Married With Ketos

Married With Ketos
Extra part 15


__ADS_3

Menyandarkan punggung di sandaran kursi panjang, Bianca memejamkan mata menikmati semilir udara segar disekelilingnya. Suasana yang begitu tenang dan damai. Hiruk-pikuk lingkungan sekitar memanjakan kedua indera pendengarannya.


"Bia..?"


Membuka kelopak matanya yang tampak redup, Bianca melirik Agam yang sedang melangkah kearahnya, ditangannya membawa sebuah cup yang ia bawa sekaligus dengan sendoknya khusus berbentuk mini. Beserta segelas air putih.


"Kak..? Kakak baru dari mana..? Terus, Kakak bawa apa..?" Menggulir matanya kearah sesuatu yang dipegang oleh Agam, Bibir pucat pasi nya terbuka. Mengeluarkan sepatah kata saja, ia nyaris tidak mampu apabila menggunakan intonasi yang lebih keras lagi.


Bianca disambut senyum hangat Agam menghiasi wajahnya, ia kelihatan benar-benar tampan. Pria itu mengambil tempat duduk disampingnya, "Kakak tadi baru dari luar, beli bubur sumsum buat kamu. Mungkin saja cocok dengan lidahmu."


"Kakak kenapa susah-susah beliin Bia bubur diluar sih..? Bia kan udah bilang, Bia gak bisa makan.. selezat apapun makanan, gak ada yang enak dilidah aku Kak.."


"Paling tidak makan beberapa sendok aja ya? Isi perut kamu dulu baru minum obat, Kakak sekalian beli obat tadi." Sendok beradu dengan bubur kental kala Agam mengaduk-aduk bubur tersebut.


Bianca menggeleng lemah. Ia membekap mulutnya enggan. "Gak mau Kak.. nanti Bia muntah lagi."


"Bi.. jangan batu, makan ya please.. sedikit aja..Kakak mohon, jangan buat Kakak makin khawatir..keadaan kamu kelihatan memprihatinkan dan Kakak gak bisa liat kamu kaya gini.." Bujuknya. Sungguh, kondisi Bianca membuatnya jadi takut.


Jika Suaminya sudah berkata demikian, tak ada alasan untuk Bianca menolak kebaikannya. "Yaudah, Bia makan, tapi dikit aja ya..?"


Wajah Agam dalam sekejap langsung sumringah, ia mengangguk semangat hendak menyuapi Bianca. Ia senang, Bianca mau makan. "Bia harus makan kalo mau cepat sembuh.. kalau Bia udah pulih, kita pulang sama-sama kerumah kita.." ujar Agam.


Sebagai tanggapan, Bianca mengangguk sebelum menerima suapan dari Agam. "Iya, Bia bakal pulang.." Baru saja makanan itu menyentuh lidahnya, agak kelimpungan Bianca mengambil kain yang untung ia sediah kan dari awal disampingnya untuk berjaga-jaga kemudian memuntahkan makanan tersebut dari dalam mulutnya, disusul isi perutnya yang tersisa cairan bening.


"Bi..." Cairan kristal mengambang diselaput matanya, ia berkaca-kaca menatapnya sendu. Diraihnya gelas yang berisi air untuk ia serahkan pada Bianca.

__ADS_1


Bianca meneguknya hanya setengah, cuma air lagi yang dapat dicerna dengan baik oleh organ dalam tubuhnya. "Kakak kenapa nangis..?" Jari telunjuk Bianca bekerja, menyapu air mata Agam yang menitik tanpa terhalau.


Mengambil tangan dingin Bianca untuk dibawa kedalam genggaman hangatnya, Agam menunduk dalam. "Kakak--gak kuat liat Bia kaya gini..kalo bisa, transfer semua penyakit kamu ke Kakak, biar Kakak yang menderita, jangan kamu.."


"Kakak gak boleh bilang kaya gitu..Kalo kakak sakit, siapa yang ngurus Ezza..? Kalo Bia, gak bisa diandelin kaya Kakak, Bia lalai, gak bisa menjaga Ezza dengan baik..Maka dari itu, Tuhan memberikan rasa sakit ini pada Bia.. bukan Kakak.."


Segera Agam menggeleng, menampik penuturan Bianca. "Jangan diungkit lagi.. itu cuma perkataan aku saat lagi emosi." Agam meletakkan cup bubur yang dianggurkan pada space kosong disebelahnya, Agam meraih tubuh kecilnya yang semakin hari kian kurus untuk ia masukan kedalam dekapannya.


Sangat erat, seolah jika ia melepas pelukan ini, Bianca akan menghilang antah berantah. "Jangan kemana-mana ya? Tetap disini, bersama Kakak. Sekalipun itu keinginan Bia, Kakak gak akan pernah izinin Bia pergi. Kita gak boleh pisah kecuali takdir dan maut yang berkehendak lain." bisiknya.


Perlahan-lahan, tangan Bianca terangkat, membalas pelukan Suaminya lembut sekali. "Iya Kak iya.. emang Bia mau kemana..? Sekalipun Bia pergi jauh, Kakak dan Ezza tetap melekat permanen dihati Bia selamanya.."


"Dan Bia akan tetap menjadi bidadari tercantik dihati aku dan Ezza, selamanya.." Balas Agam terdengar tulus. Bianca tersenyum, Agam selalu tulus jika berbicara dengannya.


Kening Agam tertaut dalam, ia tentu tidak suka dengan pertanyaan yang diajukan oleh Istrinya. Hari ini Bianca sering mengatakan hal aneh. Diurainya rengkuhannya agar dapat menatap Bianca sepenuhnya, kedua tangannya memegangi bahu Bianca. Menatapnya begitu serius.


"Kamu ngomong apa sih? Kamu ada niatan pergi tanpa ajak aku sama Ezza? Kita kan keluarga, kemana pun kamu pergi, maka disana juga ada kami, kami akan ikut kemana pun Bia pergi."


"Iya deh.. Aku, Kakak dan Ezza. Kita akan bersama selamanya." Ujar Bianca mengalah. Rasa gelisah yang membelenggu hatinya, sedikit lebih tenang mendengarnya, sudut bibir Agam mengembang, diusap-usapnya pucuk kepala Bianca penuh kelembutan.


"I love you Bi.. I love you so much.." Agam berbisik pelan didepan wajah Bianca, paras mereka berdua nyaris tak berjarak. Sudah memprediksi apa yang akan terjadi di detik berikutnya, tak pakai basa-basi lagi, Bianca lekas menahan wajah Agam yang sudah mulai miring.


"Bia belum gosok gigi dari tadi pagi.."


"Gak papa.. biasanya setiap pagi sebelum gosok gigi morning kiss sudah jadi rutinitas kita. Apa salahnya sekarang aku mau cium Istri cantik ku ini? Kecup aja deh.."

__ADS_1


Sekali lagi Bianca menahan wajah Agam yang kembali mendekat, "Bia baru habis muntah, mulut Bia bau.."


"Ish!" Cetus Agam memberengut kesal, ia kini sudah menjauhkan diri sambil bersidekap dada. "Udah berminggu-minggu gak ketemu, sekalinya ketemu, mau cium aja gak dibolehin! Dasar Istri pelit!" Bianca terkekeh renyah. Sudah lumayan lama akhirnya ia melihat sisi Agam yang sedang ngambek lagi.


*****


Siaran televisi tak berhenti menyala, Bianca sudah menguap berulang sebelum ini, matanya sudah sayu, ia diserang kantuk yang hebat. Sesekali, kepalanya terantuk dipundak Agam kala nyaris saja ketiduran ditempat.


"Kakak? Kakak udah ngantuk?! Jam berapa ini? Taksa aja belum ngantuk. Kok Kakak kalah sih sama Taksa?" Tanya Taksa yang tidak sengaja memergoki Bianca yang sesekali menguap.


Mendengar hal itu, Agam pun akhirnya mengalihkan pandangan kepada Bianca. "Bia? Kamu udah ngantuk?


Bianca mengangguk lemah. "Ngantuk, ngantuk banget, sekarang udah jam berapa..?" Kepala Agam menunduk, memeriksa arloji yang bertenggar sempurna dipergelangan tangannya. Waktu sudah memasuki pukul delapan malam.


"Jam delapan. Baru jam segini, kamu udah ngantuk? Mau ke kamar saja?"


Sekali lagi anggukan dari Bianca yang menyambutnya. Bisa dimaklumi Bianca cepat mengantuk, karena dia sedang sakit. "Hu'um.. bawa Ezza Kak, untuk malam ini, Bia pengen habisin waktu Bia bersama Kakak dan Ezza.."


Agam mengambil Altezza yang kini sudah terlelap di gendongan Bunda Bianca. "Kami permisi, Bunda. Agam mau bawa Bia ke kamar, dia udah ngantuk katanya."


"Uhmm? Baiklah." Alena mengangguk. Mereka berlalu menyusuri anak tangga dengan Agam menggendong Altezza kecil juga merangkul Istrinya, menyisakan Alena, Rendra dan Taksa diruang keluarga.


*****


Bukan hanya kalian, firasat Author pun gak enak saat nulis ini😭🤣

__ADS_1


__ADS_2