Married With Ketos

Married With Ketos
Extra part 01


__ADS_3

Kandungan Bianca menginjak sembilan bulan, perut Bianca makin membuncit. Di perkirakan anak mereka akan lahir pada bulan ini. Agam jadi Suami yang selalu siaga kala Bianca ada keinginan atau hal-hal yang menyangkut kehamilannya.


Mereka saat ini sedang menonton sebuah drama di laptop, Bianca bosan duduk terus bahkan punggungnya terasa sakit, ia ingin mengubah posisinya menjadi tengkurap tetapi Agam menahannya mengingat ada buah hati mereka di perut Bianca. "Kak.. Bia bosan duduk terus.. punggung Bia sakit.." keluhnya melengkungkan bibirnya kebawah.


Agam yang tadinya menelungkup kan tubuhnya di karpet bulu berpindah posisi menjadi duduk bersila, tangannya menepuk-nepuk paha sebagai kode agar Bianca berbaring di pangkuannya. "Sini, ayok."


Karena mendapat sinyal itu jelas saja Bianca langsung menyamankan posisi kepalanya di paha Agam dengan tubuh menyamping masih menonton drama di laptop, usapan lembut yang di terapkan oleh suaminya di kepalanya terasa begitu nyaman dan menenangkan hingga tidak lama kemudian matanya memberat.


Bianca yang di serang kantuk kini berbalik membenamkan wajahnya di perut Agam sambil melilitkan tangannya di perut Agam, sulit untuk dirinya menahan untuk tidak tertidur. Hingga lambat laun pelukannya pun mengendur dengan sendirinya.


Agam merunduk saat mendengar dengkuran halus dari Bianca, ia tersenyum hangat menatap teduh sang istri yang tengah terlelap tidur. Ia mengais helai rambut yang menutupi telinganya dan membisikan sesuatu di sana. "Selamat tidur, bumilnya Agam."


***


"K-kakak Agam..enghh.." Bianca merintih perih kala perutnya terus kontraksi sejak tadi, terlebih Agam di kasih bangun, tidurnya sudah layaknya orang mati.


"Kak!! perut Bia sakit!!" Pekiknya sudah tak kuasa menahan air matanya yang luruh, wajah beserta pelipisnya sudah banjir keringat dingin.


Bughhh


Energi Bianca terkuras oleh tendangan yang menimpa di punggung Agam hingga lelaki yang tadinya tidur di ranjang kini jatuh ke lantai, Agam merintih ke sakitan merasakan punggungnya yang kemungkinan patah tulang.


"Ssshh Bi, sakit.. Kamu kenapa nenda---Kamu kenapa?!!" Mata Agam membola melihat keadaan Bianca yang terlihat kacau dari balik secercah cahaya remang lampu tidur, selonjoran dengan posisi bersandar di ranjang, apa lagi tidak henti-henti mendengar erangan kesakitan itu. "Kamu kenapa Bi?"


Walau dalam keadaan panik bukan main, Agam tetap menghidupkan lampu utama agar bisa memberi keterangan untuk mereka. "G-gak tahu, biasnya kalo sakit bentar doang tapi perut aku sakit terus dari tadi.."


Air matanya bercucuran, bibirnya terlihat pucat pasih, dengan kening di hiasi peluh, Bianca meremas perutnya yang keram.


Tatapan gelisah Agam turun melihat air berwarna bening yang mengalir ke kaki Bianca, matanya nyaris copot dari sarangnya karena terkejut sekaligus panik di saat yang bersamaan. "Air ketuban?!! baby mau brojol?!!"


***


"Kak sakit huaaa!!"


"Arghhh!!!" Erangnya. Wajah Agam memerah, pemburu darah di lehernya terlihat menegang, matanya terpejam erat merasakan sensasi perih akibat gigi yang menancap sempurna di pergelangan tangannya, yang melahirkan Bianca tapi sepertinya yang jadi korban juga tubuhnya, tidak ada yang bisa Agam lakukan selain hanya tabah saja.


"Kapan bayinya bakal keluar Kak?!! enghhh" desak Bianca tidak sabaran, sakit sekali rasanya. Sedari tadi perutnya terus kontraksi entah kapan selesainya. "Bia gak mau lagi hamil gak mau huaaa, sakit kak!!"


"Iya sayang iya bentar lagi sabar ya? dokter bilang tadi di suru nunggu pembukaan sempurna dulu." Agam menyingkirkan helaian rambut yang bercampur keringat menutupi pelipis hingga dahi Bianca yang basah akan keringat.


Bianca meremas kuat tangan Agam untuk menyalurkan rasa sakit di perut akibat sang jabang bayi, Agam hanya pura-pura tersenyum, 'Ya Allah tabah kan lah hamba-mu ini.'


"Huaaa, Kakak tega hamilin Bia!!!"

__ADS_1


"Arghhhh!!"


Seolah ingin membuat adil agar Agam juga merasakan bagaiman rasa sakit yang ia alami, Bianca menjambak rambut Agam kuat-kuat, Agam mengerang dan meringis ke sakitan, tangan Istrinya tak bisa diam berterbangan mencari mangsa, baik itu wajah, kemeja, lengan bahkan kepala tak ada yang selamat.


"Kakak panggilkan dokter Kak!!"


Bughhhh!


Bianca menghempas kasar sisi kepala Agam hingga terhantuk di atas nakas, nanti tak akan heran lagi jika akan ada benjolan di sana, Agam hanya tersenyum palsu saat mencoba menegakkan tubuh dengan bantuan tangan bertumpu pada nakas.


"Iya bentar ya sayang, Aduhh Kakak jadi bingung harus ngapain?!!"


Ceklek.


"Astagfirullah--" Kebetulan Dokter Wanita datang bersama dengan beberapa perawat yang lain masuk kedalam ruang persalinan.


Dengan langkah tergesa Agam menghampiri mereka. "Dokter! Istri saya Dok! bayinya!! emang gak bisa menjalani operasi aja?! Istri saya kesakitan Dok!! tolongin bayinya!" Racaunya tidak bisa menutupi rasa gundah. Semua terungkap dari raut wajahnya.


Dokter Mina hanya bisa menghela napas ringan memaklumi reaksi Agam yang berlebihan karena ini prosesi kelahiran anak pertama mereka. "Menurut saya selaku Dokter, Istri Bapak bisa melahirkan secara normal. Jadi, selagi bisa lebih baik melahirkan normal dari pada harus menjalani operasi yang mungkin akan lebih beresiko."


"Jika memang begitu, tolong lakukan yang terbaik untuk Istri dan Bayi saya Dok!" Mohon Agam memelas.


"Baiklah, Istri Bapak akan segera saya tangani, Bapak tenang saja beri semangat di sisi Istri Anda ya Pak?"


Bianca mengumpulkan seluruh tenaganya, kedua tangannya semakin lama kian kuat mencengkram rambut suaminya yang telah kembali ke tempat awal, posisi tubuhnya dalam posisi berbaring dengan kedua kaki di tekuk dan dibuka lebar.


Bianca menarik napas untuk mengisi udara di paru-paru. Kedua matanya terpejam erat. Ia mengangkat sedikit punggungnya sehingga posisi kepalanya agak terbangun. "Enghhhh.."


Kepala Bianca kembali menyentuh bantal, napasnya tersenggal-senggal. Bibirnya terlihat semakin pias. Matanya berpendar melirik Agam penuh memelas. "Kak.. Bia gak kuat.." lirihnya mulai putus asa.


Agam panas dingin, rasa takut luar biasa menggerayangi jiwanya melihat Istrinya kesakitan seperti ini. Ia beralih mengambil tangan Bianca dan mengeratkan genggamannya pada tangan Bianca, ia memberinya kekuatan.


"Demi dia sekali lagi berjuang ya sayang? Kamu harus kuat biar baby bisa lihat dunia.. emang kamu gak mau denger dia manggil kita Mama dan Papa?"


"Sekali lagi Nona? kepalanya sedikit lagi terlihat! tarik napas, dan dorong.." Sekali lagi Dokter Mina kembali menginterupsi.


"Ayo sayang.." Agam tak henti-hentinya menyemangati Sang Istri.


"ENGHHHHH..."


Tak berselang lama, tangisan seorang bayi terdengar menggema di ruangan bernuansa putih tersebut.


"Alhamdulillah.. akhirnya aku udah jadi Ayah!! aku tahu kamu pasti bisa Bia.. kamu berhasil melahirkan Baby kita kedunia ini, makasih banyak-banyak sayang,"

__ADS_1


Tak kuasa embun haru itu berjatuhan menghiasi pipi Agam, ia menangis haru. Bibirnya lalu menyentuh pipi, menjelajahi setiap inci wajah Sang istri diakhiri ciuman lama didahi.


"Nyonya Arbyshaka, kamu istri terhebatku.." gumamnya disela itu. Bianca sendiri masih terlihat lemah, ia menerbitkan senyum bahagia yang tak terkira. Diusap-usapnya belakang kepala Agam yang masih melabuhkan ciuman dikeningnya.


"Selamat, kalian telah menjadi Mama dan Papa muda. Bayinya berjenis kelamin laki-laki." suster itu menggendong bayi merah didalam dekapannya kemudian membawanya untuk dibersihkan.


"Hei? kok malah nangis mulu sih? udah jadi Papa juga malah tambah cengeng." Cibir Bianca terkekeh renyah, ia menyeka jejak air mata Agam. Tak hanya itu, hidungnya terlihat memerah.


Agam menyungut. "Ini namanya air mata bahagia Bi.. bukan cengeng.."


Suster berjalan mendekat, menyerahkan bayi mungil yang telah dibersihkan kepada sang Ibu, meletakkannya dibawah dada Bianca agar mendapat kehangatan.


"Tampan banget Bi, mirip aku." Agak tremor telunjuk Agam menyentuh sebelah pipi gembul yang merona tersebut. Sangat lembut dan halus, Agam merasa jika ia menyentuhnya sedikit lebih kuat lagi mungkin pipi Putra kecilnya akan retak.


"Enak aja.. orang dia mirip aku. Lihat tuh, hidungnya mirip aku banget itu mah!"


"Iya sayang iya.. mau mirip aku atau kamu terserah, asal jangan mirip satpam komplek." Agam memilih untuk mengalah karena sekarang bukan saatnya untuk berdebat. Dengan penuh hati-hati ia menggenggam tangan putranya yang begitu mungil itu.


"Jangan pegang-pegang terus ih!" gamparan maut dari Bianca mendarat dipunggung tangan Agam. Sukses membuat Agam memberengut kesal. "Anak aku juga Bi.. aku cuma mau nyentuh dia, salah emang?"


"Salah besar! kamu lihat? dia begitu lembut dan kecil, dia bisa terluka kalo kamu nyentuhnya gak hati-hati.."


"Ishh! pelit amat!" Agam melipat tangannya didepan dada, duduk disisi brangkar Bianca dengan posisi memunggunginya mereka.


Bianca tak peduli dengan rajukan Agam, ia tersenyum teduh melihat Anaknya sedang menggeliat kecil didalam bedong. Kedua netra bulatnya mengerjap-ngerjap polos, putranya terlihat tenang, hanya pas lahir tadi saja mengeluarkan tangisan. "Aku udah siapkan dia nama."


"Altezza?" sahut Agam kembali memusatkan perhatian pada kedua orang yang amat berharga dalam hidupnya. Tak pernah terhapus dari memorinya, Bianca pernah bilang dulu akan menamai anak mereka nanti Altezza. Syukur anak pertama mereka benar-benar berjenis kelamin laki-laki.


Bianca menganggukkan kepala, "Altezza Reiki Arbyshaka."


"Hmm nama yang bagus. Aku suka."


"Ezza.. kenalin, aku Papa.. kalo wanita cantik disampingmu, Mama kamu..kalo kamu besar nanti jangan rebut Mama dari Papa yaa.. soalnya Papa gak mau saingan sama anak sendiri." Agam terkikik lucu saat memperkenalkan dirinya dan juga Bianca pada anak mereka, ia mulai nakal lagi menowel-nowel pipi merah itu.


Bianca merotasikan matanya kesal. "Kak, dari pada kamu ngajak ngobrol yang tidak-tidak dengan Putra kita mending kamu kumandangkan azan buat dia biar gak sesat nantinya."


Agam tersenyum simpul lantas mendekatkan wajahnya pada Altezza, dengan rasa bahagia yang membuncah di dalam dada ia mengumandangkan azan kearah telinga kanan putranya. Satu tangan Agam yang berada di pipi Altezza kini telunjuknya sudah berada di satu genggaman Altezza.


"Hai Altezza, terima kasih sudah hadir di dalam hidup kami.. aku janji, akan menjaga dan melindungi kalian berdua." Ujar Agam setelahnya. Ia mengecup pipi lembut itu lalu beralih mencium pucuk kepala Istrinya.


"Makasih banyak, Bia.. demi Tuhan, aku menyayangi dan mencintai kamu dan Ezza..kalian berdua adalah karunia Tuhan paling berharga dalam hidup aku. Aku bersyukur, Tuhan mengirimkan kalian sebagai anugerah paling terindah untuk melengkapi segala kekuranganku." Ungkapnya tulus, Bianca tersentuh mendengarnya. Agam merengkuh kedua bahu Bianca yang sedang bersandar di sandaran brangkar hingga kepala Bianca bersandar pada bahunya, arah pandang mereka menuju Altezza, malaikat kecil mereka.


****

__ADS_1


Kalo ada kesalahan, tolong dikritik ya biar aku perbaiki, soalnya aku gak tahu gimana prosesi orang melahirkan. Maklumlah anak remaja, belum berpengalaman, terus belum pernah lihat langsung orang lahiran *please***😭**


__ADS_2