
"Huek huek huek,"
Sepertinya Safira mengalami morning sickness.Ariana yang mendengarnya merasa khawatir lalu menyuruh asisten rumah tangganya untuk melihat keadaan Safira.
"Aku tidak apa-apa," kata Safira yang berjalan lemas setelah ia keluar dari kamar mandi.
Safira turun dari lantai dua rumah itu.Jalannya sedikit sempoyongan.Hampir saja wanita itu terjatuh jika Leon tidak menangkapnya dengan cepat.
Safira merasakan tangan kekar suaminya memeluk tubuhnya.Safira tersenyum dalam hati."Aku kira kau akan mengabaikanku sayang," batin Safira yang bersorak kegirangan
"Apa dirimu bauk-baik saja nak?" tanya Ariana dengan nada khawatir.Safira menggeleng lemah agar Leon iba padanya.
"Leon antarkan istrimu ke dokter," titah Ariana pada putranya.
"Hm," jawab Leon setengah mengacuhkan omongan Sang Ibu.Ia pun duduk di meja makan.
Setelah mereka sarapan Leon pamit ke kantor."Aku akan mengantarmu ke dokter kandungan seusai meeting," kata Leon.
"Tidak usah Leon,aku bisa pergi bersama supir.Lagipula rumah sakitnya bukan milik orang lain,jadi kamu gak perlu khawatir."
"Terserah kau saja," jawab Leon ketus lalu berdiri meninggalkan meja makan.
__ADS_1
"Kak aku nebeng,"seru Alisha yang berlari ke arah Leon.
"Maafkan sikap Leon ya nak,kamu harus lebih bersabar untuk mendapatkan hatinya kembali,mama yakin dia sebenarnya peduli sama kamu."Safira tak mendengarkan omongan ibu mertuanya itu.Dia menanggapinya dengan senyum supaya dirinya masih dianggap peduli oleh Sang Mertua.
...***...
Leon menurunkan Alisha di depan pintu gerbang sekolahnya."Nanti siang mau aku jemput?" tanya Leon.
"Gak usah kak,aku nelepon supir aja nanti." Setelah itu ia melambaikan tangan pada kakaknya.
Leon melajukan mobilnya kembali.Namun,di tengah perjalanan dia menepikan mobilnya untuk menelepon seseorang."Hallo,hari ini dia akan ke rumah sakit,tolong kabari aku setelah kau meemeriksanya!" ucap Leon pada Soraya temannya yang bekerja sebagai dokter kandungan di tumah sakit yang dipimpin oleh ayah Safira.
Di sisi lain,Safira bersiap-siap untuk ke rumah sakit.Ia berangkat dengan supir dengan seizin Ariana.Sesampainya di rumah sakit ia menemui ayahnya yang bekerja sebagai direktur di rumah sakit itu.
"Papa," panggil Safira dari ambang pintu lalu berjalan ke arah ayahnya.Tiba-tiba ia memeluk Sang Ayah sehingga Amir menjadi kaget dan bingung dengan sikap Safira.
"Ada apa nak? Apa kau disakiti oleh Leon lagi hm?" tanya Amir pada putrinya.
Safira menggeleng."Aku hamil," ucapnya dengan tersenyum.
Amir bahagia mendengar kabar putrinya hamil.Tapi sesaat kemudian mimik mukanya berubah murung."Apa kau yakin itu anak Leon?" tanya Amir pada Safira seolah mengintimidasi.
__ADS_1
"Ten-tentu saja pa, ini anak Leon," jawab Safira sedikit terbata."Oh iya antarkan aku ke dokter kandungan! Aku ingin periksa hamil," pintanya.
Setelah itu Amir membawa Safira ke ruangan Soraya.Soraya tidak terkejut dengan kedatangan Safira karena Leon telah memberi tahunya lebih dulu.
"Dokter Soraya tolong periksa kandungan anak saya!" perintah Amir pada dokter kandungan yang berhijab itu.
"Baik pak, mari nyonya berbaringlah di sini!" pinta Soraya.Safira mengikuti perintahnya.
Ia mengoleskan gel ke atas perutnya kemudian menempelkan alat yang terhubung ke komputer."Kaoan terakhir kali anda mens*tru*asi?" tanya Sang Dokter.
"Saya tidak ingat karena saya tidak pernah menghitung siklus men*stru*asi saya," jawab Safira.
"Baiklah, bayinya masih sangat kecil ya,kalau di USG ini usia kandungan anda menginjak tujuh minggu."
Seusai memeriksa dan mencetak hasilnya,Soraya memberikan saran-saran sebagai dokter.Lalu Amir mengantarkan putrinya keluar.
Soraya mengambil ponsel dan menelepon Leon."Bayinya sehat,kau tidak perlu khawatir," goda Soraya.
"Aku tidak peduli,jadi apa kau sudah bisa melakukan tes DNA?"
"Bersabarlah Leon,usia kandungannya baru tujuh minggu,kau harus menunggu 5 minggu lagi untuk bisa mengetahui hasilnya, untuk sekarang jadilah ayah yang baik untuk calon anakmu," ledek Safira sambil tergelak.
__ADS_1