Married With Ketos

Married With Ketos
Ini adalah yang terbaik


__ADS_3

Level tertinggi dari mencintai adalah mengikhlaskan pemilik hati mu kepada seseorang yang membuatnya lebih bahagia dari pada apapun yang kamu berikan kepadanya.


Kadang kala cinta tak harus memiliki. Mungkin akan membuat hatimu menganga, sakit, luka yang akan awet. Namun, itu lebih baik dari pada harus membelenggunya di sisi kita, sementara itu akan melukainya. Bahkan lebih besar luka yang akan ia dapat di bandingkan luka kita yang melepaskannya untuk orang lain.


Fase ini sedang di alami oleh Lucas. Meski Lucas belum terlalu mengenal bagaimana karakter Agam, tapi ada satu yang membuat Lucas yakin, cinta Agam kepada sosok perempuan yang berhasil membuatnya nyaris gila.


Bianca.


Perasaan tidak rela itu tetap ada. Bahkan bisa di bilang jika Bianca bersedia, Lucas akan membawanya kabur ke mana pun, asal bisa menggiringnya bersamanya. Tetapi, Lucas tidak mau egois. Kesadaran dirinya membuat egonya runtuh.


Agam dan Bianca, saling mencintai. Dari dulu, dia memang sudah kalah telak. Tidak ada setitik harapan pada dirinya. Hanya untuk menghibur suasana hatinya yang gundah, resah, gelisah dan merana, kenyataan itu Lucas tepis jauh-jauh dari akal sehatnya.


Kini sudah saatnya, dirinya melepaskan dan merelakan Bianca kepada Agam. Nyatanya, mereka berdua memiliki perasaan yang sama. Lucas tidak ingin berada di tengah-tengah hubungan mereka yang sudah terikat dalam pernikahan.


Lucas sudah memantapkan hatinya untuk itu. Jadi, dia sudah mempunyai persiapan diri. Untuk menutup ruang hatinya dari penyembuhnya, Lucas akan pergi sejauh mungkin agar tidak kembali di pertemukan dengan Bianca baik secara sengaja atau pun tidak sengaja.

__ADS_1


Bianca, adalah segalanya baginya. Jika Lucas masih ada di ruang lingkup Indonesia, mau tidak mau kelak akan bisa bertemu dengan Bianca meski dengan cara ke tidak sengajaan. Dan itu akan membuat usahanya yang sudah ia bangun sedemikian rupa akan roboh dalam seketika.


Pukul 07:00 adalah jadwal penerbangan pesawat. Dan dalam waktu yang singkat, Lucas menyempatkan berpamitan dengan Bianca, sudah membuat janji tentunya. Ia akan menemui Bianca langsung di rumahnya. Karena Bianca berkata lewat telepon tidak ada waktu luang untuk keluar.


Beberapa kali membunyikan bel rumah, pintu terbuka oleh perempuan yang ia harap. "Luc? ayok masuk dulu." tawar Bianca mendapat gelengan dari Lucas.


"Gak ada waktu lagi buat masuk dan ngobrol-ngobrol bersama kamu dan Agam. Oh iya Suami kamu mana?"


"Di dalem jagain Adek-nya."


Lucas menggut-manggut, "Aku kesini hanya pamitan."


"Jauh. Aku gak bisa bilang." Tatapan Lucas nampak ragu, dan itu membuat Bianca tambah heran, "Kenapa?"


"Eumm-- boleh peluk?" Lucas mengusap tengkuk ragu-ragu. Sejujurnya tidak ada niatannya sampai kesana tapi mumpung Suaminya tidak ada, gunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, lagi pula ini adalah yang terakhir.

__ADS_1


Sedangkan Bianca pun tidak kalah ragu dan juga takut. "Gimana yah? kalo Kak Agam lihat bisa berabe." ujarnya.


"Untuk yang terakhir kali." Tidak peduli apa pun lagi ia tidak punya waktu panjang, Lucas maju dan menarik tangan Bianca, menyentakkan perempuan itu masuk ke dalam dekapannya. "Bentar aja kaya gini. Aku bakal pergi Bia.. selamat tinggal dan semoga kita gak pernah berjumpa lagi selamanya.." ucapnya dengan suara pelan nyaris berbisik. Bianca hanya diam tidak membalas pelukan namun tidak menolak juga.


"Bia?!! kamu di mana?!!" Agam menuruni struktur tangga mencari-cari keberadaan Bianca yang membulatkan matanya panik, ia mencoba mendorong dada Lucas yang malah sengaja semakin mengeratkan pelukan.


Bola mata Agam membesar hampir terlepas dari tempatnya kala melihat Bianca yang di peluk oleh Lucas di muka pintu. Kemudian dengan tidak ada rasa bersalahnya, Lucas malah menarik ujung matanya meledek kearah Agam yang makin marah.


Langkah jenjangnya melaju cepat ke arah mereka, "Heh ngapain lo peluk-peluk Istri ku Hah?!!!" Agam menarik Bianca sekuat tenaga, wajahnya berubah jadi ingin memakan orang hidup-hidup. Agam memeluk Bianca posesif menatap sangat sangat tajam ke pada Lucas.


Lucas mengangkat bahu acuh, "Peluk Istri orang memang bikin hangat dan nyaman," Langkah kakinya mundur sedikit demi sedikit.


"Ngajak gelut lo?!!" Agam mengurai pelukan dan melangkah mengambil ancang-ancang untuk menghajar Lucas, untungnya ada Bianca yang menahan lengannya. "Ih Kak, Lucas hanya mau pamit. Dia bakal pergi.."


"Pergi, pergi ke mana?" tanyanya kepada Bianca yang dapat di tangkap oleh telinga Lucas.

__ADS_1


"Rahasia!!" sahut Lucas sudah berbalik badan, kini langkahnya makin jauh menuju keluar gerbang. Tangannya ia angkat sebelah. "Jaga Bia untuk gue!!" teriaknya.


***


__ADS_2