
Setelah 1 jam lamanya akhirnya Nuna menyelesaikan ritual mandinya. Dengan memakai handuk kimono warna putih dan handuk di kepalanya yang digulung, ia mendudukkan diri di kursi yang ada di depan meja belajarnya.
Dia buka penutup kepalanya kemudian mengusap-usap rambutnya yang basah berkali-kali agar kering. Tak lupa Nuna menyalakan hair driyer agar rambutnya yang panjang menjadi kering sempurna.
Setelah itu dia mengambil baju yang ada di lemari pakaian minimalis miliknya. Di ambilnya kaos putih longgar dengan bawahan celana jins hot pants gaya anak rumahan. Ini adalah style favorit Nuna.
Setelah berganti pakaian Nuna menuruni anak tangga menuju ke dapur. Gadis itu mengambil gelas kemudian menuangkan satu sendok gula. Dibukanya termos yang berisi air panas kemudian dituang penuh ke dalam gelas. Tidak lupa mengambil teh celup dan memasukkannya ke dalam gelas tadi.
Nuna pun membawa gelas berisi teh panas itu ke lantai atas. Dia membuka pintu balkon kamarnya. Nuna sedang bersandar di pagar balkon sambil melihat sekitar rumahnya. Sepi sekali merinding rasanya sudah malam begini akan tetapi dia hanya sendirian di rumah.
Nuna pun memutuskan untuk duduk di kursi yang tersedia di balkon rumahnya. Disruputnya teh manis yang panas itu pelan-pelan sambil menikmati malam yang dingin. Entah malam ini hembusan angin yang begitu kencang ataukah karena dia memakai baju lengan pendek.
__ADS_1
Air matanya mulai menetes. Kenangan bersama mendiang orang tuanya dulu seakan kembali berputar di kepalanya. Rindu, kini yang dirasakan Nuna kepada orang tuanya. Namun apalah daya takdir memutuskan orang tuanya harus meninggalkan dia sendiri.
Andai saja malam itu tidak terjadi kecelakaan, mungkin Nuna masih bisa bercengkrama denga kedua orang tuanya. Tidak adil rasanya bagi Nuna. Kenapa waktu itu hanya dia yang selamat padahal dalam kecelakaan itu mereka bertiga sama-sama terluka parah.
Andai saja Alisha tidak mengantuk saat mengendarai mobilnya. Mungkin kini Nuna tidak harus sendirian.
Tapi Nuna bisa apa. Tidak akan kembali orang yang sudah mati. Percuma kalau hanya meratapi nasib. Lebih baik dia mendoakan ayah dan ibunya di surga.
Ah mungkin ini semua sudah direncanakan sama Tuhan. Pada akhirnya Nuna menemukan jodohnya melalui kejadian yang merenggut nyawa orang tuanya. Tapi kenapa setragis ini kalau Nuna bisa memilih mungkin Nuna akan memilih dipertemukan jodohnya dengan cara yang baik.
Lalu bagai pangeran berkuda putih tapi kali ini kudanya pakai kuda besi, Leon datang menyelamatkan hidup Nuna dari keterurukan.
__ADS_1
Awalnya Nuna kesulitan mengenai biaya hidup dan kuliahnya sepeninggal orang tua Nuna. Namun Leon menolong dengan membayar semua uang kuliah Nuna. Tidak hanya itu saja Leon juga membeli bunga di tempat Nuna setiap hari dan membantu mempromosikan tokonya agar keuntungan yang dia dapat bisa digunakan sehari-hari.
Sampai akhirnya Nuna menyukai lelaki tampan yang entah sejak kapan menjadi tetangganya bahkan teman sekelas Nuna di kampus.
Tapi itu semua adalah bentuk tanggung jawab Leon karena dia merasa harus membayar apa yang telah dilakukan adiknya.
Kalau kata orang alah suka karena terbiasa. Maka itu juga yang dirasakan Leon. Karena tiap hari bertemu perasaan kasian itu berubah menjadi rasa cinta kepada lawan jenis.
Tak mau terus-terusan bersedih meratapi nasibnya. Kini dia meletakkan gelas berisi teh yang sudah mulai dingin. Kemudian masuk ke dalam kamarnya. Berharap nanti ketika tidur bermimpi yang indah-indah.
...❤️❤️❤️...
__ADS_1
Klik like,share dan bisa kasih komentar untuk mendukung karya author ya dears.
Thank You 😘