Mencintai Mas Ganteng

Mencintai Mas Ganteng
Season 3 Zoya


__ADS_3

Setelah tiba di pelataran rumahnya Raymond melihat ke arah rumah tetangganya itu. Yang membuat ia penasaran adalah penghuni rumah tersebut.


"Yah siapa yang tinggal di sana?" tunjuk Raymond pada rumah yang ada di sebelahnya.


"Penghuni di sana hanya satu orang, tapi dia jarang di rumah karena sangat sibuk bekerja," terang ayahnya itu.


Raymond tak bergeming. Dia masih diam di tempat sambil melihat ke arah rumah yang ada di sebelah rumahnya itu. Hendra menoleh ke arah putranya. "Lain kali akan kuperkenalkan penghuni rumah itu padamu," ucap sang ayah.


***


Sore itu Zoya baru saja pulang dari tempat kerjanya.Gadis itu langsung menuju ke dapur setelah memasuki rumahnya. Ia mengambil minuman dingin yang ia simpan di kulkas.


"Agh segarnya," ucapnya setelah meneguk minuman itu.


Tak lama kemudian dia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Baru saja ia akan melepaskan semua baju yang ia pakai, bunyi bel dari depan rumah menghentikan aktivitasnya.


Zoya merapikan kembali baju yang sempat dia buka kemudian melangkahkan kakinya untuk membukakan pintu.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Zoya pada pemuda yang ada di hadapannya itu dengan menggunakan bahasa Perancis.


Namun setelah saya amati laki-laki tersebut kemungkinan berasal dari Indonesia, pikirnya. Ia pun memberanikan diri untuk menggunakan bahasa Indonesia ketika menyapa kamu dia sedang berdiri di depan pintu tersebut.

__ADS_1


"Selamat sore kenalin nama aku Raymond,"dia menjulurkan tangannya ke arah Zoya.


Namun Zoya tak menanggapi. "Kalau tidak ada urusan yang penting sebaiknya anda pulang," Zoya mengusir tapi dengan nada yang lembut.


"Nona apa kau sama sekali tidak mengingat wajahmu ini kita pernah bertemu sekali saat di bandara," Zoya malah mengerutkan keningnya.


"Maaf banyak orang yang saya temui di bandara," Zoya berusaha mengingat wajah Raymond tapi sama sekali tak terlintas di pikirannya. Zoya malah menggedikkan bahunya.


Raymond pulang dengan keadaan kecewa. Namun pemuda memutuskan berbalik badan. "Aku hanya ingin bilang aku tinggal di sebelah rumahmu," ucapnya dengan lirih. Sayangnya Zoya sudah menutup pintu rumahnya.


Raymond berjalan gontai memasuki pekarangan rumahnya. "Hey boy ada apa denganmu?" tanya sang ayah yang sedikit khawatir melihat keadaan putranya.


"Entahlah aku tidak begitu akrab dengannya," jawaban itu membuat Raymond semakin frustasi. Dia sampai mengacak rambutnya sendiri.


"Apa kau pernah bertemu dengan dia sebelumnya?" Raymond mengangguk.


"Sekali, di bandara saat aku mengantarkan Ayah berangkat ke Paris," ungkap Raymond.


Hendra menepuk bahu putranya. "Sudahlah sebaiknya kau persiapkan dirimu untuk mulai mengikuti pelajaran pertamamu di universitas baru."


Raymond kembali mengamati rumah gadis yang gagal diajaknya berkenalan itu lewat jendela kamarnya.

__ADS_1


Ternyata tak dapat berkenalan dengan membuat hidup Raymond gelisah bahkan ia sampai tidak bisa tidur.


"Besok aku harus bisa berkenalan denganmu," seraya menyandarkan kepalanya di tembok.


Keesokan harinya Raymond hampir saja telat bangun karena selama semalaman tidak bisa tidur. "Tunggu sebentar Yah," teriak Raymond saat menjawab panggilan dari ayahnya.


Pemuda itu pun segera keluar dari kamarnya. "Kita hampir saja kesiangan," tegur Hendra.


Keduanya memasuki mobil.Hendra menyalakan mesin kuda besi miliknya itu kalau dia melaju dengan kecepatan tinggi.


"Telepon ayah jika kau sudah pulang dari kampus," pesan Hendra setelah menurunkan Raymond di depan universitas barunya.


"Aku bukan anak kecil lagi ya Aku bisa naik transportasi umum, jangan khawatirkan aku aku bisa mengandalkan ponselku agar tidak tersesat," ucapnya pada sang Ayah agar tidak merasa khawatir.


Raymond mengikuti kegiatan belajar di kampus baru yaitu dengan lancar di hari pertama. Saat ia mencoba menghubungi ponsel ayahnya baterai handphone miliknya ternyata lowbat.


"Yah mati," keluhnya.


Kemudian ia bertanya pada mahasiswa lain bagaimana caranya dia bisa sampai ke rumah. Mahasiswa itu mengatakan bahwa Raymond harus menaiki kereta bawah tanah.


Ketika sampai di stasiun kereta api Raymond tampak bingung karena dia baru pertama kalinya menginjakkan kaki di stasiun tersebut.

__ADS_1


__ADS_2