
"ASTAGFIRULLAHALADZIM!! ITU MUKA LO KENAPA LAILAHAILALLAH, KOK KAYAK BADUT?!!" Bella heboh sendiri melihat ke hancuran wajah ganteng Nathan. Nathan dan Camella menutup telinga masing-masing lalu mendengus sebal. Masih pagi, alat pendengaran mereka sudah mendengung akibat suara menggelegar yang di suguhkan oleh Bella. Keduanya baru saja mendudukkan diri di bangku masing-masing.
"Itu suaranya di kontrol." tegur Camella merotasikan bola matanya.
Bella berdehem pelan. Lalu kembali bersuara dengan nada turun beberapa oktaf. "Itu, muka Nathan kenapa? kok bisa bonyok gitu?"
"Biasalah, laki-laki! gak ribut, gak keren!" Nathan menyugar rambutnya kebelakang sembari tersenyum pepsodent, sifatnya yang suka menebar pesona itu tak berubah sama sekali, padahal sudah menjadi calon Ayah. Membuat Camella memutar bola matanya lagi.
"Biar gue tebak! pasti lo berantem ama selingkuhan Mella, yekan?"
Camella melotot mendengar tuduhan itu. "Selingkuh-selingkuh apaan ye, asal lo tahu! gue super setia tahu gak!" Dia berdiri dari duduknya dan berdehem.
"Ehm, kenalin nih gue, fajar versi cewek!" Camella menepuk-nepuk dadanya bangga.
Sontak saja Bella berlagak ingin muntah. "Huekk, imut gue!"
"Lah imut apalah begitu? ngaca woe!"
"Ingin muntah!!" Kelakar Bella.
"Gak percaya?! gue buktiin ye!"
"Yaudah buktiin!" tantang Bella tak mau kalah.
"Ngomong-ngomong, buktiinnya pake apa yah?"
"Suruh Nathan periksa hp loh!"
Camella mendadak menegang. Nah Bella langsung beneran curiga kan jadinya. Padahal niatnya cuma bercanda.
"Itu kan? lo liat Nath! dia jadi tegang gitu! coba lo periksa di hp dia, pasti ada bau-bau gak sedap di dalamnya."
Sepasang mata milik Nathan memicing, memandangi Camella dengan tatapan menyidik yang kelihatan mencurigakan. "Sini hp lo! gue periksa!"
"Iya periksa aja Nath! periksa!" kompor Bella sengaja. Camella mencebikkan bibirnya pada Bella.
"Itu, Bella sengaja cuma mau jahilin kita berdua. Beneran deh, gak ada apa-apa di hp gue." ujarnya kemudian pada Nathan. Lelaki itu membalasnya sembari mengadahkan sebelah tangannya. "Yaudah kalo memang gak ada apa-apa, siniin hp lo, gue periksa."
Camella memeluk ponselnya, tak ingin Nathan mengeceknya. Nathan jadi tambah curiga kan jadinya. "Oh!! atau lo beneran ada main di belakang gue, iya?!" tuduhnya sudah berdiri dari duduknya. Bella menggaruk pelipisnya menyaksikan itu, candaannya ternyata bisa membawa bencana.
Sontak saja Nathan ingin merebut ponsel Camella tetapi sang empunya langsung menyembunyikannya di belakangnya.
"Sini gak tuh hp!"
"Gak mau!"
Nathan beralih ke belakang Camella, dia berusaha merebutnya, Camella pula berusaha menjauhkan ponselnya dari Nathan. "Beneran Nath! gak ada apa-apa di ponsel gue!"
"Makanya, biarin gue cek!" Mereka berdua justru saling berebut ponsel Camella, beruntungnya, di sini belum ada murid-murid lain selain mereka.
Sedangkan Bella sendiri, sudah mengendap-ngendap akan segera pergi dari sana. Definisi teman laknat, setelah membuat keduanya ribut, malah dirinya ngacir lari.
Bodoh. Sudah tahu Nathan jauh lebih tinggi darinya, Camella justru mengangkat tangannya sambil menjijitkan kaki agar ponselnya tak dapat di raih oleh Nathan. Alhasil, Nathan malah mudah mendapatkannya.
__ADS_1
"Sok ketinggian!" caci Nathan. Camella menghentakkan kakinya kesal di lantai. Bibirnya sudah manyun, melihat Nathan yang tengah memeriksa ponselnya.
"Ini apaan Mella? astaga! ini kenapa banyak banget dah foto cowok, perut berotot? lo pengoleksi ginian?"
"Ih, itu vitamin mata Nath, vitamin!"
"Ck yaelah mending lo liat perut gue aja, lebih banyak kotaknya ketimbang ini mah, dikit doang!" Nathan masih menggulir kebawah, galeri milik Camella. Penasaran, apa saja yang di koreksi oleh perempuan itu.
"Emang, kotak lo ada berapa?"
"Ada sepuluh! gini doang mah kalah sama punya gue." sahut Nathan gamblang, "Nih, udah gue hapus semua!" Nathan akhirnya menyerahkan kembali ponsel itu kepada pemiliknya, setelah menghapus seluruh asupan mata di sana. Oleh karena itu, Camella mendadak tak minat lagi pada ponselnya.
"Udahlah mending lo buang aja tuh hp ke tong sampah!"
"Lah?!"
***
Jam istirahat pertama, Bianca dan Tasya sudah berada di kantin untuk mengisi perut. Sekaligus, menyegarkan kan otak dari ulangan dadakan yang di berikan oleh Pak Darren. Memang, Guru yang berusia mudah dan mempunyai paras tampan itu, menjadi Guru yang di idam-idamkan oleh para siswi. Tapi-- kalau modelan Pak Darren, mah bisa-bisa bikin otak semua murid meledak.
"Pak Darren tega amat sama murid!, gak kasian apa liat muka-muka yang gak ada tanda-tanda kehidupan lagi gara-gara tertekan sama dia. Masa ulangannya gak di umumin dari kemaren-kemaren. Kan murid-murid jadi gak ada yang belajar. Mana ngasih waktu belajarnya, lima menit doang lagi, emangnya, otak mampu nangkep pelajaran dalam waktu sesingkat itu?" Bianca menumpukkan dagunya di lengannya yang ia lipat sambil terus-terusan menggerutu. Untungnya, dia sudah makan, jadi energinya sudah sedikit terisi.
"Gue aja jawabnya ngasal. Sumpah deh, gak ada yang ada di otak gue. Otak gue kosong, gak belajar semalem." sahut Tasya setelah menyeruput es tehnya.
"Sama."
"Tapi--kan masih ada nilai capek."
"Satu. Buat apaan?"
"Hai bestaik pren. Lagi pada ngomongin gue ya?" Samuel menyugar rambutnya kebelakang, terlihat narsis tingkat maksimal. Lalu dengan lancang merangkul Bianca dan Tasya yang sedang duduk di bangku. Dua perempuan itu memutar bola mata malas, bersamaan menepis tangan Samuel dari bahu mereka.
"Mending mulut gue pake makan dari pada ngomongin lo. Buang-buang kata-kata." Bianca mengangguk setuju.
"Pada songong lo berdua! masih bae yah, gue yang tampan sejagat raya ini mau berteman dengan kalian! kalo gue jelek mah, jangankan berteman ama kalian! liat muka kalian aja, ogah gue!"
"Ganteng aja gak mau kita-kita temenan ama lo, apa lagi jelek!"
"Yaudah, jadi temen tiri aja dah kalo gitu." Samuel duduk berbaur bersama dua perempuan itu. Bianca malas harus meladeni manusia yang tak jelas asal usulnya itu. Biarkan Tasya yang menanggapi obrolan random nya.
"Jangankan temen tiri, temen kandung aja, kagak sudi!" sambar Tasya tak mau kalah.
"Jadi temen tiri gak mau, jadi temen kandung gak mau, kalian maunya jadi apa sih? mau jadi istri gue? tapi sorry yah, gue gak bisa kalo dua istri. Soalnya gue tipe cowok yang suka cowok."
"Kek nya otak nih orang konslet deh." gumam Bianca.
"Gaje!" damprat Tasya.
"Canda-canda yaelah, baperan amat sih!." Samuel mengambil es teh milik Tasya tanpa seizin sang empunya, lalu meneguknya tanpa sedotan sampai tandas. Mata Tasya membulat melihatnya. "Minuman gue bangsul!" Tasya menampol kepala Samuel. Biarlah, salah sendiri meminum es tehnya.
Samuel mengusap kepalanya yang kena hantaman tangan Tasya."Tangan lo kecil-kecil, kalo nabok, sakitnya sampe ke sel-sel otak yah."
"Iyalah! keturunan power rangers" Tasya mengarahkan kepalan tangannya kepada Samuel. "Yaudah iya si paling ngeri, takut gue." Samuel berlagak sok takut.
__ADS_1
"Ekhem, lagi pada ngapain?" mereka sedikit terkejut dengan kedatangan Agam tiba-tiba yang serampangan telah menumpukan tangannya di kepala Bianca.
Bianca sontak menepis tangan Agam di kepalanya. "Kakak jangan sembarangan! ini tempat umum." Desisnya memperingati. Agam hanya mengedikkan bahunya. Tanpa terduga tangannya bergerak, melepas ikat rambut yang menguncir rambut perempuan itu.
"Cantik kan gini." celetuknya sembari memakai ikat rambut Bianca di pergelangan tangannya, lalu segera menjauh, menuju meja lain di mana ada Nathan, Camella dan Bella.
Bianca memberengut, padahal lebih nyaman dengan rambut terkuncir, karena jika surai tergerai bebas, serasa gerah. Tasya menyikut lengan Bianca dengan jahil, "Ciee ekhm ekhm si paling cantik." Bianca mendelik mendengar cibiran sekaligus godaan itu. "Idihh apaan ekhm ekhm segala,"
"Eh ngomong-ngomong Agam ganteng ya. Boleh kali gue jadiin uke?" timpal Samuel lalu terkekeh.
"Jangan bilang lo beneran ngegay ya? iyuhhhh." Tasya bergidik jijik. "Jauh-jauh lo, gak bisa kita deket-deket ama orang yang gak normal."
"Cowok ngegay juga normal kali. Malahan gue bisa buntingin kalian. Mau bukti?" tanyanya sudah mengarah ke hal tabu.
"Sorry-sorry, mau yang batangnya besar dan hot!" balas Tasya bersidekap dada.
"Wahh! kebetulan sekali epribadehh! punya gue juga besar sekali dan berkualitas! kalo tertarik tinggal calling-calling aja." Samuel tertawa-tawa terbahak dengan senda gurauannya sendiri. Tasya dan Bianca hanya menatapnya datar.
Dengan demikian, Samuel pun seketika menghentikkan tawanya karena melihat mereka tak tertawa dengan humornya. "Kok kalian gak ketawa? ketawa dong ayokkk!!! kalo gak ketawa gue bunuh diri nih!!"
"Bunuh diri aja sono! jadi beban dunia aja lo!" Tasya masih terus-menerus menanggapi omongan yang tak bermutu itu.
"Jangan nangis lo!"
"Siapa yang nangis idihh! lo mati gua party coy!" seru Tasya semakin menjadi-jadi.
"Yaudah iya, gua bakalan gantung diri di pohon cabe!" sembur Samuel semakin ngawur. Bianca jadi menghembuskan napasnya, ia mendadak jadi jengah dengan mereka. Maka dari itu, mending ia menjauh dari sini ketimbang harus bertahan dalam tekanan ini.
Memutuskan untuk pergi dari sana, Bianca pun akhirnya beranjak dari duduknya. Atensi kedua orang yang saling bercekcok itupun tersita kepadanya.
"Mau kemana Bia?" tanya Tasya ikut beranjak.
"Nyari angin! di sini serasa pengap dengerin ocehan kalian berdua!" tukasnya sudah melangkah pergi. Di susul oleh Tasya, tak lupa ada Samuel juga di belakang Tasya yang mengikuti mereka. "Ikut juga dong!"
Langkah kaki ketiganya membawa mereka ke koridor. Berbagai perbincangan random yang menjadi perdebatan antara Samuel dan Tasya. Bianca malas ikut nimbrung. Dasar! padahal niatnya menjauh dari mereka agar tak tertekan, mereka justru mengikutinya.
Di tengah-tengah itu, tiba-tiba ada rombongan dari depan mereka, terlihat panik, berlari kecil beriringan dengan lelaki yang tengah membopong--seorang perempuan?
Perhatian mereka pun terpancing kesana.
"Itu kenapa?"
"Kayaknya ada yang pingsan deh." Tasya menjawab pertanyaan dari Bianca.
Saat hendak melalui di samping Bianca, Tasya dan Samuel, bisa mereka lihat jika perempuan yang tengah di bopong itu adalah Sherly. "Minggir-minggir!" Mereka bertiga menepi agar memberi jalan orang-orang itu.Terjadi sedikit perubahan ekspresi terhadap Samuel, namun dua orang disekitarnya tak menyadarinya.
"Sherly?" Mata mereka masih menuju kesana.
"Yaelah, palingan drama doang tuh cewek! dia kan emang begitu, suka caper!" tandas Tasya. Ketika Bianca mengalihkan pandangannya ke sekitar---"Lah si Samsul kemana?!"
Tasya dan Bianca sama-sama mengalihkan perhatian ke arah sebaliknya, di mana ke arah menuju UKS. Rupanya Samuel sudah ngacir, mengikuti rombongan itu. Keduanya bisa menyaksikan dari jarak tempuh empat meter, terjadi keributan sejenak antara Samuel dan lelaki yang tengah membopong Sherly itu.
"Itu si samsul ada masalah apa sih? tiba-tiba aja ngajak ribut orang." ucap Bianca tak mengerti. Sementara Tasya menopang dagunya dengan tangan. Keningnya mengernyit. "Agak sus deh." gumamnya.
__ADS_1
TBC.