Married With Ketos

Married With Ketos
Pagi hari


__ADS_3

Pancaran sinar mentari pagi menyelusup masuk melalui cela ventilasi jendela kamar. Itu cukup mengusik tidur salah satu dari pasturi yang awalnya tertidur lelap di satu ranjang dalam balutan selimut. Di bandingkan itu, pelukan mereka lebih hangat dari pada apa pun.


Perlahan-lahan kelopak mata Agam terbuka di sambut cahaya matahari pagi yang menerpa permukaan wajahnya. Dia memicing menyesuaikan cahaya yang menyapa korneanya.


"Emhhh." Dia menggeliat kecil seraya mengerang, Agam memegang kepalanya yang terasa berat dan sedikit pening. Ketika kesadarannya mulai full, dia cukup terkejut dengan keadaan mereka. Lantas segera menyibak selimut. Matanya membelalak. Mereka--- tak mengenakan sehelai benang pun. Yang berarti---tadi malam bukan mimpi?


Tatapan Agam kemudian beralih pada Bianca yang masih tertidur pulas tepat di sebelahnya. Dia meringis melihat banyaknya tanda di area leher gadis---ralat wanita itu. Apakah tadi malam dia terlalu ganas? dia yakin tanda-tanda itu bukan hanya di bagian itu. Pasti ada di daerah lain tubuh istrinya.


Memorinya tiba-tiba melayang ke waktu semalam. Di mana dirinya dan Bianca menyatu untuk pertama kalinya.


Flashback On


Kombinasi s**uara de.sahan dan erang.an kenikmatan itu terdengar merdu di ruangan kedap suara itu. Di bandingkan suara Agam, suara Bianca yang lebih mendominasi di antara mereka.


"Ah, Kak... Pelan-pelan,"


Agam tak menghiraukan keluhan Bianca, dia dengan gencarnya terus berpacu dalam ritme cepat. Menghentak-hentakkan penyatuan mereka dengan kasar namun menciptakan sensasi kenikmatan tiada tara, baik itu bagi Agam maupun Bianca sendiri.


Peluh membanjiri kening, pelipis, hingga seluruh tubuh mereka. Bahkan AC ruangan itu mendadak tak berfungsi sama sekali.


"Ah Ah Ah." Bianca mend.esah, ekspresi nya yang penuh gairah itu benar-benar membuat Agam semakin tak karuan. Bianca terlihat begitu mempesona kali ini. Lihat saja, wajahnya yang di buliri peluh di padu oleh merah padam itu. Belum lagi, mulutnya yang sedikit menganga, menikmati genjotannya.


"Shittt!" Agam memompa lebih cepat, mencapai titik terdalam. Bianca di buat memekik, tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain meremas sprei. "Kakak! pelan-pelan!!!"


Flashback off.


"Busett dahh, gue ganas banget yah?" monolognya. Dia lalu kembali melihat Bianca yang masih tidur itu. Apakah-- Bianca baik-baik saja? Agam lantas mengguncang pelan lengan Bianca untuk membangunkannya.

__ADS_1


"Bia, Bia!!!"


"Bia!!!" Bianca memberengut. Agam berhasil mengusik tidurnya. Namun, meskipun Bianca sudah bangun, dia masih belum membuka matanya. Dia masih mengantuk ingin kembali menyelami alam mimpi. Alam bawah sadarnya yang mulai menyambutnya itu seketika terbuyar karena Agam kembali mengusiknya.


"Bia! Bia! bangun! jangan buat aku jadi cemas gini!" Agam sudah bangkit duduk, dia kelihatan panik. Pasalnya, sudah beberapa kali ia membangunkan Bianca. Namun perempuan itu tak kunjung bangun.


Tubuh Bianca sedikit merespon dengan gerakan kecil. "Hmm kenapa Kak? Bia ngantuk, masih pengen tidur.." gumamnya masih memejamkan mata. Agam membuang napas lega. Rupanya istrinya baik-baik saja. Kecemasannya terlalu berlebihan. Dia lantas menoleh kearah jam dinding. Pukul setengah enam. Berarti masih pagi sekali, tak perlu terburu-buru untuk berangkat ke sekolah.


Membiarkan Bianca tidur sebentar lagi, Agam lalu turun dari ranjang. Sebelum dia menuju kamar mandi untuk menuntaskan ritual paginya, dia memungut pakaiannya yang berserahkan di lantai. Dia menggaruk pipinya pelan. "Kenapa bisa nih baju nyasar ke lante?" gumamnya.


***


Kelopak mata yang di hiasi bulu lentik itu, perlahan tapi pasti mulai terbuka, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam kamar itu.


"Ssssh" Bianca mendesis ketika melakukan pergerakan sedikit saja. Tubuhnya terasa remuk, pinggulnya-- pegal-pegal. Terutama di daerah intimnya. Sakit, ngilu, perih, tercampur menjadi satu. Sialan! dia benar-benar telah di gempur oleh Agam habis-habisan. Untung suami. Dia heran, entah stamina dari mana di dapatkan suaminya hingga bisa bertahan sampai pagi buta. Bahkan, Bianca sendiri sampai ketiduran, tak sanggup mengimbangi permainan lelaki itu.


Dia menolehkan kepalanya begitu Agam keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang lengkap. Namun, belum mengenakan seragam.


Bianca melengos, berlagak sok ngambek. Agam malah terkekeh kecil melihatnya. Istrinya terlihat gemesin. Bayangkan saja, baru bangun langsung memasang wajah cemberut nan merajuknya. Lucu.


Lelaki itu sengaja hanya melihat saja bagaimana kesulitannya Bianca bergerak, bahkan kakinya pun hampir tak bisa ia gerakkan. "Ihhh!! Kakakkkk!! Bia lumpuhh!!!" teriaknya terkesan merengek. Bibirnya pun sudah melengkung kebawah.


"Kok lumpu sih?" celetuk Agam di selingi tawa pelan. Dia lantas menghampiri Bianca yang terlihat kesusahan untuk beranjak dari tempatnya.


"Habisnya, gue gak bisa jalan Kak!!!" Air matanya sudah menggenang di sudut, bersiap akan menumpahkan tangisannya.


"Sini." Agam mengangkat Bianca, otomatis selimut yang membalut tubuhnya pun sudah merosot. Agam menggendongnya ala koala."Kak, selimut!"

__ADS_1


"Biarin aja, gak perlu pake di tutupi segala, lagian kan, gue udah liat semuanya."


Bianca menggeplak pundak Agam. Namun, tak urung, lilitan kakinya semakin erat di pinggang kokoh manusia yang sedang menggendongnya seperti anak kecil. Lelaki itu membawanya ke kamar mandi.


***


Selesai melaksanakan ritual paginya, Bianca kembali di gendong oleh Agam ke kasur. Sepertinya, dia benar-benar lumpuh. Bianca menyesal telah memberikan lelaki itu haknya. Oh, ayolah, sekarang bagaimana caranya dia pergi ke sekolah? tubuhnya terasa remuk. Belum lagi beberapa bekas cup.ang di lehernya. Bagaimana cara menutupinya?


Sedari tadi Agam memperhatikan Bianca yang kesusahan berjalan. Langkahnya sedikit mengangkang, "Lo, mau masuk sekolah?" tanya Agam ketika melihat Bianca sudah mengambil seragamnya dari lemari. Berbeda dari Bianca yang baru akan bersiap, Agam justru sudah siap dengan seragam lengkapnya.


"Terus?" Bianca menolehkan kepalanya pada Agam yang kini menghampirinya. Lelaki itu menyerahkan dasinya. "Pasangin."


Bianca menghembuskan napas kasar seraya meraih kasar dasi Agam. Lelaki ini benar-benar ngeselin. Sudah membuatnya encok serta hampir lumpuh, tapi dia kelihatan tak merasa bersalah sama sekali.


Meskipun Bianca kesal, dia tetap berjinjit, memasangkan dasi Agam dengan telaten. Pergerakannya yang tengah memasangkan dasi itu tak luput dari perhatian Agam. Senyum kecilnya terukir melihat Bianca yang sedang cemberut, bibirnya mengerucut. Menggemaskan. "Mau, gue cium?"


Bianca merotasikan matanya kesal. "Jangan mulai!" Dia memukul pelan dada Agam ketika sudah selesai memasangkan dasi lelaki itu.


Agam telah melingkarkan tangannya di pinggang ramping Bianca, tak erat. Dia mencium pelipis Bianca sekilas. "Hari ini, gak usah masuk sekolah dulu, ya?" ucapnya. Lalu menunduk, menatap Bianca yang kini tengah memainkan kancing seragamnya. Perempuan itu mendongak kemudian.


"Kenapa?" tanyanya.


"Lo mau ke sekolah dengan keadaan gini? liat aja tanda di leher lo itu. Ntar lo sendiri yang malu."


"Salah siapa coba." gerutu Bianca mendengus sebal. Biar pun begitu dia membalas pelukan Agam cukup erat. Menghirup aroma Agam yang menenangkan. Agam membelai rambutnya dengan lembut. "Iya deh iya salah gue. Makanya, hari ini absen dulu, ntar gue yang izinin ke wali kelas lo."


TBC

__ADS_1


***


__ADS_2