
..."Memaafkan belum tentu membuat kita lebih baik atau bahkan merasa lebih baik, tetapi yang jelas membuka jalan kebaikan"...
...***...
Raymond yang sedang bersiap-siap untuk berangkat kuliah mendengar suara keributan dari luar. Samar-samar ia mendengar suara Zoya.
"Ada apa ini?" Tanya Raymond saat melihat Zoya menangis di depan ayahnya.
"Zoya kenapa kamu menangis?" Tanya Raymond yang khawatir.
"Papaku pingsan aku ke sini untuk meminta tolong."
"Oh astaga, ayo kita segera ke sana." Raymond menarik tangan Zoya dan melewati ayahnya.
"Raymond tunggu!" Hendra hendak mencegah putranya tapi tampaknya Raymond tidak peduli.
Raymond terkejut saat melihat ayah Zoya bersimbah darah di bagian kepalanya. "Kenapa bisa begini?" Tanya Raymond.
"Akan kujelaskan nanti, tolong angkat ayahku ke atas ranjang, aku akan membersihkan darahnya dulu."
"Kita bawa dia ke rumah sakit, aku takut nyawa ayahmu tidak tertolong."
"Iya, kita tunggu taksi yang sudah kupesan," jawab Zoya.
Zoya pun mengambil air hangat dan kapas untuk membersihkan darahnya.Belum selesai ia membersihkan, taksi yang dipesan sudah datang.
"Ayo kita angkat ayahmu," kata Raymond.
"Ah sebaiknya aku meminta tolong pada pak supir." usul Zoya.
Mereka bertiga mengangkat tubuh Nando ke dalam mobil. Zoya menemani ayahnya di belakang. Raymond juga ikut dengan naik di kursi sebelah sopir.
Sesampainya di rumah sakit. Raymond turun lebih dulu kemudian memanggil perawat agar segera menolong Nando.
Setelah itu Nando mendapatkan perawatan darurat di ruang IGD rumah sakit tersebut.
__ADS_1
"Keluarga pasien?" Panggil perawat tesebut. Zoya pun mendekat.
"Silakan urus biaya administrasi dulu agar kami bisa melakukan perawatan pada pasien," perintah perawat tersebut.
Zoya pun membayar sejumlah uang yang diminta oleh pihak rumah sakit. Setelah itu ia dan Raymond menunggu Nando di luar. Ia akan dipindahkan ke ruang perawatan pasien.
"Dok apa cidera di kepala orang tua saya parah? Kenapa dia tidak bangun juga?" Tanya Zoya yang merasa cemas.
"Apa dia seorang pemabuk?" Zoya mengangguk.
"Sepertiya itu karena efek yang ditimbulkan karena banyak mengkonsumsi alkohol," terang sang dokter.
"Zoy, sepertinya aku harus pulang dulu kamu tidak apa kalau aku tinggal?" Tanya Raymond sedikit tidak enak.
"Iya maaf merepotkanmu," ucap Zoya .
...***...
Alisha tiba di Indonesia. Kepulangannya yang mendadak membuat Leon curiga. "Kok cuma sebentar liburannya dek?" tanya Leon.
Alisha masuk ke dalam kamar.Ia sedih meninggalkan kakaknya bersama orang yang kini menjadi sangat kasar.
"Bagaimana dengan kak Zoya ya, aku jadi khawatir kalau dia kenapa-napa" gumam Alisha.
...***...
Zoya merawat ayahnya dengan baik selama di rumah sakit. Sehari kemudian ayahnya siuman.
"Dimana aku?" tanya Nando yang baru sadar dari pingsan selama sehari dua malam.
"Papa jangan bangun dulu, papa ada di rumah sakit, aku yang mengantar papa," ucap Zoya.
"Aku ingin pulang," Nando hendak berdiri ia bahkan mencopot jarum infusnya sendiri. Zoya merasa khawatir. "Jangan begini pa!"
Kepala Nando masih pusing ia pun memilih merebahkan diri kembali dengan bantuan Zoya. "Aku mohon menurut kali ini," kata Zoya.
__ADS_1
"Dia pun memanggil suster untuk memasang kembali jarum infus yang sempat dibukanya.
"Saya akan memberikan obat penenang," kata Suster.
"Baik, sus terima kasih," ucapnya pada perawat tersebut.
Zoya menangis saat melihat kondisi papanya. "Maafkan aku karena membuatmu sampai masuk rumah sakit," ucap Zoya dengan penuh penyesalan.
Tentu saja ia menangis bukan hanya karena ayahnya terbaring di rumah sakit tapi karena nasib keluarganya yang buruk sehingga mereka harus terpisah, kekayaan mereka disita oleh bank, dan ayahnya menjadi pemabuk.
"Semoga keadaan ini segera berubah," harap Zoya di sela-sela tangisannya.
Tak mau membangunkan Nando, Zoya pun menyeka air matanya. Ia kemudian keluar untuk mencari makan.
"Uangku tinggal segini," kata Zoya saat melihat isi dompetnya.
Tanpa diduga Alisha menelepon. Zoya pun menerima sambungan telepon luar negeri itu.
"Bagaimana kabar kakak?" tanya Alisha melalui sambungan telepon.
"Baik dek, baru aja kemaren kita ketemu kan."
"Aku sangat mengkhawatirkan kaka."
"Bisakah aku meminta bantuanmu? Papa sedang di rawat di rumah sakit aku sudah tidak memiliki uang lagi bisakah aku pinjam tabunganmu dulu," pinta Zoya.
"Mintalah pada kak Leon kak."
"Mustahil dek, abang pasti akan menolak jika itu untuk kebutuhan papa, kau tidak ingat betapa bencinya dia."
"Ah baiklah pakai saja uangku, aku akan mentransfer uangku nanti,"
Ucapan Alisha sungguh membuat hati Zoya merasa tenang. Sementara ini ia tak harus meninggalkan papanya yang sedang sakit untuk bekerja.
Zoya bekerja paruh waktu. Di manapun ada lowongan pekerjaan paruh waktu ia akan melamarnya. Tidak memiliki ijazah tinggi membuatnya kesulitan untuk mencari pekerjaan.
__ADS_1
Sungguh miris sekali nasib Zoya. Leon memang mengirim uangnya tiap bulan tapi uang itu selalu digunakan ayahnya untuk mabuk-mabukan. Alhasil Zoya pun memilih untuk bekerja agar Leon tidak curiga.