Married With Ketos

Married With Ketos
Rencana licik


__ADS_3

Ting tong, Ting tong.


Nathan membunyikan bel rumah milik Camella beberapa kali, Nathan sering mengunjungi rumah Camella setelah pulang sekolah. Usai mengganti seragam sekolahnya di rumah, Nathan langsung pergi mampir kemari. Hubungan Nathan dan keluarga Camella sudah membaik. Terutama dengan Vendra. Bapak Camella telah minta maaf atas perlakuannya terhadap Camella dan Nathan, kepada yang bersangkutan, jelas mereka tidak akan mempermasalahkan hal tersebut.


Ceklek.


Melti membuka pintu, karena sejak tadi bel rumah mereka tidak mau berhenti, "Oh, Nathan? Tante kira anak tetangga yang sering iseng, ngerjain kami di rumah ini." ujarnya, lalu mempersilahkan Nathan masuk, akhirnya mereka pun masuk secara berurutan.


"Nathan nyari, Camella?" tanya Melti sambil melangkah untuk menuntun Nathan keruang tamu. "Iya Tante." jawab Nathan, tiba di ruangan tamu, Nathan mendudukkan dirinya di sofa tanpa sungkan lagi.


"Camella lagi keluar sama, Kakaknya. Nathan mau nunggu?"


Nathan manggut-manggut, salahkan dirinya yang tidak sempat mengabarkan Camella. "Iya Tante, Nathan bakal nunggu. Emang, Camella sama Darren, keluarnya ke mana Tante?"


"Tadi Camella ngajak Darren ke pantai, lagi ngidam ikan harus hasil pancing Darren, katanya."


Nathan geleng-geleng kepala mendengar hal itu. "Ada-ada aja." gumamnya mengasihani Darren, pasti sekarang ia tengah depresi seperti yang pernah di alami dirinya.


"Yaudah, kamu tunggu di sini bentar yah, Tante ke dapur dulu, mau buatin minum."


Nathan kemudian mengangguk. "Iya Tante."

__ADS_1


***


"Mau kemana?" Tanya Agam bingung melihat sang istri sudah tampil cantik-cantik, Bianca tengah merapikan helaian rambutnya, sambil mengamati pantulan dirinya sendiri di cermin. "Bia mau keluar, nemenin Zella beli hadiah untuk Mamanya." jawab Bianca tanpa menoleh.


"Sekarang hm?" Agam memeluk Bianca dari belakang, istrinya mengangguk atas pertanyaannya. Agam lalu menolehkan pandangannya kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 05:30 sore.


Kemudian fokus dengan kegiatannya mengalihkan rambut Bianca yang tergerai bebas dalam satu genggamannya, dan menepihkan nya. "Pulang, jam berapa? ntar gue jemput." Agam memberikan kecupan ringan di tengkuk Bianca sekilas, "Hmm? gak perlu. Bia bareng Zella aja soalnya kata Zella, dia yang bakal nganterin Bia pulang." balasnya.


Agam menarik tangan Bianca untuk ia hadapkan kepadanya, kemudian meneliti paras cantik istrinya dengan seksama, tangannya terangkat, mengusap bibir pink Bianca yang terpolesi oleh lipstik yang seadanya, tidak terlalu tebal namun mampu membuat Agam berdecak tidak suka,"Ck, lo gak boleh make ginian, makin jelek. Tahu gak?" oceh nya dengan kening menekuk kesal.


"Masa sih?" Bianca kembali memutar badannya, melihat dirinya di kaca cermin. "Cantikan tadi, perasaan. Kayak gini, gue kelihatan pucat." Bianca hendak meraih lipstik nya, berniat akan memakainya lagi, tapi Agam menahannya. "Ih gak boleh pake lagi Bi. Lo tambah cantik, ntar banyak cowok genit yang lirik-lirik lo." ujarnya menarik tangan Bianca.


"Katanya tambah jelek." Bianca mencibir.


"Swuamwinya Bwia.." sahut Agam sambil menyunggingkan senyum tak kalah merekah dari Bianca, kemudian di tengah itu, bunyi klakson mobil beberapa kali merusak momen romantis tersebut, "Kayaknya jemputan aku udah di depan." Bianca akhrinya menurunkan tangannya, menyudahi aktivitasnya yang memencet-mencet pipi Agam.


Agam menangkup wajah Bianca, dan menciumnya lama di kening, "Hati-hati di jalan, ya? jangan lama-lama. Jangan makan dulu dari luar. Aku nunggu kamu di rumah, terus kita bisa makan malem bareng." tuturnya setelahnya. Bianca menganggukkan kepalanya.


Ting


Bianca mengambil ponselnya yang berdenting di atas meja riasnya.

__ADS_1


...Zella...


Bia, aku udah di depan.


^^^Oke^^^


Usai mengetikan balasan, Bianca berpamitan dengan Agam dan segera turun, menyamperi Zella yang sudah berada di depan.


***


...Zella...


Rencana di mulai.


Sudut bibir Samuel terangkat sebelah membentuk sebuah senyuman yang teramat licik melihat pesan yang tak lain dan tak bukan adalah dari alatnya. Gadis berkacamata itu yang membantunya dalam merealisasikan misi-nya kali ini.


Mengenal Zella meski dalam waktu yang belum lama, namun Samuel sudah cukup mengenal mengenai bagaimana karakter Zella. Gadis lugu, huh?


Dia hanya lah gadis yang licik yang berkedok sebagai gadis polos. Bahkan, ia sampai mengacungi jempol kepada Zella yang bisa menutupi dengan rapi kesan watak aslinya.


Kacamatanya yang menyamarkan ia menjadi orang cupu, itu hanya lah hiasan semata.

__ADS_1


***


__ADS_2