
Huek huek
Nuna muntah muntah setelah bangun tidur. Perutnya serasa tidak enak."Apa gue hamil?, gak gak ini gak mungkin, mungkin gue cuma masuk angin." Nuna berfikiran yang tidak-tidak karena malam itu Leon mengatakan bahwa dia telah merenggut kesucian Nuna.
Nuna melihat jam dinding kemudian dia bergegas ke kampus.
"Pucet banget muka lo hari ini, gak pake make up?" tanya Citra.
Bruak
Nuna pingsan. Teman-temannya kaget.
"Nun bangun..." Raya menepuk pipi Nuna pelan tapi tidak juga tersadar.
"Bantuin gue dong jangan diem aja." perintah Raya kepada teman lelaki yang ada di kelasnya.
Setengah jam kemudian Nuna sadar. Di sampingnya sudah ada Raya,Safira dan Citra yang setia menunggui.
"Elo udah sadar Na?" tanya Safira.
Nuna mengangguk sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
"Gue kenapa Ray?" tanya Nuna.
"Elo pingsan tadi, sakit lo?" selidik Raya.
"Gue gak tahu kepala gue pusing banget."
"Ya udah mendingan kita anterin lo pulang aja deh, jangan dipaksain." perintah Safira.
"Iya" Nuna menyetujui.
***
"Kita balik dulu ya Na, bye..." teman-teman Nuna menurunkan Nuna di depan rumahnya.
Sebelum Nuna masuk ke rumah ada seseorang wanita paruh baya yang memanggilnya.
"Non non..."
"Saya buk?" Nuna ragu.
__ADS_1
"Nona kan yang waktu itu pulang bersama tuan muda Leon.Saya masih ingat wajah cantik nona. Waktu itu kan saya yang mengganti baju nona yang basah kuyup." kata asisten rumah tangga Leon yang tidak sengaja bertemu.
Deg
Dia baru menyadari kalo waktu itu Leon berbohong. Nuna tidak jadi masuk ke dalam rumah. Dia naik taxi menuju rumah sakit.
"Dasar cowok tukang bohong" dia mengumpat Leon dengan lirih. Lalu dia mendudukkan diri di dekat Leon yang masih terbaring lemah.
"Kenapa kamu suka sekali membohongiku. Kalo saja aku tidak berhutang nyawa, aku akan
membunuhmu Leon." ucap Nuna setengah kesal.
"Siapa yang akan kau bunuh?" tiba-tiba Leon berbicara meski matanya masih terpejam. Kemudian dengan perlahan dia membuka kedua matanya.
"Dasar cowok sialan." Nuna memukuli dada Leon pelan. Lelaki itu lalu menarik tangan Nuna. Badannya terjatuh di atas badan Leon. Saat ini wajah mereka hampir tidak berjarak. Leon pun tidak mau melewatkan kesempatan itu.
Cup
Leon mengecup bibir manis Nuna. Dan tanpa disadari ketiga teman Nuna melihat adegan itu.
Brak
"Sumpah demi apa..." mulut Safira menganga.
"Lo mau nyobain sama siapa dodol." Raya menonyor kepala Citra.
Kemudian Leon melepaskan Nuna.
"Kalian menodai mata suciku hu huu..." kata Citra.
"Alah lo boong gue tahu lo sering nonton drakor yang bagian cium-cium gitu kan...ngaku deh" Raya menyangkal perkataan Citra.
"Mata-mata gue suka-suka gue"
"Apaan sih kalian ini dateng-dateng berantem.Kalian lupa ini dimana?" kata Nuna.
"Eh elo tu yang lupa diri sok sokan ngingetin kita lagi," gumam Citra sambil cemberut.
Pipi Nuna langsung memerah karena teman-temannya melihat kejadian tadi.
***
__ADS_1
"Leon gue bawa balik dulu ya bidadari lo ini." Safira mengajak Nuna keluar dari ruangan Leon.
"Bye..."
"Gue laper nih ngemoll yuk sekalian, udah lama gak jalan bareng." Nuna mengusap perutnya.
"Ceile... yang barusan habis dihisap daya hidupnya." sindir Citra.
" Apaan si lo..." Nuna merasa malu
Mereka pun menuju ke restoran yang ada di sebuah mall.
"Eits tunggu deh itu Jonas bukan sih?" Raya menunjuk ke arah Jonas.
"Jon gimana sama nasib orang yang elo tabrak kemaren." tanya teman Jonas yang saat itu lagi nongkrong bareng.
"Mati kali tu orang." Jonas menjawab.
"Wah parah lo. Jadi lo nabrak cewek itu?."
"Gue gak jadi nabrak Nuna..." belum selesai ngomong Nuna sudah menyahut. "Oo... jadi elo yang nabrak Leon kemaren."
"Gue gak sengaja nabrak dia salah sendiri dia sok jagoan harusnya elo Nun yang mati. Gue kecewa elo nolak gue berkali-kali." Jonas menunjukkan amarah.
Plak
Nuna menampar Jonas.
"Sinting lo"
Lalu Nuna dan teman-temannya pergi meninggalkan Jonas.
Leon
Nuna
__ADS_1
Jonas