
Di waktu yang sama namun lain sisi. Tidak hanya sekali dua kali umpatan yang Samuel lontarkan, sesekali ia memukul kasar stir. Jalanan kota kali ini sangat padat, hingga mau tidak mau ia harus terjebak di dalam kemacetan lalu lintas. Hatinya di selimuti oleh kegelisahan tanpa sebab. Ia benar-benar tidak tahu harus melakukan apalagi, jarak dari lokasi sesuai dari pelacakannya lewat GPS yang terpasang di ponsel Sherly, masih harus menempuh jarak yang cukup jauh. Wanita itu menghantui pikirannya, hingga membuat istirahatnya tidak tenang dan berakhir di sini.
Tidak ada pilihan lain, Samuel keluar dari mobil, tidak mempedulikan apapun lagi, yang paling utama kali ini adalah Sherly. Mungkinkah perempuan akan nekat melakukan tindakan yang di luar batas? tidak! Samuel tidak menginginkan itu terjadi.
Samuel berlari kencang setelah menyalip beberapa kendaraan, kini langkah cepatnya membawanya di tepi jalan, ia berusaha secepatnya untuk mengejar waktu. Napasnya sudah terlihat ngos-ngosan, butuh waktu yang cukup lama, ia sampai di sekitar gedung rumah sakit besar.
Degh
Hatinya mencelos tatkala melihat figur seseorang terjatuh dari atas gedung rumah sakit. Kemudian terdengar teriak histeris para saksi mata di sana, warga-warga langsung berkerumun di satu titik tepat di depan rumah sakit. Firasatnya memburuk. Tidak, semoga itu bukanlah Sherly. Sekelebat bayangan masalalu mendadak terlintas di kepalanya dalam waktu sekilas.
Ia berjalan pelan-pelan dengan berbagai pikiran negatif menyerang kepalanya, menghampiri. Dan menyelonong di kerumunan, "S-sherly?" Tenggorokannya tercekat. Dunianya seakan runtuh saat itu juga. Perasaan sesak luar biasa, menghimpit dadanya, ia bersimpuh di samping Sherly yang berlumuran darah. "S-sher..kenapa? kenapa lo nekat kayak gini..?" Mata Sherly terbuka redup, lemah.
"Sherly?!!" Harapan tiba-tiba mendatangi Samuel ketika melihat Sherly membuka kelopak matanya sedikit. Lalu langsung bertindak membopongnya dari sana, lari memasuki rumah sakit. Dari tangan hingga lengan Samuel, bahkan sampai ke bajunya juga terdapat darah milik Sherly, tapi saat ini tidak ada waktu untuk mempedulikan itu semua.
"Sam.. lo.. se..nang..? se..k..arang?" Nafas Sherly memberat dan terputus-putus dalam gendongan Samuel, "Diem Sher!! lo jangan banyak bicara dulu!!" marahnya dalam keadaan sangat panik, dia berlari di lorong rumah sakit, "Perawat!! di sini ada pasien yang terluka parah!!" panggilnya berteriak-teriak tidak jelas, hingga seisi koridor ada yang menatapnya aneh. Beberapa perawat datang mendorong brangkar. Dan mengambil alih Sherly di brangkar tersebut.
Samuel menggenggam tangan dingin Sherly dengan erat. "Sher, lo harus bertahan!!"
Sherly menggeleng tidak berdaya, "Ngantuk.." gumamnya tidak jelas. Hanya gerakan mulut yang dapat Samuel lihat. "Jangan tutup mata lo!!" Pekik Samuel terkesan seperti memerintah. Mata Sherly terasa sangat berat, sang empu nyaris tidak mampu lagi menahannya. Seluruh tubuhnya mati rasa.
"Aku.. ingin.. tidur..tenang.." seiring kata terakhirnya itu, Samuel sempat melihat mata Sherly yang tertutup rapat, lalu selanjutnya wanita itu di didorong para perawat kedalam UGD, Samuel mencoba menerobos masuk kedalam, tapi beberapa suster menahannya, selama penanganan jelas tidak boleh ada yang masuk. Nyaris saja ia memukuli orang yang menghalanginya kalau tidak mengingat ini di tempat umum. Alhasil, ia hanya melampiaskannya di tembok dengan bertubi-tubi.
"Argghhhh" jeritnya tidak terkontrol, lalu mengacak rambutnya kasar. Mengapa ini terjadi lagi?
__ADS_1
***
Samuel mondar-mandir di depan pintu UGD, sejak tadi ia kelihatan tidak tenang, banyak warga rumah sakit di sekitar atau yang berlalu lalang menatapnya aneh, tapi ia mengabaikannya. Tidak lama kemudian, pintu terbuka memunculkan seorang dokter yang keluar dari sana, detik itu juga Samuel menyudahi kegiatannya yang uring-uringan tidak jelas.
"Gimana Dok?!!" tanyanya berharap Sherly tidak akan kenapa-kenapa. Dokter yang menangani Sherly itu, nampak menunduk, melihat bagaimana berharapnya Samuel saat ini, ia enggan menyampaikan keadaan Sherly.
Guncangan kuat Samuel lakukan di bahu dokter tersebut, karena ia tidak mendapat respon, "Katakan Dok!! bagaimana keadaan dia?!! dia baik-baik aja kan?? dia gak kenapa-napa, iya kan dok?!!!" desaknya, Dokter itu sedikit tersentak lalu menarik napas dalam bersiap mengungkapkan semuanya.
"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kondisi pasien benar-benar parah. Jadi---dengan berat hati saya menyampaikan, pasien telah meninggal dunia. Dan bayi dalam kandungannya juga--"
Bughhh
Belum juga dokter itu tuntas berbicara, Samuel sudah melayangkan pukulan di wajahnya, hingga dokter itu terhuyung. Tidak sampai di sana, Samuel kembali menarik kerah seragam putih, dokter tersebut, ia menghunuskan tatapan dark yang seolah ingin segera mengirimkan dokter itu ke alam baka.
Bughhh.
Bukan sekali dua kali kepalan tangan Samuel mendarat di wajahnya, ia kelihatan kalap. Emosinya tidak terkendali lagi, matanya memerah. Tidak lama kemudian satpam datang, dan menahan kedua sisi lengan Samuel agar berhenti memukul, memberontak Samuel lakukan untuk kembali menyerang dokter, untungnya kekuatan scurity tidak kalah besar darinya. Perawat lain memapah dokter untuk segera menjauh dari jangkauannya. "Dasar dokter tidak berguna!!" pekiknya tidak peduli lagi ia di mana.
"Lepasin gue bangsat!!!" marahnya. Kekuatan ekstra ia menghempaskan satpam hingga menjauh darinya, Samuel langsung masuk kedalam ruang UGD, di sambut oleh tubuh kaku Sherly yang terbaring di brangkar, wajahnya terlihat pucat pasi.
"Sher! bangun hey!!" Samuel menepuk-nepuk sebelah pipi Sherly yang tidak merespon sedikit pun, matanya setia terpejam. "Lo bohongkan?" Netra Samuel mulai memanas, lalu menggenggam tangan dingin Sherly dengan dua tangannya.
"Lo mau gue tanggung jawab kan?" Samuel terus mengajak Sherly yang sudah tidak bernyawa itu berbicara. Padahal dalam hatinya, ia tahu jelas, Sherly tidak akan pernah membuka matanya sekalipun, apalagi mendengar semua ucapannya. "Gue bakal tanggung jawab kalo lo buka mata."
__ADS_1
Samuel menyingkirkan helaian rambut Sherly yang menghalangi parasnya, senyum terbit tapi tidak terhitung embun luruh tanpa bisa ia cegah. "Gue bakal bangun istana yang megah untuk rumah tangga kita, dan lo bakalan jadi ratu di sana. Lalu bakal ada taman bermain yang luas untuk calon anak kita nanti. Makanya, buka mata lo, okay?"
Semakin ia berucap banyak dan saat itu juga Sherly tak kunjung membuka mata, bertambah pula dada Samuel bergemuruh hebat. Takut, ia takut kehilangan. Mengapa akhrinya harus semenyakitkan ini? tidak terhitung dalam hatinya melafalkan kata maaf dan maaf dalam penyesalan yang hebat.
Ia menepis segala kenyataan yang ada di hadapannya dengan keyakinan dalam hatinya, Sherly itu tangguh dan kuat, tidak mungkin ia pergi dengan mudah seperti ini. Namun, setiap manusia itu lemah, hanya topeng lah yang menutupi ke rapuhan setiap orang dengan berpura-pura kuat kalau tidak di balik senyuman maka dalam kata 'Aku baik-baik saja'
Jika waktu bisa terulang kembali, ia hanya ingin memperbaiki kesalahan. Kalau saja Samuel tahu akhirnya seperti ini, ia tidak akan melakukan apapun untuk membuat Sherly pergi meninggalkannya. Tapi, ini bukan dunia komik mau pun novel, tidak ada yang namanya mesin waktu untuk bisa memutar masa, ini adalah realita kehidupan yang tidak akan bisa di perbaiki lagi, hanya akan ada penyesalan yang menghantui hari-hari yang akan datang.
"Sherly buka mata lo!!!" Samuel semakin putus asa melihat Sherly yang tidak ada tanda-tanda bangun dari tidurnya. Apakah kali ini ia akan kehilangan lagi?
Samuel memeluk tubuh kaku dan dingin Sherly, erat. Sangat erat. Seolah itu adalah bentuk rasa takut kehilangannya. "Gue bilang gue bakal tanggung jawab Sher!! lo denger gak sih?!!! lo mau itu kan selama ini?!! gue bakal tanggung jawab!! makanya lo harus bangun!! sudahi sandiwara lo, gak lucu tahu gak!!" Raung nya histeris mengguncang kuat tubuh Sherly.
Tiga perawat yang sempat menyaksikan bagaimana memprihatinkan penampilan Samuel, akhrinya memberanikan diri untuk masuk, "Maaf, pasien harus segera di pindahkan ke kamar jenazah sampai keluarga pasien datang menjemput jasadnya."
Samuel menggeleng keras, "Dia belum mati Sus!! dia masih hidup!! dia hanya muak dan marah sama gue! makanya dia ngedrama kayak gini!! kalian keluar! gak ada yang harus di pindahin ke kamar jenazah!!" Samuel menangkup pipi Sherly, "Sher!! mereka mau mindahin lo ke kamar jenazah!! cepat buka mata lo!!" paniknya terlihat kacau balau, tiga suster yang berdiri tidak jauh dari Samuel, hanya menatapnya iba.
Terkadang sesuatu baru terasa begitu berharga ketika kita sudah merasa kehilangan. Penyesalan yang paling menyakitkan itu adalah ketika tidak bisa lagi melakukan apapun untuk memperbaiki kesalahan.
Karena apa? sejauh apa pun kamu berkelana sampai ke penghujung dunia sekalipun, objek penyesalan kamu tidak akan pernah kamu temui di mana pun. Walau pun kamu menangis darah menyesali semuanya, ia tidak akan lagi pernah muncul, lalu kamu tertampar oleh kenyataan, bahwa kalian telah berbeda alam.
Kesampingkan ego dan gengsi. Dan hargailah seseorang yang menurut kamu berharga. Jangan menunggu hingga penyesalan tiba. Jika itu sudah terjadi, saat itu pula semuanya sudah terlanjur sangat terlambat sebab semuanya hanya tinggal penyesalan. Ingat, penyesalan tidak akan bisa mengembalikan sesuatu yang sudah hilang.
TBC.
__ADS_1