Mencintai Mas Ganteng

Mencintai Mas Ganteng
Season 3 Masa lalu


__ADS_3

Zoya memilih untuk duduk di sebuah taman kota sendirian. Pandangannya kosong tapi tangannya meremat minuman kaleng yang ia pegang.


Zoya mengenang masa-masa indah bersama ayahnya. Dulu Nando tak pernah sekasar ini pada dirinya. Namun, perasaan frustasi sudah membekukan hati Nando yang lembut. Hampir setiap hari yang dilakukannya hanya menghabiskan harinya di bar dengan minum-minuman keras. Laki-laki itu jarang pulang ke rumah. Ia pulang apabila sudah kehabisan uang untuk membeli minuman.


Apabila Zoya tak memberikan uang yang ia minta, tangannya akan beraksi. Ayahnya bisa membuang semua perabot yang ada di rumahnya itu ke lantai. Ia mengamuk sampai putrinya memberikan uang.


Hati Zoya sangat sakit melihat Sang Ayah yang berubah drastis. Air matanya tak bisa dibendung lagi. Ia menangis sendirian di taman. Sesekali ia meneguk minuman yang ia pegang.


Raymond tak sengaja melewati taman itu saat dirinya baru pulang kuliah. Ia curiga ketika melihat Zoya duduk sendirian di taman. Setelah ia perhatikan rupanya gadis itu sedang menangis sendirian.


Raymond melangkahkan kakinya cepat ke arah Zoya. "Kamu tidak apa-apa?" Raymond memberikan tisu pada Zoya.


Zoya mengambil tisu itu lalu menyeka ingus dan air matanya. "Terima kasih," ucapnya lirih. Mata dan hidungnya masih terlihat merah habis menangis. Tapi ia sudah sedikit tenang.

__ADS_1


Raymond melirik ke bawah. Rupanya Zoya meminum bir untuk menenangkan dirinya. Raymond segera mengambil kaleng minuman yang Zoya pegang.


"Kembalikan!" sungut Zoya. Raymond malah membuang kaleng itu ke tempat sampah.


"Apa kau sering dipukuli oleh ayahmu sendiri?" tanya Raymond. Ia menatap mata Zoya yang sembab. Lalu ia perhatikan sudut bibir gadis itu masih terlihat bengkak bekas pukulan ayahnya.


"Tidak sering," jawab Zoya bohong.


"Mereka tidak tahu, aku tidak pernah menceritakan soal papa pada mereka, aku sendiri yang memutuskan tinggal bersama papa setelah dia bercerai dengan mama, bang Leon sangat membenci papa karena ia telah mengkhianati mama."


"Lantas apa yang kamu harapkan dari papamu? Dia orang yang sangat kasar," ucap Raymond sedikit kesal.


"Dulu dia tidak seperti itu,papa orang yang sangat baik, bahkan lebih baik daripada mama." Ada kenangan manis bersama papanya yang terlintas di pikiran gadis itu.

__ADS_1


"Papa berubah setelah banyak kejadian yang dia alami. Ya meskipun sebagian karena ulahnya juga tapi aku yakin suatu hari nanti papa bisa berubah seperti dulu. Aku tidak akan meninggalkannya karena dia tidak punya siapa-siapa selain aku. Bayangkan saja dirimu ketika tua nanti lalu tidak ada yang bisa kau andalkan. Lagipula aku berhutang pada papa yang sudah membesarkan dan menyekolahkanku, sudah sepantasnya aku membalas jasanya," terang Zoya panjang lebar.


Raymond tidak menyangka gadis yang baru dikenalnya itu seorang yang memiliki hati yang lapang. Bertahan dengan orang tua yang sangat kasar mungkin kalau itu dirinya pasti sudah kabur, tapi tidak dengan Zoya. Ia bertahan karena alasan yang masuk akal.


"Aku tidak tahu lagi bagaimana cara menasehatimu, yang jelas aku salut karena kau wanita yang kuat, bahkan kamu rela menanggung penderitaan demi orang tuamu."


"Jangan berlebihan, aku hanya seorang anak yang ingin membalas kebaikan orang tuaku itu saja."


"Lebih baik kita pulang, sebentar lagi malam, kau juga perlu beristirahat," ajak Zoya.


Raymond mensejajarkan langkahnya dengan Zoya. Lalu jarinya menelusup di antara jari jemari gadis itu.


Zoya tersentak kaget. "Jangan salah paham, aku hanya ingin kau merasa lebih tenang," ucap Raymond tanpa memandang orang yang diajaknya bicara.

__ADS_1


__ADS_2