Mencintai Mas Ganteng

Mencintai Mas Ganteng
MA Season 3 #130


__ADS_3

Raymond memegang pipinya yang terasa panas. "Apa maksud kamu menampar aku?"


"Dasar laki-laki buaya," umpat Zoya yang merasa kesal.


"Bisa-bisanya kamu jalan sama cewek lain. Sementara aku sedang mengandung anakmu tapi kau tak juga menikahiku," teriak Zoya dihadapan Raymond.


Raymond merasa kehilangan muka di depan teman wanitanya. Lalu ia menarik tangan Zoya dan membawanya menjauh.


"Kamu bisa diam nggak?" Raymond mencengkeram tangan Zoya dengan kuat. Zoya meringis kesakitan.


"Kamu hamil juga bukan karena semata-mata salahku saja, tapi kamu juga dengan senang hati melakukannya bukan?" Bentak Raymond. Zoya terkejut ia sampai meneteskan air mata.


"Aku tidak menyangka kalau kamu berubah sekarang," ucap gadis itu dengan perasaan kecewa.


"Aku hanya tidak suka jika membayangkan kalau kakakmu memukuli aku lagi." Raymond melepas cengkeraman tangannya.


"Pengecut. Jadi kamu takut menghadapi abangku?" Tanya Zoya dengan nada tinggi.


"Kamu sudah pernah lihat kan gara-gara menolongmu saja aku hampir mati dipukuli apalagi sekarang aku menghamili adiknya." Raymond tak mau kalah.


"Bang Leon koma," ucap Zoya dengan nada bergetar.


Raymond mengerutkan keningnya. "Bang Leon koma setelah mengalami kecelakaan." Zoya kembali mengulangi perkataannya.


Raut muka Raymond berubah. "Apa yang kamu katakan itu benar?" Tanya Raymond dengan suara lirih.


"Kak Nuna menyuruhku berbicara padamu agar menggunakan kesempatan ini untuk menikahiku meskipun tanpa restu abangku. Lagipula bukankah hanya papa yang akan menjadi waliku?" Zoya mengutarakan pendapatnya.


Raymond menghela nafas. "Baiklah aku butih waktu sebentar untuk mempersiapkan diri. Besok aku akan menghadap ayahmu."

__ADS_1


Perkataan Raymond membuat senyum Zoya merekah. Ia menghapus air matanya dengan kasar. "Aku mohon pertimbangkan baik-baik," pintanya.


Setelah itu mereka berpisah. Zoya mengabarkan pada papanya bahwa Raymond sudah siap menikahinya. Nando begitu senang akhirnya putri kesayangannya itu menemukan pendamping. Begitu pun Nuna yang mendengar kabar tersebut merasa amat lega. Akhirnya Raymond mau bertanggung jawab pada Zoya.


...***...


Hari ini Raymond menelepon Citra. Ia mengabari kalau akan menikah dengan Zoya. Lalu ia meminta keluarga Citra mengantar Raymond untuk melamar Zoya.


"Kamu gila ya Ray, bisa-bisanya kamu hamili anak orang." Itulah reaksi Citra saat mendengar cerita dari adik sepupunya itu.


"Kami melakukannya karena saling suka, saat itu aku berpikir pendek, kemungkinan aku tidak bisa bersamanya karena hubunganku ditentang oleh kakaknya."


"Tapi itu salah Raymond salah besar." Citra terlihat marah pada Raymond.


"Tolong gue Cit, bujuk om dan tante agar mau mengantar gue melamar Zoya." Raymond meminta dengan muka memelas.


Raut muka Raymond berubah sendu. "Akankah kamu mengabari om Hendra?" Tanya Citra.


"Ya, aku akan mengabari ayahku meskipun nantinya jika dia tidak mau datang aku tidak masalah." Raymond mencoba berbesar hati.


...***...


Di rumah kontrakannya, Raymond menelepon ayahnya melalui sambungan telepon internasional. Cukup lama Raymond menunggu akhirnya ia mendengar suara ayahnya setelah sekian lama.


"Ayah, apa kabar?" Tanya Raymond dengan nada bergetar. Ia sangat merindukan ayahnya.


"Mau apa kamu meneleponku? Bukankah kamu meninggalkan aku begitu saja, lupakan kalau kita pernah punya hubungan darah."


Kalimat panjang yang keluar dari mulut ayahnya begitu pedas hingga membuat hati Raymond terasa sakit. Ia pun hampir menangis mendengarnya tapi ia tahan dengan menggigit tangannya supaya tidak berteriak.

__ADS_1


"Maafkan aku! Aku mohon beri kesempatan aku untuk memperbaiki kesalahku. Sebentar lagi aku akan menikah dengan Zoya berilah kami restu, ayah tidak perlu datang ke sini aku hanya perlu restu dari ayah," ucap pemuda itu pada ayahnya.


Hendra tentu terkejut. Mana ada orang tua yang akan tenang apabila telah lama berpisah dengan anaknya tiba-tiba anaknya mengabari kalau ia akan menikah.


"Dasar anak bodoh." Umpat Hendra lalu menutup sambungan teleponnya secara sepihak.


Raymond tahu ayahnya pasti akan kecewa. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Perut Zoya sudah membesar dan akan segera melahirkan. Tidak mungkin ia membiarkan wanita yang dicintainya itu hidup seorang diri mengasuh anak kandungnya.


Maka keesokan harinya Raymond mantap menghadap Nando.


Plak


Tamparan keras melayang di pipi Raymond. Nando menampar Raymond di depan keluarga Citra. "Pak, sabar." Ayah Citra mencoba menenangkan Nando.


"Tidak bisakah kamu menjaga wanitamu sebelum halal untuk disentuh, apa kamu tidak bisa memperlakukan wanita dengan baik hingga harus menghamilinya dulu baru kamu akan meminta restuku?" Geram Nando.


Sebenarnya ia hanya ingin menguji seberapa bulat tekad Raymond untuk bertanggung jawab. Pasalnya Nando sudah merestui mereka saat Zoya memintanya. Ia pasrah karena tidak bisa menjaga anaknya dengan baik.


"Maafkan saya, Pak. Saya akui saya salah. Maka dar itu saya ingin bertanggung jawab untuk menikahi Zoya dan membesarkan anak kandung kami bersama-sama setelah ini."


"Apa kamu bersungguh-sungguh?" Tanya Nando memastikan. Raymond mengangguk.


"Baiklah, buktikan kalau kamu benar akan bertanggung jawab. Nikahi Zoya seminggu lagi." Ucapan Nando menbuat Raymond terkejut. Bagitu pula dengan keluarga Citra.


...🌼🌼🌼...


Hallo dears aku mau ingetin ya buat dukung karya aku dengan menonton iklan di kolom hadiah. Kalian nggak perlu mengeluarkan poin sepeser pun ya guys cukup tonton iklannya sampai selesai.


__ADS_1


__ADS_2