Married With Ketos

Married With Ketos
EPISODE 49 ENDING


__ADS_3

DEAR LOVE


Gue Pikir lo itu yang Pertama dan terakhir di hidup gue Tapi nyatanya, lo bakalan nikah sama cowok lain Bukan salah lo juga sih tapi salah gue yang terlalu banci jadi cowok Kadang skenario Tuhan itu Penuh misteri ya Nggak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya Termasuk takdir kita Gue harap lo bahagia sama apa yang udah jadi Pilihan hidup lo Gue di sini akan selalu berdoa yang terbaik buat lo Lo harus tetap bahagia, walau nggak sama gue Mungkin seribu kata maaf nggak akan bisa ngerubah Pilihan lo Ataupun ngembaliin lo kesisi gue lagi Gue tahu itu mustahil


Gue bakal Pergi Tapi lo harus janji dulu Janji bakal terus bahagia sampai kapanpun Bener kata Lo. Suatu saat nanti, ketika kita Papasan di jalan kita cuma bakal fokus sama apa yang jadi prioritas kita masing-masing, nggak akan ada debaran apa pun lagi nantinya. Dan Pada saat itu terjadi, Lo harus udah bener-bener bahagia sama dia Lewat surat ini gue mau Pamitan sama lo Gue berharap lo bakal selalu inget sama gue Terlepas dari kenangan buruk tentang kita, gue cuma mau lo inget kenangan baiknya aja Lo harus tahu, Gue emang bisa berharap atas kebahagiaan lo Tapi ga akan pernah bisa liat lo bahagia sama cowok lain di depan gue Gue Pikir kita bakal selamanya Sampe Punya anak Di mana ntar kita bakal bingung buat nentuin namanya dan bakal rebutan buat jagainnya Tapi nyatanya itu cuma angan-angan gue aja Kapan Pun lo berubah Pikiran Gue bakal tetep jadi gue Yang selalu nungguin lo


Selama apa pun itu Tapi Sekali lagi gue ulang Kalau lo bahagia atas apa yang jadi Pilihan hidup lo Gue akan terus dukung itu


Sekarang gue udah mulai belajar ikhlasin lo Gue emang buruk buat lo, cuma bisa bikin lo nangis dan nggak bahagia Jadi semoga dengan adanya yang nggenatiin Posisi gue di hati lo


Lo bisa bahagia selamanya


Thanks udah Pernah jadi bagian terpenting di hidup gue Good bye Mika Aurora Atmadja


...•••••...


Arga melipat surat di tangannya serapi mungkin lalu dimasukkan ke dalam amplop yang telah ia siapkan. Tidak lama terdengar suara Pintu kamarnya diketuk.


“ Arga Mama boleh masuk,”


“Masuk aja Ma, nggak dikunci.”


Emi masuk ke dalam kamar Putranya. Lalu mengamati keadaan kamar yang sedikit acak acakan karena tengah melakukan Packing untuk keberangkatannya besok Emi lalu memilih duduk di samping Arga dan mengusap Pundaknya Penuh sayang.


" Kamu Nggak Perlu Pergi, Sayang.”


Arga memaksakan sebuah senyumannya. “Nggak apa-apa Ma. Lagian aku kan di sana sambil ngelola kantor cabang Papa.”


Emi tersenyum Lembut. “ Arga Mama tahu Perasaan kamu.”


“Ma, aku boleh minta tolong,”


“Minta tolong apa,”


Arga menyodorkan amplop yang berisi surat yang sedari tadi ada digenggamannya ke hadapan mamanya. “Tolong kasihin ini ke Mika. Harus ke tangan Mika ya, Ma,” ujarnya Penuh harap.


Emi mengembuskan napasnya.


" Kamu yakin Nggak akan dateng ke nikahannya nanti jam 10,” Arga mengangguk mantap.


" Yakin, Ma. Lagian kan jam segitu Pesawat aku take off,"


" Kamu juga berhak bahagia, Sayang. Mama harap di sana kamu bakal nemuin orang yang bisa nyembuhin luka di hati kamu.”


" Pasti, Ma.” Emi melepaskan Pelukannya.


“Di bawah ada Boby sama yang lainnya tuh.” Arga lalu beranjak dari duduknya.


" Ya udah aku ke bawah dulu deh.”


Emi tersenyum lalu mengangguk. Dengan begitu Arga keluar dari kamar dan menuruni tangga.


“Woy, Bro,” ujar Surya sambil menyalami Arga begitupun yang lainnya.


“Jadi lo ke Rusia," tanya Boby ketika Arga sudah duduk.


Arga mengangguk. “Jadilah.”


“Ya udah deh, entar kita anter lo ke bandara, sapa tahu kan itu bakal jadi Perpisahan kita yang terakhir,” celetuk Surya.


“Yee ... kalau ngomong bismilah dulu napa,” seloroh Ridwan sambil menimpuk kepala Surya dengan kulit kacang.


“Maksud gue kan Nggak ada yang tahu kalau ternyata Arga bakal menetap di sana selamanya,” balas Surya.


“Bilang donggg,” celetuk Boby


" Jam berapa lo take off,” tanyanya.


“Jam 10 an.”


“Lo yakin Nggak akan dateng ke nikahan Mika dulu, Arga,” tanya Ridwan yang sontak langsung disikut Perutnya oleh Boby.


“Awww Sakit anjir,” Ridwan mengaduh karena Boby menyikutnya tidak Pakai hati.


“Nggak apa-apa lagian semuanya juga udah beres kok,” ujar Arga


" Gue Nggak Pernah akan dateng.”


“Kenapa ? Seenggaknya lo bisa ngasih salam Perpisahan sebelum lo Pergi,” ujar Surya.


“Bener tuh,” timpal Ridwan.


“Semuanya Nggak sesimpel itu. Nggak ada jaminan kalau gue dateng, gue nggak bakal bawa dia kabur,” balas Arga sambil terkekeh.

__ADS_1


Sedangkan ketiga temannya malah menatapnya Penuh iba. Mereka tahu Arga tengah menutupi kesedihannya.


“Ya udahlah, semuanya terserah lo. Yang lo Pilih berarti itu yang jadi Pilihan terbaik lo,” ujar Boby.


" inget, cewek bukan cuma satu, sekarang Perbandingannya 1 cowok bisa dapetin 3 cewek, Bro. Dunia itu luas,” lanjutnya.


“Btw lo udah siap-siap,”


Arga mengangguk. “Udah.”


“Lo mau berangkat jam berapa,”


“Paling sekitar setengah 10 an.”


“Berarti setengah jam lagi.”


Arga mengangguk.


“Gue tanya sekali lagi, Arga. Lo yakin nggak akan dateng ke nikahan Mika,” tanya Ridwan dengan serius.


Arga tak menjawabnya tapi ia hanya mengulas sebuah senyuman kecil di wajahnya. Dalam lubuk hatinya yang Paling dalam, ia sangat ingin melihat Mika untuk yang terakhir kalinya. Tapi ia tersadar, jika ia mengikuti


Kata hatinya maka sama saja itu akan kembali membuka lukanya yang masih belum mengering.


...•••••...


Makin dekat langkahnya dengan bandara maka makin tak karuan juga perasaannya. Hatinya menyuruhnya tinggal tapi batinnya menuruhnya untuk Pergi.


Semua anggota keluarga mengantarnya ke bandara begitu Pula teman temannya.


“Sesibuk apa pun nantinya, jangan lupa buat Pulang ya, Sayang,” ujar Emi sambil memeluk Arga Penuh sayang.


Arga mengusap Pelan Punggung mamanya.


“lya, Ma.”


“Mama sebenernya Pengen tetep kamu tinggal di sini sayang. Tapi kalau ini Pilihan terbaik kamu, Mama nggak apa-apa. Yang Penting, kamu bisa bahagia,” ujar Emi tak kuasa menahan air matanya.


“Aku bakal Pulang kok. Sesering yang Mama mau,” ujar Arga menenangkan.


Setelah Puas, Emi melepaskan Pelukannya dan membiarkan Arga memeluk yang lainnya. Setelah memeluk Papa dan omanya, Arga menghampiri teman temannya.


“Thanks udah nganterin sampe sini.”


“Tahu nih,” timpal Surya yang ikut ikutan merangkul lengannya Pada Arga


“Jangan lupa Pulang lo, Bro. Senyaman nyamannya negeri orang, lebih nyaman lagi negeri sendiri,” ujar Ridwan menepuk Pundak Arga


“Nanti Pas lo Pulang gue mau lihat lo gandeng cewek baru,” celetuk Boby setelah melepaskan rangkulannya.


Arga nyengir dan mengacungkan jempolnya.


“Pasti.”


“Kalau Mika bisa bahagia sama cowoknya yang sekarang lo juga mesti bahagia. Nggak ada cewek, dunia lo Nggak akan kiamat.”


Arga menganggukkan kepalanya.


“Gue bakal inget.”


“Ya udah, gue Pamit Pergi. Pesawat gue take off 10 menitan lagi. Gue Pulang kalian harus udah Pada nikah,” ujar Arga sambil terkekeh sedangkan ketiganya langsung mengacungkan kedua jempolnya.


Lalu Arga berpamitan sekali lagi ke keluarganya sebelum benar-benar Pergi dari hadapan semuanya.


Arga memejamkan kedua matanya, berusaha menyimpan semua kenangan baik itu yang indah ataupun yang buruk dalam memorinya yang terdalam. ia ingin memulai semuanya dalam suasana baru, lingkungan baru, dan diri yang baru Pula.


Namun nyatanya, makin ia memejamkan matanya makin jelas Pula ingatannya tentang Mika, tentang bagaimana cewek itu bisa membuatnya jatuh cinta sedalam dalamnya, tentang bagaimana cewek itu yang membuatnya berada dalam titik terlemah dan tentang bagaimana ia bisa menyakiti Mika.


Arga membuka kedua matanya. Tak disangka, air mata sudah ada di Pelupuk matanya. Buru buru ia menyeka air matanya. “Banci,” gumamnya lalu terkekeh.


Namun bukannya lebih baik, tapi dadanya ikut berdenyut sakit. Ia benar benar tak bisa melupakan semuanya. Arga berjalan gontai menyusuri bandara menuju Pesawat yang akan ditumpanginya.


Biarlah, Biarkan semuanya berlalu. Lima tahun yang akan datang, Pasti semuanya akan kembali baik-baik saja, kan ? Tapi 5 tahun ke depan, mungkinkah Mika juga telah bahagia dengan hidupnya ? Apa lima tahun ke depan Mika sudah memiliki anak Atas Pemikirannya sendiri, Arga kembali memegang dadanya yang berdenyut sakit. Ada rasa iri di dalam benaknya. Membayangkan Mika memiliki anak dengan cowok lain saja sudah sangat membuatnya sakit, apalagi hal itu terjadi di depan matanya.


Andai saja waktu bisa diulang kembali, Arga bersumpah tidak akan menjadi sepengecut ini. Di mana lagi ia bisa mendapatkan cewek seperti Mika ? Atau Pertanyaan besarnya kapan ? Kapan ia akan menemukan sosok seperti itu lagi di hidupnya?


Arga sakit, teramat sakit. Tapi apakah Mika tahu ? Apakah ia merasakannya juga ataukah ia malah tengah berbahagia karena sebentar lagi ia akan resmi menjadi milik orang lain ?


...••••...


“Aw,” ringisnya memegang kepalanya yang terkena lemparan sesuatu.


Sontak Arga menoleh ke sekitar orang yang melempar kepalanya dengan sebuah botol kosong yang tergelatak di sisi kiri kakinya. Ke kanan tidak terlihat orang yang mencurigakan, begitu juga kiri. Lalu ia berbalik badan. Kemudian Pandangan Arga terfokus Pada satu titik. Arga sangat tak Percaya dengan apa yang tengah dilihatnya. Seolah-olah waktu terhenti, begitu Pun aktivitas di sekitarnya. Fokusnya hanya pada objek yang kini ada di depannya. Objek tersebut berjalan Pelan menghampiri Arga lalu mengelus Pelan rambut Arga. Namun entah mengapa Arga menghindar.

__ADS_1


“Ngerasa de javu Nggak,” tanya Mika dengan kerlingan jahil.


Arga masih tak mampu bersuara, seolah suaranya tiba-tiba lenyap begitu saja. Bahkan yang keluar hanya ucapan terbata yang bahkan Arga saja tak tahu apa yang keluar dari mulutnya.


“Lo ... kok bis—”


“Lo Nggak akan ngasih salam Perpisahan ke gue,” tanya Mika dengan raut terluka.


Arga tersenyum kecut, ia Pikir Mika berubah Pikiran.


" Lo tahu dari siapa gue bakal Pergi,”


“Ada yang ngasih tahu. Kenapa lo Pergi,”


“Gue bakal lanjutin Perusahaan Papa,” jawab Arga sekenanya walaupun alasannya untuk Pergi adalah karena cewek yang sekarang tengah berdiri di hadapannya.


Mika mengangguk Paham. “Ya Udah, semoga lo bahagia di sana,” ujar Mika Pada akhirnya.


Arga mengangguk. “Pasti. Lo juga harus bahagia di sini.”


Mika menganggukkan kepalanya. Dengan begitu Arga kembali melanjutkan langkahnya setelah memberikan ucapan selamat tinggal Pada Mika. Namun baru lima langkah ia melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja ada lengan yang melingkari Perutnya.


“Gue Nggak jadi nikah sama Reno,” ucap Mika singkat, Padat, dan jelas.


Arga berbalik lalu menatap Mika dengan tatapan bingung.


“Kenapa,”


“Lo masih tanya kenapa di saat gue nyusulin lo Pas hari nikahan gue ? Lo bego," tanya Mika kesal.


Arga kembali diam.


“Gue sayang sama lo, Arga Sekeras apa Pun usaha gue buat lupain lo, sesering itu juga lo muncul dikepala gue. Gue nggak bisa hidup tanpa lo Gue cinta sama lo, Arga,” balas Mika lantang.


Sudut bibir Arga sedikit demi sedikit terangkat ke atas membentuk senyuman lebar.


“Gue Nggak mimpi, kan,”


Langsung saja Mika menampar Arga


“Kok gue ditampar,”


“Lo Nggak mimpi, Arga.”


Arga memeluk Mika begitu eratnya, menyalurkan semua kerinduannya selama ini. “Gue juga cinta sama lo, banget. Sampe rasanya gue bisa mati tanpa ada lo di hidup gue,” ujar Arga kelewat bahagia.


“Kalau lo Cinta sama gue, harusnya lo dateng ke nikahan gue dan bawa gue kabur,” ujar Mika. “Tapi lo Nggak se gentle itu.”


“Gue emang lemah. Dan lo yang bikin gue selemah itu.”


“Janji Nggak akan jadi banci lagi,”


Arga mengangguk. “Gue Cinta sama lo. Lo harus tahu, gue Cinta mati sama lo,” gumam Arga tak jelas di telinga Mika.


“Makasih, makasih udah kasih gue kesempatan kedua. Makasih. Lo harus tahu, andai lo Nggak nyusulin gue. Mungkin gue nggak akan tahu lagi caranya hidup. Makasih,” gumamnya makin tak jelas.


Mika mengelus Punggung Arga lembut. Lalu melepaskan Pelukan cowok tersebut. Namun didetik berikutnya ia membelalak tak Percaya.


“ Arga lo nangis,"


Arga terkekeh sontak ia menghapus air matanya, bahkan ia tak menyadari kapan air mata itu menentes.


" Semenjak lo Pergi, gue jadi makin banci.”


Mika tersenyum lebar. “Cieee Cinta mati nih sama gue,” ledek Mika sambil terkekeh Pelan. Mau tak mau Arga ikut ikutan terkekeh Pelan.


Tiba-tiba saja Arga menangkup kedua Pipi Mika dengan menggunakan kedua tangannya.


“ l love you,” ujarnya tanpamu bersuara, namun Mika dengan sangat jelas mampu mengartikannya.


Pelan namun Pasti, Arga mendekatkan kepalanya Pada Mika dan tatapannya terfokus Pada bibir cewek yang ada di hadapannya. Mika memejamkan matanya ketika merasakan embusan napas yang makin lama makin dekat ia rasakan.


“Ehemm ....”


Sontak keduanya berjauhan saking terkejutnya dan berdiri dengan sama-sama salah tingkah. Bagaimana tidak di depannya sudah berdiri seorang bapak bapak Petugas yang baru saja menegur keduanya yang akan melakukan hal yang iya-iya ?


“Anak muda zaman sekarang ini tuh udah kelewat batas banget. Heran saya,” ujarnya lalu berlalu dari hadapan keduanya.


Baik Mika ataupun Arga sama-sama terkekeh. Lagi-lagi Arga memeluk Mika dengan tiba-tiba sehingga membuat Mika terlonjak kaget.


“I love you,” bisik Arga lagi tepat di telinga Mika.


...••••...

__ADS_1


__ADS_2