Mencintai Mas Ganteng

Mencintai Mas Ganteng
MA Season 3 #127


__ADS_3

Leon menyalakan lampu saat Alisha memasuki rumahnya dengan cara mengendap-endap. Alisha terkejut. "Darimana saja kamu jam segini baru pulang?" Leon bertanya pada adiknya.


"Aku habis ngerjain tugas kak di rumah temen." Alisha berbohong.


"Bohong, kenapa kamu tidak membawa buku, hm?" sentak Leon sehingga membuat gadis itu kaget.


"Buat apa kamu menghabiskan uang dua puluh lima juta hari ini? Apa yang kamu beli?"


Tangan gadis itu gemetar. "A-aku berbelanja," jawab Alisha dengan terbata-bata.


"Lalu mana barang belanjaanmu?" Tanya Leon dengan suara yang sengaja ditinggikan. Dia geram sekali dengan Alisha yang berfoya-foya padahal keadaan perusahaannya sedang sulit.


Nuna keluar dari kamar dan menghampiri keduanya. "Mas, sudahlah biarkan Alisha beristirahat," bujuk Nuna seraya mengusap lengan Leon agar lebih tenang.


Leon menghembuskan nafas panjang. "Kamu tahu tidak aku sedang kesulitan keuangan, perusahaanku hampir saja bangkrut, tapi kamu seenaknya menghabiskan uang untuk berfoya-foya." Leon sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.


"Lalu apa itu salahku kalau perusahaan kakak bangkrut?" Bantah Alisha. Gadis itu berlari ke dalam kamar.


"Alisha," teriak Leon geram.


"Sabar mas sabar ya." Nuna masih berusaha menenangkan suaminya.


Leon dan Nuna masuk ke dalam kamar. Zoya mendengar kemarahan abangnya itu. "Lalu bagaimana dengan nasibku?" Gumam Zoya. Ia mengelus perutnya yang masih rata.


...***...


Keesokan harinya saat Alisha akan berangkat ke kampus Leon menghadangnya. "Serahkan kunci mobil kamu!" Leon menengadahkan tangannya.

__ADS_1


"Untuk apa kak?" Tanya Alisha tidak mengerti.


"Aku menghukummu, naiklah ojek selama sebulan ke depan, oh iya aku akan memblokir kartu kreditmu sementara waktu. Ini aku kasih uang secukupnya untuk pulang pergi dan uang sakumu. Jika ada kebutuhan mendesak telepon akku terlebih dulu."


Perkataan Leon membuat Alisha melotot. "Tapi kak..." Alisha ingin membantah tapi Leon lebih dulu menyela.


"Itu untuk uang dua puluh lima juta yang kamu keluarkan sia-sia," cibir Leon.


Leon melenggang pergi sedangkan Alisha mematung di tempat. "Ayo dek berangkat," ajak Zoya. Alisha berjalan dengan lamgkah gontai. Ia tidak bisa membayangkan jika teman-temannya tahu.


Mereka pun memesan ojek online melalui aplikas. Leon dengan angkuh melewati keduanya menggunakan mobil.


Alisha mengepalkan tangan lalu meninju udara saking kesalnya dengan sang kakak. "Nanti turunin deket kampus aja Bang," kata Alisha pad driver ojek online yang ia bonceng.


Sesampainya di kampus ia melepas helm lalu membayar uang pada driver ojek tersebut. Anya salah satu teman Alisha mencibir dirinya. "Lho mobil lo kemana say?"


"Lagi di bengkel." Alisha berbohong.


"Gue suka AC alami lagian adik sultan juga perlu merakyat lagi," jawab Alisha tak mau kalah.


Gadis itu berjalan menjauhi teman-temannya. "Sial mereka cari masalah denganku, bukannya berterima kasih kemaren aku sudah membayar semua barang belanjaannya malah terang-terangan mereka menghinaku," gumam Alisha dengan kesal.


Lalu seorang laki-laki mendekati Alisha. "Woy ngedumel mulu," sahut Vanno teman sekelas Alisha.


"Apaan sih lo sibuk ngurusin orang aja," kata Alisha dengan ketus.


"Dih, cantik-cantik jutek banget." Vanno mencubit dagu gadis itu.

__ADS_1


Alisha menepis tangannya. "Jangan sembarangan pegang deh gue takut lo bawa kuman," cibir Alisha.


"Ck, pelit amat." Vanno pergi menjauh.


Tak lama kemudian dosen memasuki ruang kelas mereka.


...***...


Nuna kembali memeriksakan kondisi rahimnya. Namun, Citra diam-diam mengikuti Nuna. Ia masuk ke dalam ruangan dokter obgin yang membuat Citra menarik kesimpulan kalau Nuna sedang hamil.


Citra pun menunggu sahabatnya sampai keluar dari ruangan tersebut. Berbeda dengan Citra yang tersenyum saat melihat sahabatnya, Nuna justru kaget.


"Nun elo hamil?" Citra bertanya pada intinya.


Nuna bingung bagaimana ia menjelaskan pada sahabatnya itu. "Kamu ada waktu nggak kita bicara sebentar," pintanya.


"Kita ke kantin rumah sakit aja yuk, setengah jam lagi istirahatku selesai," kata Citra sambil melihat jam yang ia pakai di pergelangan tangannya.


Sesampainya di kantin rummah sakit Nuna dengan berat hati menceritakan penyakitnya. "Gue kesini bukan karena gue sedang hamil, tapi gue sakit radang panggul yang menyebabkan gue nggak bisa hamil anak Leon." Nuna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Citra kaget mendengar penuturan sahabatnya itu. Dia memegang tangan Nuna untuk menguatkan. "Kamu yang sabar ya Nun, apa suamimu sudah tahu tentang penyakitmu?" Tanya Citra kemudian. Nuna menggeleng.


"Aku belum siap berpisah dengannya, usia pernikahanku baru setahun, mana mungkin aku rela menjadi janda, lalu apakah jika aku berpisah dengannya ada laki-laki lain yang akan menerimaku?" Berbagai pikiran buruk membayangi Nuna.


"Tapi pada akhirnya dia harus tahu Nun. Elo gak boleh menutupi apapun dari suami lo, seberapa rapat kamu menutupi kebohongan kamu akan terbongkar." Citra memberi nasehat.


Nuna kembali merenungkan omongan Citra. Sesampainya di rumah ia akan membicarakannya dengan Leon. "Semoga dia mengerti," gumam Nuna ketika baru masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Surprise."


Nuna terkejut saat semua orang berkumpul di rumah.


__ADS_2