
Setelah pekerjaannya selesai, Nathan membawa Camella ke ruangan khusus yang ada di restoran tersebut. Tempat yang mana menjadi tempat Nathan ketika istirahat, bahkan sampai menginap, jika malam sudah cukup larut.
"Malam ini kita nginap di sini dulu ya? diluar hujan deras banget. Kayaknya bakal awet deh." ujar Nathan kepada Camella yang kini tengah berbaring di pangkuannya. Mereka sedang berada di sofa panjang yang ada di ruangan itu. Di sini, terdapat satu kamar, yang bisa menjadi tempat bermalam. Camella mengangguk sebagai tanggapan, seperti yang pernah Camella bilang, ia akan ikut kemana pun Nathan pergi.
Nathan mengusap pelipisnya, Camella mengamati Nathan dari bawah. Lelaki itu kelihatan penat. Dari pada itu, sekarang ada gurat kesedihan di wajahnya. Bola matanya terlihat sendu menatap Camella. "Kenapa Nath?"
"Maaf ya? gara-gara gue, lo jadi ngalamin hidup susah, yang belum pernah lo alamin sebelumnya." ucapnya merasa bersalah.
"Gapapa Nath, ini semua sudah menjadi pilihan gue, jadi gak usah ngerasa bersalah."
"Hubungan lo sama keluarga lo--hancur karena gue." tutur Nathan lirih. "Seharusnya sat itu---gue gak lakuin itu, yang buat masa depan lo hancur dan ikut hidup susah bersama gue." lanjutnya terdengar miris.
Sepanjang hidupnya, Nathan telah mengalami masa-masa tersulit, di mulai dari di tinggal kedua orang tuanya, menumpang di rumah orang meskipun rumah itu termasuk rumah sanak saudaranya, tapi tetap saja ada rasa tak enak hati. Kemudian harus hidup mandiri di umur yang terbilang masih sangat mudah. Fase terberat sudah pernah ia lewati dan sempat kehilangan tujuan hidupnya.
"Sssttt." Camella tiba-tiba meletakkan jari telunjuknya di bibir Nathan agar lelaki itu berhenti berbicara seperti itu. "Jangan ngomong gitu, dia bisa denger." ujarnya memegangi perutnya.
Nathan tersenyum di padu raut sedihnya. "Boleh gue sentuh perut lo?" tanyanya meminta izin. Bukannya apa, dia tak mau sembarangan main pegang-pegang anggota tubuh wanita. Ya--walaupun sudah pernah ia jamah, bukan berarti serampangan asal rabah-rabah, takut sang empunya malah risih.
Camella mengangguk kecil. Karena sudah mendapat persetujuan, barulah tangan Nathan bergerak, mengelus perut itu dengan lembut. "Mell.. perut lo, udah sedikit berisi."
Iya. Memang benar, perut Camella sudah agak membuncit dari pada yang sebelumnya. Tak lama lagi, perut itu akan semakin menonjol.
"Mungkin--beberapa minggu lagi, gue bakal bener-bener berhenti sekolah. Lebih baik begitu, dari pada nanti pihak sekolah pada curiga." ujar Camella.
Kepala Nathan maju, agar telinganya bisa ia letakkan di perut Camella yang terlapisi baju. "Usianya udah berapa minggu?"
Otak Camella mendadak bekerja mendengar pertanyaan Nathan. Dia menghitung hari dengan jemarinya. "Hmm delapan minggu--atau sudah dua belas minggu yah? gak tahu deh gue lupa."
Nathan yang sudah menjauhkan kepalanya dari perut Camella itu hanya menggut-manggut. "Nanti kita periksa ke dokter kandungan. Biar tahu lebih detail."
Camella pun mengangguk atas ajakan Nathan. Lalu selang beberapa menit mereka termenung, entah apa saja yang berputar di memori mereka hingga dalam waktu yang cukup lama, keduanya hanya diam tak bersuara. Melihat Camella yang berulang kali menguap, Nathan bergerak, menyingkirkan kepala Camella dari pahanya.
__ADS_1
"Tidur yuk."
"Sekamar?" Camella bangun dari tidurannya. Nathan menggelengkan kepala. "Lo di dalem kamar, gue di sofa."
***
Plangggg
Gelas kaca yang sedang di teguk oleh Sherly seketika terlepas dan jatuh ke lantai ketika melihat lelaki itu datang menerobos masuk dari arah pintu, menyambangi ruangan kos-nya. Tanpa mau berpikir lebih panjang lagi, ia segera berlari memasuki kamar, dan menguncinya.
Brukk-brukk-brukk!
"BUKA J.A.L.A.N.G!!" Suara besar lelaki itu menyelam dengan ributnya deras air hujan berpadu geledek. Sherly memejamkan matanya takut, dia tersandar di daun pintu yang tertutup rapat.
"Layanin gue sekarang!!"
Brukk brukk brukk
"Buka?!!! atau gue gak bakal beri lo uang sepeser pun--dan Mama lo bakal---"
Mendengar gertakan itu, belum juga selesai perkataannya, dengan berat hati Sherly lekas membuka pintu. Dia langsung menarik tangan Sherly menuju tempat tidur dan menghempaskan Sherly ke kasur berukuran kecil itu.
"S-sam--kali ini jangan kasar.. a-ada--dia.." lirihnya.
Dia menindih Sherly. Dan mencengkram dagu Sherly kasar. Tatapan itu, yang Sherly benci. Tatapan menusuk yang tak ada sama sekali kelembutan dan kehangatan disana. Hanya--ada tatapan kebencian.
"Dia maksud lo apa bangsat?!!" Suara tinggi itu membuat Sherly tersentak, dia membuang muka, enggan menatap orang itu, matanya pun memejam takut.
"Itu--"
"Jangan bilang lo, hamil?!!" Selang detik, Lelaki berpakaian hoodie hitam itu geram karena Sherly hanya diam. Dia bangkit dengan kasar, mengubah posisinya menjadi duduk di tepi kasur yang tak beranjang itu.
__ADS_1
"Anak siapa?" tanyanya menurunkan suaranya beberapa oktaf.
Sherly bangkit dari tidurannya. Duduk di samping lelaki itu. "Lo pikir, anak siapa lagi kalo bukan anak lo?"
Lelaki itu menoleh pada Sherly. "Lo amnesia? atau-- perlu gue ingetin?" Jedanya tersenyum sinis, "Lo bukan cuma tidur sama gue doang!! banyak cowok yang tidur sama lo, bahkan sampe om-om yang sudah beristri?!!" sentaknya. Berhasil menohok hati Sherly.
Nafas Sherly naik turun karena ke sesak kan tiba-tiba menggerogoti dadanya. Tenggorokannya terasa tercekat mendengar itu semua. Iya. Dia tahu, dia sadar. Dia---rendah dan murahan. Air matanya luruh begitu saja. "Tapi-- semenjak ada lo, gue udah gak pernah tidur sama siapa pun lagi. Dan--gue--."
"Emang siapa yang peduli itu anak gue atau bukan?!" Dia mencengkram tangan Sherly, iris matanya menyalang menatap Sherly. Sherly menelan salivanya takut.
"Gugurin!!!"
Sherly menghempas tangannya kencang. "Jangan gila!! lo mau gue bunuh dia?!! dia itu manusia Sam! manusia! bahkan binatang saja sayang sama anaknya! dan lo--"
"Gue gak peduli, gue gak peduli!!!!" balas lelaki itu memekik. "Gue paling benci anak haram!! dan lebih baik dia mati dari pada harus lahir ke dunia ini!!" lanjutnya lagi seraya menjambak rambutnya frustasi. Dia berpaling pada Sherly, matanya memerah.
"Please, gugurin dia. Dan lo bakan dapet duit terus dari gue." bujuknya terlihat nyaris putus asa.
Gelengan kepala cepat dari Sherly langsung menyambutnya, sebagai tanda menentang perintahnya. "Mending gue cari uang dari cara yang lain, dari pada harus gugurin anak ini!!" pungkasnya. Gerakan cepat tangan lelaki itu memegangi perut Sherly dan meremasnya kuat. Seolah ingin segera membunuh janin yang tak berdosa itu.
"Gugurin!!!"
Sherly langsung beringsut menjauh darinya. "Pergi!!! gue gak bakal gugurin bayi ini sekalipun lo bunuh gue!!" Lelaki itu tetap pada posisinya, mengepalkan kedua tangannya, nafasnya memburu kerena dalam keadaan tekanan emosi mencapai ubun-ubun hingga urat lehernya pun menegang.
"PERGI SAMUEL!!!" Jeritnya sekali lagi meminta Samuel untuk pergi dari sana. Samuel berdiri dengan kasar dari duduknya.
"Gue peringatin! gue gak bakal tinggal diam! gue bakal lakuin segala cara untuk lenyapin bayi itu!!" sarkasnya sebelum berjalan keluar dan membanting pintu kamar milik Sherly hingga menimbulkan suara nyaring di keberisikan lebatnya air hujan.
Sherly menangis histeris seraya mencengkram rambutnya. Tangisannya terdengar pilu dan penuh ke putus asaan.
"GUE CAPEK, TUHAN!!"
__ADS_1
***