tentang dia. Kami juga kan gak seakrab itu untuk bertukar kabar."
"Dia udah meninggal."
Tiga kalimat yang berhasil membuat Bianca bungkam. Ia terpaku mendengar kabar buruk itu.
"M-meninggal?"
"Kenapa bisa meninggal? penyebabnya apa? kecelakaan? atau hal lain?!"
Bianca melayangkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Samuel tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah ia jujur kalau penyebabnya adalah dirinya sendiri?
Akhirnya Samuel memilih berdiri kasar dari duduknya. Mukanya ia buang berusaha menyembunyikan cairan bening yang menitik dari pelupuk matanya. Sepertinya, sudah cukup. Ia harus mengakhiri obrolan mereka. Mau di taru di mana mukanya kalau memperlihatkan sisi cengengnya di depan Bianca. Setidaknya, ia sudah minta maaf.
Langkah jenjang Samuel membawanya beranjak dari sana, ia mengusap air matanya dengan kasar dan mengabaikan panggilan-panggilan dari Bianca yang keheranan kepada Samuel main pergi tanpa pamit pula.
__ADS_1
TBC.