
"La.." Lucas memejamkan mata gelisah menahan pergolakan hasrat kehendak yang mulai menguasai logika. Aroma khas tubuh Zella yang menindih di atas tubuh kekarnya menyusup masuk ke indera penciumannya.
"Luc.." Zella menggigit bibir bawahnya terlihat genit sekali bahkan jemari-jemari tangannya menari-nari di dada Lucas yang masih terlapisi kain, desisan pelan meluncur dari mulut Lucas, pikirannya benar-benar di ambang batas. Ibaratkan kucing di berikan ikan. Nafasnya mulai memburu dan dalam sekali gerakan gesitnya, posisi mereka sudah terbalik.
Wajahnya mulai merendah karena sudah tidak bisa mengendalikan diri dan Zella tersenyum kemenangan tanpa sadar melihatnya, tapi di saat kedua bibir itu tinggal satu centi lagi, Lucas bisa menguasai diri. Ia seketika mengubah posisinya menjadi duduk hingga kedutan di bibir Zella memudar dengan sendirinya.
Meraup wajahnya gusar, Lucas kemudian berkata lirih. "Ella, ini salah.. lo gak boleh mancing gue kaya gini, gue juga laki-laki.." Ia bergerak kembali menyelimuti seluruh tubuh Zella yang tidak mengenakan sehelai benang pun.
Zella menahan pergelangan tangan Lucas di saat lelaki itu hendak beranjak dari ranjang, "Kenapa? kenapa Lucas gak mau sentuh Ella? apa Ella sekotor itu?"
Helaan napas ringan terlihat pada Lucas, ia menaikan selimut Zella yang melorot akibat gadis itu bangun dari tidurannya. "Justru itu La.. lo itu masih suci, jadi gue gak mau nodain elo.."
"Jadi, kalo Ella udah gak suci, Lucas mau nodain Ella?"
Menggaruk kening, Lucas bingung harus menjawab apa, pertanyaan Zella memang rumit untuk dirinya. "Gimana yah? gue udah jaga Lo dari kecil masa iya gue juga yang ngerusak? gue gak sebrengsek itu."
__ADS_1
"Tapi kalo sama Bia mau kan?" Zella menuntut jawaban kepada Lucas yang mengusap tengkuk kaku.
"Eumm? itu beda lagi ceritanya. Gue bukannya mau ngerusak-- lebih tepatnya gue pake rasa cinta kalo sama dia.."
"Terus, apa bedanya? itu sama saja ngerusak sebelum waktunya." Zella menunduk dalam, rasa campur aduk antara sedih dan kesal datang di waktu bersamaan mengingat ucapan selang detik lalu. "Kenapa bukan aku saja Luc? kenapa harus Bia? secinta itu kamu sama Bia?"
"Gue--cinta banget sama dia La.. dia itu obat gue, penyembuh gue.. matahari gue.."
"Meski, dia sudah memiliki Suami?"
Membeku. Lucas tertampar keras atas pertanyaan dari Zella. Ia diam tidak bisa berkata-kata, tidak tahu harus menjawab apa.
"Sampe--gue bisa lupain dia."
"Terus mau sampai kapan baru Lucas bisa ngelupain dia?"
__ADS_1
"Insyaallah secepatnya." Seketika Lucas memegangi bahu Zella, mereka bertatapan intens, "Lo mau ikut gue?"
"Kemana?" Dahi Zella berkerut bingung.
"Jawab pertanyaan gue dulu, apakah lo mau ikut gue sama Mama? atau lo masih ingin tinggal di negara ini untuk bokap lo?"
Zella semakin terheran-heran seketika otaknya di kelilingi oleh pertanyaan-pertanyaan, Lucas mengajaknya pergi dari Indonesia? terus kemana?
Menarik tangannya, Lucas lantas duduk bersila dengan kedua tangan menopang di belakang dan memberitahu Zella karena melihat rautnya yang kebingungan. Maklumlah sepertinya Zella belum cukup menelaah dengan baik. "Nyokap gue ada tawaran kerja di London. Gajinya lumayan besar. Gue jelas bakalan ikut sama dia sekaligus lanjutin pendidikan gue di sana. Dua Minggu lagi kami bakalan berangkat."
"London?" Lucas mengangguk singkat sebagai respon atas pembeoan Zella.
"Lo bisa milih La... gue gak maksa apakah lo mau ikuti gue sama nyokap gue kesana atau tetap tinggal di sini demi Papa lo."
"Gue mau ikut.. tapi---gimana dengan Papa?" lirihnya. Terlepas dari sikap Papanya yang kasar, tidak bisa Zella pungkiri ia tetap sayang kepadanya.
__ADS_1
"Lo bisa pertimbangin dulu, masih ada waktu untuk mikir."
***