Married With Ketos

Married With Ketos
Teror lagi?


__ADS_3

Plangggg


Nampan beserta isi-isinya telah terjatuh ke lantai dan berserahkan di sana. Agam terkejut bukan main mendengar perkataan Bianca. "M-maksudnya?" tanyanya terbata-bata. Dia masih terdiam di posisinya. Mengalami shock luar biasa.


"Gue, pengen pulang ke orang tua gue."


Mendengar pernyataan itu, Agam sontak beranjak cepat dari tempatnya, mendekati Bianca, tak mengindahkan rasa sakit yang ia dapat akibat pijakan kakinya di beling-beling kaca yang pecah berserahkan di lantai.


Dia langsung memeluk perempuan itu dalam posisi baring. Tubuhnya lebih rendah dari Bianca, yakni, kepalanya di perut perempuan itu. "Jwngwan twingwalin gwe..." gumamnya teredam di perut Bianca. Pundaknya terlihat bergetar. Sampai membuat kening Bianca mengrenyit bingung. Nih cowok kenapa? batinnya. Bahkan puluhan kali kata maaf di lafalkan lelaki yang sedang memeluknya seraya menangis sesenggukan. Persis seperti anak kecil yang takut di tinggalkan oleh Ibu-nya.


"Kakak kenapa sih? emang sesedih itu gue pergi?"


Agam mendongak menampakkan wajah sembabnya di karenakan air matanya yang meleleh. "Jangan tinggalin gue.." lirihnya parau. "Janji, gak bakal ulangi lagi, mabuk-mabukkan sampe gak sadar ada yang cium. Tapi, sumpah Bi, gue gak sadar, gue gak inget--"


Di detik-detik Agam yang sedang berceloteh, menjelaskan secara detail tentang itu, tangan Bianca terulur, menyugar rambut lelaki itu kebelakang lalu berikutnya, menangkup rahangnya, sesekali mengusap air mata Agam yang terus turun tanpa komando. Suaminya ini benar-benar cengeng. Serta merta, Bianca berulang kali manggut-manggut sebagai tanggapan atas pemaparan Agam. Setelah lelaki itu selesai berkicau, Bianca lantas merendahkan kepalanya dan memberikan ciuman di kening suaminya itu. Mata Agam spontan tertutup mendapat kecupan singkatnya.


"Udah, jangan nangis lagi. Cowok kok cengeng!" maki Bianca setengah bercanda.


Agam menyungut seraya mengusap hidungnya yang memerah karena menangis. "Maka dari itu, jangan tinggalin gue.."


"Gak bakal lama Kak, gue cuma kangen sama Bunda dan Ayah. Pengen ketemu mereka."


"Hah?" Agam tiba-tiba speechless dengan ini.


"Kenapa?" Bianca menjadi heran sendiri melihat Agam yang nampak linglung.


Agam melepas pelukan, dan menarik dirinya dari Bianca, sedikit menjauhkan jarak mereka. "Tunggu-tunggu, jadi, maksud lo, mau pulang ke orang tua lo-- itu bukan berniat akhiri pernikahan kita?"


"Hah?" Gantian Bianca lagi yang membeo. "Kok jadi akhiri pernikahan sih?"


Agam melentangkan posisinya, menutupi permukaan matanya dengan lengan. Sial! hanya merugikan air matanya saja!


"Kak?"


"Hm?" Agam menatap Bianca yang kini memegangi perutnya, "Lapar.." adunya.


Agam beringsut, memangkas jaraknya dan Bianca. Dia meletakkan telapak tangannya di dahi perempuan itu. "Masih panas." gumamnya. "Habis makan, minum obat." tambahnya sudah beranjak dari ranjang. Berniat akan menuju dapur kembali mengambilkan makanan baru buat Bianca.


Ada yang Agam lupakan. Kakinya yang terluka akibat serpihan kaca. Alhasil, langkahnya terpincang-pincang menuju ke arah dapur.


***

__ADS_1


Kebanyakan bila mengobati luka itu akan meringis ataupun merintih kesakitan. Agam berbeda, justru dia ketawa-ketiwi ketika Bianca mengolesi cairan alkohol di telapak kakinya. Salahkan posisi lukanya di sana hingga dia kegelian. "Bi, udah hahaha. Gue udah gak kuat, geli." adunya. Entah sudah kesekian kali dia tertawa lepas. Bahkan perutnya sudah terasa keram.


"Diem!" Bianca menahan kaki Agam yang bergerak kesana-sini. Lalu kembali mengoleskan kapas ke telapak tangan Agam. Itu lagi-lagi membuat tawa Agam kembali meledak. "Udah Bi, udah, gak di obati juga gak papa." ujarnya sudah ngos-ngosan. Kebetulan sekali, Bianca juga telah selesai mengobatinya. Selepas melekatkan plaster di beberapa bagian luka Agam, Bianca mengemasi kembali obat tadi ketempat nya semula yakni di kotak P3K. Lalu meletakkan kembali P3K itu ke tempatnya awal yakni di atas meja. Sebelum kembali ke ranjang, dia meraih gunting kuku di atas meja rias.


Kukunya sudah cukup panjang, ia harus memotongnya. Mengingat bila Bu Bona alias si guru killer itu merazia kuku, mistar panjangnya yang menjadi senjata andalan itu, kebasnya tak main-main jika menapak tepat di punggung tangan.


Bianca duduk di ranjang, memotong bergiliran seluruh kukunya. Di mulai dari kuku sepasang kakinya, sampai sepasang tangannya. Itu semua tak luput dari perhatian Agam yang kini sedang bertelanjang dada, tengah tengkurap di atas kasur seraya menopang dagunya dengan dua tangan, dua kakinya yang terangkat bergerak-gerak tak jelas.


Bukan aktifitas Bianca yang tengah memotong kuku itu yang ia perhatikan. Melainkan wajah Bianca yang terlihat serius.


"Selesai deh." Bianca menatap kuku-kukunya yang sudah terpotong rapi. Melihat Bianca yang sudah selesai, kini giliran dia lagi. Agam bangkit, mengubah posisinya menjadi duduk bersila. Dia mengulurkan tangannya, bertujuan agar Bianca memotongkan kukunya juga. "Potongin." pintanya. Bianca menurut, meraih tangan besar Agam itu dengan kasar. Walaupun sedikit tak ikhlas, dia tetap menuntaskan suruhan Agam dengan telaten.


Di tengah-tengah aktifitasnya, Agam mencuri beberapa kecupan di bagian pelipis, kening serta hidungnya. Bianca sampai risih di buatnya.


"Kakak bisa diem gak sih?!" sentak Bianca mulai kesal atas tindakan random yang di lakukan oleh Agam. Bukannya diam, justru sebelah lengannya yang menganggur kini sudah terangkat, detik berikutnya dia mengambil kepala Bianca dan ia jepit di sela keteknya.


"Ih kwak agwam!!!" Bianca memberontak, untungnya Agam membiarkannya lolos agar bisa melihat reaksinya selanjutnya.


"Ihhh bau huekkk!!" Bianca berlagak ingin muntah. Agam terbahak melihat wajah istrinya yang memerah.


"Lo gak tahu, hadits tentang mencium ketek suami itu bisa mendapatkan pahala segede meteor." kelakar Agam menjadi pelawak dadakan. Membuat Bianca mendelik. "Idihh hadits sesat dari mana tuh?!!"


"Gak sayang, mari sini rasain semerwanginya ketek Abang." Agam tak henti-hentinya mengusili Bianca yang terus menghindarinya.


"Ihhh! jauh-jauh Kak!!"


"Sini sayang.." Agam ikut beranjak dari kasur, cepat menuju ke arah Bianca yang sudah akan bersiap keluar dari kamar. Sebelum perempuan itu berhasil keluar, dia sigap menekan kembali pintu yang sedikit telah di buka oleh istrinya. Dia menguncinya kemudian.


Kedua tangannya bertenggar di dua sisi pintu mengurung Bianca di sana. Bianca yang awalnya memunggunginya kini memutar badan, mendongak agar bisa menatap wajah Agam.


Mereka berdua saling pandang dengan makna yang berbeda-beda. Agam menatapnya dengan raut jahilnya sedangkan Bianca dengan ekspresi cemberutnya.


Cup.


Bibir Agam mendarat di keningnya.


Cup, cup.


Lanjut di pipi kanan dan kiri Bianca dengan kilat. Bianca mendorong-dorong dada kokoh Agam agar dia bisa terbebas dari kekangannya. "Ih, udah Kak!"


Cup

__ADS_1


Kemudian yang terakhir, ciuman Agam mendarat tepat di bibir Bianca, hanya sekilas. Bila berlama-lama takutnya kebablasan lagi. Tubuh Bianca tak akan mampu.


"Kakak!" Bianca nyaris memekik ketika Agam dengan entengnya mengangkat tubuh kecilnya dan menggendongnya ala koala. Lelaki itu membawanya ke tempat tidur. Belum menurunkan Bianca, dia beringsut ke tengah kasur, menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang. Sedangkan Bianca, masih terkurung di pelukannya. Dalam posisi Agam berada di bawah dan Bianca berada di atas, sedang dipeluk oleh Agam. Bianca sedikit memberontak sebab merasa sesak dengan lilitan Agam yang erat di pinggangnya, menyembunyikan kepala Bianca di dada bidang telanjangnya.


"Jangan banyak gerak Bi, lo mau gue terkam lagi?" ujar Agam pemperingati.


"Makanya, longgarin dulu pelukan lo! sesek ini!" Bianca memukul lengan kekar Agam yang bertenggar di pinggangnya. Agam langsung mengendurkan pelukan mendengar itu. Akhirnya Bianca dapat bernafas dengan bebas.


Jika sedang kurang kerjaan, Agam suka sekali menjahili Bianca, seperti saat ini contohnya, kedua tangan Agam terjulur, menangkup pipi Bianca dan menekannya kuat hingga bibir sang empunya mengerucut. "Kwakwak!" Bianca memukul tangan Agam.


"Ngomong apa sih sayang? gak jelas banget." Agam tertawa kecil.


Di tengah-tengah kegiatan keduanya, tiba-tiba bel rumah mereka berbunyi, mereka dapat mendengarnya. Itu berhasil membuat aktivitas Agam yang mengusili istrinya itu tertahan. "Siapa?" tanyanya kepada Bianca yang juga tak tahu.


"Lo nanya sama gue?" Bianca menunjuk dirinya sendiri, di balas Agam dengan anggukkan, barangkali saja itu teman Bianca.


Perempuan itu malah mengedikkan bahunya tak tahu. "Gak tahu."


Bel itu terus berbunyi membuat Bianca terpaksa harus beranjak dari sana untuk melihat siapakah itu. Sebelum dia benar-benar beranjak, Agam menahannya. "Jangan, gue aja, lo di sini aja."


Bianca menatap Agam sejenak. Pasti suaminya ini takut bila kejadian di mana mereka di teror, itu terulang kembali. Tapi-- kakinya lagi sakit. Oleh sebab itu, Bianca sudah meyakinkan diri, biar dirinya saja yang membukakan pintu. Dia menepis tangan Agam. "Gak usah Kak, gue aja. Lagian, kaki lo masih sakit kan?"


"Gue ikut yah? takutnya---"


"Iya-iya." Bianca segera menyela ucapan Agam. Sejujurnya, dia juga takut. Baiklah, bila Agam bersikukuh untuk ikut ke bawah. Hanya untuk berjaga-jaga saja. Keduanya beriringan keluar kamar.


Tiba di depan pintu utama, mereka berdua saling tatap terlebih dulu sebelum Bianca membuka pintu.


Kosong, tak ada orang. Tapi---


Tepat di depan ambang pintu ada sebuket bunga tulip berwarna kuning. Agam yang tak ingin membuat Bianca shock seperti waktu itu, sudah mengambil tindakan lebih dahulu, dia berjongkok, mengambil bunga itu.


Ketika dia membaliknya, ada bercak darah kental di sana. Jangan lupakan, ada secarik kertas yang tercantum di bunga itu, 'DEATH' tulisannya sama persis seperti saat itu. Pandangannya mengedar ke sekitar. Tak ada siapa-siapa.


"Bunga dari siapa kak?" tanya Bianca di belakang Agam. Agam bangkit berdiri dari jongkoknya, belum berbalik arah kepada Bianca, dia sontak membuang bunga itu ke tong sampah agar Bianca tak melihatnya. Dia tak ingin membuat istrinya ketakutan.


"Gak ada Bi, mungkin bunga dari fans fanatik gue." Agam menyugar rambutnya kebelakang layaknya orang yang menebar pesona, agar Bianca tak penasaran lagi mengenai bunga itu.


"Cih!" Bianca berdecih sewot seraya kembali masuk kedalam rumah. Lelaki itu terlihat menyebalkan bila sudah dalam mode pede tingkat maksimal. Agam tertawa kecil, menyusul istrinya.


***

__ADS_1


__ADS_2