
SEHARIAN ini Mika jadi malas melakukan apa pun, ingat APA PUN. Apalagi dari semalam Arga terus mencoba untuk menghubunginya, namun Mika tegaskan sekali lagi ia sedang malas melakukan apa pun, termasuk mengangkat panggilan dari ArgaLesu amat,” tegur Gilang sambil menyodorkan susu kotak ke hadapannya.ka menerima dan langsung meminumnya. Tapi ia tak menjawab pertanyaan GilangCapek ya? Gara-gara semalam rapata mengangguk, iyain biar cepatKata gue juga apa, mending jadi kupu-kupu. Enak, Nggak usah ikut rapat sini rapat sana. Mending tidur.acot bet njir, batin Mikabis ini lo mau ke mana,ka mengendikkan bahunya.
Paling perpus.Perpus ? Nggak salah lo ? Tumben tumbenan lo ke per—”
“Gue mau tidur, oke ? Jangan ganggu gue,” ujar Mika lalu berlalu begitu saja dari hadapan Gilang.emudian Mika melangkahkan kakinya menuju Perpustakaan. Tiba tiba di sela perjalanan, seorang cewek menghampirinyaMika, ya,” tegurnya.Mika mendongak. “Iya, lo siapaewek itu tersenyum. “Gue mau ngomong sama lo. Tapi nggak di sini.”a udah, Perpustakaan aja.ewek itu mengangguk. Lalu keduanya melangkah dalam diam menuju PerpustakaanGue Hana,” ujarnya ketika sudah di Perpustakaanika diam seraya menyimGue Pacarnya Reno
Mika membulatkan matanya. Sedikit kaget lalu kembali menetralkan kembali ekspresinyabYeus hubungannya sama gue apa,”na menghela napas. “Gue denger dari anak fakultas lo yang kebetulan temen gue kalau lo sama Reno dekeyaMereka bilang kalau kalian deket lebih dari sekadar temen,Kata siapa,emen gue.Gue cuma anggap dia temen, Nggak lebih.”Masalahnya bukan di situ. Tapi lo yang seolah ngasih harapan ke dia.”
“Lo ngomong apaan sih? Lo kan paca
“Dia berubah. Dia jadi ngabaiin gue karena kehadiran lo.ika menghela napasnya lelah. Niatnya ingin jauh dari Gilang agar mendapatkan ketenangan malah ketemu dengan ratu drama.
“Ya udah sekarang lo maunya apa,”
“Gue mau lo jauhin dia.”
“Ya Udah gampang,” ujar Mika dengan cepat.
Hana memegang kedua lengan Mika. “Beneran," tanyanya dengan mata berbinar.
Mika melepaskan lengan Hana yang ada di atas lengannya.
“Apaan sih anjir.”
“Gue ngomong gini karena kita sesama cewek. Cewek yang baik Pasti tahu Perasaan cewek lainnya. Lo nggak mau kan lihat Pacar lo selingkuh gitu aja.”
Selingkuh.
Selingkuh.
Selingkuh.
Kata kata itu terus saja terngiang dikepala Mika. Lagi-lagi bayangan cewek yang memakai Pakaian Arga yang terlintas dikepalanya.
“Mik, lo denger gue, kan,” tanya Hana sambil melambaikan telapak tangannya di depan wajah Mika.
“Eh, i... iya gue denger.”
“Ya Udah kalau gitu. Gue cuma mau ngomong gitu doang. Makasih,” ujarnya lalu berlalu dari hadapan Mika.
“Nggak jelas,” dengkusnya lalu menelungkupkan kepalanya di atas lengan dan mulai memejamkan matanya.
...•••••...
Mika merasakan badannya seperti digoyang goyangkan. Karena hal itu Mika menegakkan badannya dan sedikit mengucek matanya.
“Neng, bangun.”
“Neng Perpusnya Udah mau tutup,” ucap ibu Penjaga Perpustakaan dengan ramah.
Mika menatapnya bingung.
__ADS_1
“Emang sekarang jam berapa, Bu,”
“Jam 4, Neng.”
Gila! Mika tidur hampir 3 jam an. Ia lantas membereskan tasnya.
" Makasih, Bu, udah dibangunin,” sahutnya lalu melangkah keluar Perpustakaan.
Ini artinya ia sudah melewatkan 2 SKS begitu saja. Dan walau ia masuk ke kelas sekarang sama saja percuma, karena 15 menit lagi mata kuliah sudah beres. Daripada bingung, ia lebih baik memutuskan untuk Pulang saja.
Bodo amat dengan rapat. Pokoknya ia sedang tidak mood ngapa-ngapain. Pada akhirnya Mika pulang dengan memesan ojek online.
“Neng, itu hapenya bunyi terus,” ujar Pak Supir.
“Biarin deh, Pak. Orang kurang kerjaan.”
“Siapa tahu Penting, Neng. Lihat aja dulu,” sarannya.
“Iya, Pak.”
Mika yakin Pak supir merasa terganggu dengan suara dering handphone-nya. Akhirnya Mika mengalah dan mengecek notif LINE-nya.
...Arga...
...Angkat teleponnya...
...Arga...
...Arga...
...Sayang...
...Arga...
...Dia cuma temen...
...Arga...
...Please angkat telepon gue...
...Arga...
...Gue nggak selingkuh asal lo tahu. Gue cuma cinta sama lo...
...Arga...
...P...
...Arga...
...P...
__ADS_1
...Arga...
...P...
...Arga...
...P...
...Arga...
...Mika...
...Arga...
...Sayang...
...Arga...
...angkat telepon gue...
...Arga...
...Dengerin dulu Penjelasan gue...
Mika memasukkan kembali handphone nya dan tentu saja men silent benda Pipih itu terlebih dahulu.
“Rumahnya yang catnya warna apa, Neng?”
“Krim, Pak. Yang itu.” Mika menunjuk rumah yang ada di depannya.
Pak Supir berhenti tepat di rumah Mika. Mika memberikan ongkosnya lalu si ojol pergi setelah mengucapkan terima kasih.Mika melangkah ke dalam rumah dengan kedaan lesu. Kalau kemarin ia lesu karena capek fisiknya, kalau sekarang ia capek dengan batinnya. Setelah sampai di kamar, Perutnya tiba tiba saja berbunyi. Mika lupa kapan terakhir ia makan. Lalu dengan langkah gontai, ia melangkah ke dapur.a mengeluarkan mie instan yang ada di lemari lalu mulai memasaknya. Sebenarnya ia sudah bisa memasak beberapa jenis makanan, tapi nyatanya ia tak memikirkaan dengan apa makanya kali ini. Tapi ia mémikidkat yang Penting ia bisa makanetelah selesai ia memakanya dengan rakus, seolah belum makan selama 2 hari 2 malam. Setelah selesai dengan urusan Perutnya ia kembali ke dalam kamar. Mika kembali mengeluarkan handphone nya. Dan sialnya, handphone nya tengah menyala menandakan adanya Panggilan dan yang lebih sialnya lagi nama yang tertera di layar Ponselnya adalah Arga
Mika mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum mengangkat Panggilan tersebut.
“Hallo“Apa?” jawab Mika cuek.
“Gue mau jelasinJelasin apa ? Yang lo bawa cewek masuk ke dalam apartemen?“Denger—”
“Terus cewek itu Pake baju lJanUdah ngapain aja sama cewek itu Udah bosen sama gue, makanya car ..."
“MIKA!!!” sentak Arga di seberang sana.
ika sontak langsung diam.erdengar helaan napas ArgGue bisa jelasin. Dia temen gue.Temen tapi tukeran baju,"emaren dia minta tumpangan Pulang ke gue. Karena kasihan, gue anter. Tapi di tengah jalan tiba-tiba aja hujan gede banget. Gue mutusin buat ke apartemen gue dulu karena jaraknya udah deket.”
Terjadi hening beberapa saat.
“Udah,Demi apa pun, Nggak terjadi apa apaTerus, gue harus Percaya ? Cuma lo, cewek itu, sama Tuhan yang tahu apa yang udah lo berdua lakuin,” jerit Mika seketikaKalau lo nggak perca—”
Gue emang Nggak Percaya Kalian berdua di dalem apartemen, baju kalian basah, di luar hujan. Emang apa lagi yang dilakuin kecuali itu,” jerit Mika lagiNggak, gue Nggak ngela—“Udahlah, terserah apa yang mau lo lakuin gue Nggak Peduli,”an setelah Mika menutup teleponnya, langsung saja air matanya turun begitu saja. Ternyata Aids itu tak seasyik yang ia Pikirkan
...•••••...
__ADS_1