
Antoni bersedia membantu Leon dengan menyuntikkan dana ke perusahaannya. "Terima kasih, Pak. Entah bagaimana nasib perusahaan saya jika tidak mendapatkan bantuan dari bapak," ucap Leon pada Antoni.
"Seharusnya jangan berterima kasih padaku tapi pada orang tuamu, aku bersedia menanamkan modal di perusahaanmu karena aku pernah herhutang budi padanya."
Parkataan Antoni membuat Leon terpaku. Leon tidak menduga ayahnya membantu secara diam-diam. Leon merasa bersalah pada orang tuanya karena tidak pernah berbuat baik padanya.
...***...
"Pa," Leon memeluk Nando secara tiba-tiba. "Terima kasih," kata Leon.
Sejak saat itu hubungan antara Leon dan papanya menjadi hangat. Mereka juga sering mengobrol. Namun, Alisha sepertinya urang suka dengan kedekatan antar kakak dan papanya.
Alisha masih bersikap dingin pada orang tuanya itu. Ia masih mengingat perlakuanny ketika berada di Paris. Sungguh ia merasa malu memiliki orang tua mantan pemabuk berat seperti Nando.
...***...
Akhir-akhir ini Zoya sering berkunjung ke rumah Raymond. Sejak Nuna menyewakan rumah yang ia tinggalkan pada Raymond, Zoya selalu menyempatkan waktu untuk menemui kekasihnya.
"Aku sangat merindukanmu, sayang." Raymmond mencium bibir Zoya dengan rakus.
Keduanya melepas rindu di atas ranjang. Tanpa orang lain ketahui mereka sering berhubungan badan. Raymond dan Zoya sama-sama menginginkannya.
Namun, suatu hari Zoya merasa sudah lama ia tidak mens*truasi. "Apa aku tes saja ya?" gumamnya seorang diri.
Zoya pun membeli alat tes kehamilan di minimarket terdekat. Sesampainya ia di rumah, Zoya mengetes urinnya sendiri.
"Tidak mungkin," ucapnya merasa fruatasi ketika alat tersebut menunjukkan dua garis tanda positif hamil.
Zoya menangis sejadi-jadinya di kamar mandi. Tapi ia menutup mulutnya agar orang lain tidak mendengarnya.
__ADS_1
Di lain hari Zoya mendatangi Raymond setelah laki-laki itu pulang dari bekerja. "Ada apa Zoy?" Tanya Raymond yang penasaran tiba-tiba kekasihnya itu mengajak bertemu.
"Ray, aku hamil." Sebuah kalimat yang membuat Raymond seakan tersambar oetir di siang bolong.
Raymond meraup mukanya kasar. "Sekarang aku harus bagaimana menghadapi kakakmu? Aku takut dia tidak merestui kita," ucapnya.
"Aku juga bingung," jawab Zoya sambil terisak.
Raymond memegang tangan Zoya. "Jangan khawatir aku akn tetap menghadapi kakakmu meskipun dia akan membunuhku sekalipun," kata Raymond dengan mantap.
...***...
Nuna memeriksakan kondisi kandungannya. Sudah hampir setahun menikah tapi ia belum juga mendapatkan momongan. "Bagaimana, Dok?" Tanya Nuna.
"Maaf nyonya. Sepertinya anda tidak bisa hamil. Anda terkena radang panggul yang menyebabkan saluran tuba anda tersumbat sehingga proses ovulasi tidak berjalan lancar."
Penjelasan dokter membuat bahu Nuna meluruh. Ia mengepalkan tangannya untuk menahan tangis.
"Kita akan lakukan pemeriksaan lebih lanjut apabila ditemukan banyak abses (nanah) maka anda harus menjalani operasi."
Setelah itu Nuna keluar dengan langkah gontai. Air mata yang ia tahan akhirnya lolos juga. Tubuhnya bersandar di tembok lalu ia merosot dan mendekap lututnya.
"Tidak, aku tidak boleh bersedih. Aku akan bicarakan pada Leon dengan baik-baik pasti dia akan menerimanya," batin Nuna dalam hati.
Nuna pulang ke rumah menaiki taksi. Ia sengaja agar tidak ada anggota keluarganya yang curiga.
...***...
Seusai pertemuannya dengan Raymond, Zoya kembali ke rumah. "Zoy kamu baru pulang?" Tanya Nuna yang melihat adik iparnya masuk.
__ADS_1
Zoya tidak menjawab. Ia tiba-tiba menangis. Nuna menghampiri Zoya lalu bertanya padanya. "Kenapa kamu menangis?"
"Kak, aku hamil," kata Zoya lirih.
Nuna terkejut mendengarnya. Sejenak wanita itu berpikir, jika dipikir secara positif Nuna akan mengasuhnya jika Zoya tidak mau merawat bayi yang ia lahirkan.
"Kita duduk dulu," ajak Nuna.
"Katakan kamu hamil berapa bulan?" Tanya Nuna antusias.
"Kak, apa kakak tidak marah padaku?" Tanya Zoya yang heran. Ia pun berhenti menangis.
"Tidak, kakak senang mendengar bahwa kakak akan mendapatkan keponakan. Kamu tahu tidak kakak tidak bisa hamil Zoy."
Ucapan Nuna membuat Zoya terkejut mendengarnya. "Bagaimana mungkin?" Tanya Zoya tidak mengerti.
"Aku habis memeriksakan kondisi rahimku karena aku curiga kenapa hampir setahun menikah aku belum bisa hamil, kata dokter aku mengalami radang panggul, aku harus menjalani pemeriksaan selanjutnya jika dibutuhkan aku juga harus menjalani operasi," terang Nuna menceritakan keadaan dirinya pada sang adik ipar.
Zoya menggenggam tangan Nuna. "Apa abang tahu?"
Nuna menggeleng. "Aku belum memberi tahunya. Sebenarnya aku takut Leon akan kembali pada mantan istrinya. Aku takut Leon tidak bisa menerima keadaanku yang mandul." Nuna mulai meneteskan akir mata.
Zoya memeluk kakak iparnya erat. "Kak, aku harap kita sama-sama memiliki solusi dari semua permasalahan kita ini."
Nando keluar dari kamarnya. "Kalian bwrdua kenapa berpelukan?" Tanya Nando pada menantu dan juga putri kandungnya.
Nuna merenggangkan pelukan Zoya. Ia laku menghapus air matanya. "Kami hanya sedang mengenang mendiang mama, Pa." jawab Nuna bohong.
"Owh, kalau begitu kapan-kapan kita kesana lagi," usul Nando. Nuna dan Zoya hanya mengangguk.
__ADS_1
Zoya merasa lega karena Nuna bisa membuat alasan kenapa mereka menangis bersama.