Mencintai Mas Ganteng

Mencintai Mas Ganteng
MA Season 3


__ADS_3

Zoya mengantar papanya pulang dengan menggunakan taksi.Mustahil baginya mengajak laki-laki yang sudah babak belur itu berjalan sampai ke rumah meskipun jaraknya tidak terlalu jauh.


Setelah membayar ongkos taksi Raymond dan Zoya memapah papanya sampai ke dalam kamar.Zoya merebahkan tubuh Nando di atas tempat tidur.


"Terima kasih Raymond sudah mau membantu kami," kata Zoya.


"Sama-sama Zoy, kalau begitu aku permisi," pamit Raymond pada gadis itu.


Lalu Zoya mengambil air hangat untuk membersihkan darah yang keluar dari tubuh papanya.


"Maafkan papa telah membuatmu cemas," kata Nando sambil meringis kesakitan.Lukanya sedang diobati oleh putrinya.Dengan telaten Zoya membersihkan darah itu.Kemudian, Zoya mengoleskan salep pada lukanya.


"Jangan banyak bicara dulu pa, beristirahatlah agar papa segera pulih," perintah Zoya dengan nada yang lembut.Kemudian ia menaikkan selimut untuk papanya.


Waktu menujukkan pukul sebelas malam.Nando tertidur seyelah diobati. Mata Zoya amat mengantuk lalu ia putuskan tidur di dekat Sang Ayah sambil terduduk.


Suasana malam yang lumayan dingin itu membuat Zoya tertidur dengan pulas.Apalagi ia merasa sangat lelah hari ini.


Keesokan paginya matahari yang melewati jendela di kamar papanya membuat Zoya mengerjapkan mata.Saat ia terbangun, Zoya terkejut karena Nando tidak ada di tempat tidur.


Zoya mencari di seluruh kamar tapi hasilnya nihil.Lalu ia mencari keluar juga tidak ada.Zoya merasa sangat cemas.


"Papa kemana papa?" gumam Zoya dengan wajah kebingungan.


Saat di luar Zoya melihat Hendra akan memasuki mobilnya. Lalu Zoya memberanikan diri untuk bertanya pada tetangga sekaligus ayah Raymond itu.


"Permisi pak, apa anda melihat papa saya keluar rumah?" tanya Zoya dengan hati-hati.


"Maaf saya tidak tahu," jawab Hendra dengan ketus.


Zoya semakin khawatir lalu ia putuskan untuk menghubungi Leon."Bang tunda keberangkatan dulu, papa hilang," kata Zoya pada abangnya melalui sambungan telepon.


Setelah mendengar kabar tersebut, Leon mendatangi rumah Zoya.

__ADS_1


"Zoya," panggil Leon saat baru turun dari taksi.


"Ayo kita segera berangkat!" kata Leon sambil menarik tangan adiknya itu.Zoya menepis tangan Leon.


"Bang, abang tidak khawatir papa menghilang?" tanya Zoya yang merasa kecewa dengan sikap sang kakak.


"Jangan khawatirkan dia lagi.Papa sudah dewasa mungkin dia sengaja menghilang karena tidak mau merepotkanmu lagi," kata Leon.


"Tapi bang papa sedang terluka," ucapan Zoya membuat Leon mengerutkan keningnya.


"Jelaskan padaku apa yang terjadi?" selidik Leon.


"Semalam kami menemukan papa sedang dipukuli oleh beberapa orang preman yang menangih hutang padanya," kata Zoya.


"Kami?" tanya Leon.Kata kami menekankan dirinya tidak sendirian semalam.


"Aku pergi bersama tetangga sebelahku itu," tunjuk Zoya ke rumah Raymond dengan dagunya.Ia tidak menyebutkan nama Raymond.Sebab Zoya pikir Leon tak mengenal Raymond meskipun dia berasal dari Indonesia seperti dirinya.


Zoya menitikkan air mata.Antara meresapi omongan Leon yang ada benarnya atau tak tega meninggalkan papanya.


Sejenak Zoya berfikir di tengah tangisannya.Ia menghembuskan nafasnya panjang agar tangisannya berhenti."Baiklah, aku ikuti perintah abang, tapi aku mau abang janji," kata Zoya.


"Tolong kerahkan anak buah abang untuk mencari papa agar aku tidak perlu turun langsung mencarinya," pinta Zoya.


Mau tak mau Leon mengiyakan permintaan adik yang ia sayangi itu.Sebelum Zoya pergi ia ingin berpamitan pada tetangganya dulu yang telah menolongnya selama ini.


"Abang aku ingin menemui temanku sebelum aku pergi, aku harap suatu hari nanti dia bisa memberiku informasi tentang keberadaan papa, siapa tahu dia kembali ke rumah ini, temanku bisa memebritahukan itu padaku."


Leon menuruti permintaan adiknya.Ia pun menaiki taksi menuju ke kampus Raymond.Di sana ia bertemu di halaman kampus setelah Zoya menghubungi pemuda itu terlebih dulu.


"Raymond," Zoya melambaikan tangan pada saat melihat kedatangan pemuda yang ia tunggu.


"Hei tumben sekali kamu ngajak ketemuan," kata Raymond dengan ekspresi wajah yang amat senang.

__ADS_1


"Aku ke sini untuk berpamitan denganmu," ucapan Zoya membuat Raymond terkejut.


"Apa maksudmu Zoy?" tanya Raymond yang bingung.


"Aku akan ikut kakakku ke Indonesia, apa kamu bisa kumintai tolong," kata Zoya.


"Apa? Kenapa kamu tiba-tiba pulang ke Indonesia, bagaimana dengan papamu?" tanya Raymond yang mendadak geram mendengar kepulangan gadis yang ia cintai ke negara asalnya.


"Papa menghilang tadi pagi untuk itu aku minta tolong padamu agar memberi kabar jika kau melihat papaku pulang ke rumah," pinta Zoya.


Raymond mendekat ke arah Zoya lalu mengenggam tangan Zoya."Aku mohon jangan pergi!" kata Raymond dengan muka memelas.


"Aku tidak bisa menolak ajakan kakakku, Leon.Di satu sisi aku juga ingin mengejar masa depanku tapi di sisi lain aku mengkhawatirkan keadaan papa terlebih dia terluka semalam," kata Zoya dengan wajh sendu.


Cukup lama Zoya berbincang dengan Raymond hingga dirinya mendapat sebuah panggilan dari kakaknya.Zoya menggeser layar ponselnya tapi bukan mengangkat melainkan mematikannya.


"Kak Leon menelepon aku harus bergegas pesawat yang aku tumpangi akan segera berangkat," pamit Zoya.


"Zoy, sebenarnya aku...aku," Raymond terbata-bata karena gugup.Ia ingin mengungkapkan perasaannya pada Zoya.Mungkin saat ini adalah saat yang tepat.Raymond berharap setelah ini ia mengurungkan kepulangannya ke Indonesia.


"Raymond aku sudah sangat terlambat, maafkan aku," Zoya melangkahkan kakinya.


"Aku mencintaimu," teriak Raymond.Seketika langkah Zoya berhenti. Meskipun Raymond berteriak tidak akan ada yang mengerti dengan apa yang ia omongkan selain Zoya.


Zoya menoleh.Ia berbalik dan mendekat ke arah Raymond.Zoya mengecup bibir Raymond sekilas."Maaf aku tidak membalas cintamu, kita akan berpisah tapi jika suatu hari jika kita berjodoh Tuhan pasti akan mempertemukan kita," kata Zoya lalu berlari menjauhi Raymond. Air matanya tumpah seketika.Ia mengusap air matanya dengan punggung tangannya.


Raymond terduduk lemas."Aku sangat mencintaimu Zoy, jangan tinggalkan aku, kumohon!" ucap Raymond lirih.


Lalu Zoya menemui kakaknya di bandara.Ia juga sudah membawa sebuah koper besar yang berisi barang-barangnya.


"Indonesia I'm coming," ucapnya dengan lantang. Leon senang adiknya begitu antusias.


"Aku tidak akan membiarkan masa depanmu hancur adikku sayang," batin Leon.

__ADS_1


__ADS_2