Mencintai Mas Ganteng

Mencintai Mas Ganteng
MA Season 3


__ADS_3

Zoya mengajak adiknya pulang setelah seharian jalan-jalan. Namun, ketika ia sampai di rumah Nando kembali mengamuk. Kali ini Alisha harus melihat langsung kemarahan Nando yang tak terkontrol akibat pengaruh minuman keras.


Alisha menangis karena ketakutan. Zoya berusaha menenangkan adiknya.Tapi Nando malah menyeret Zoya.


"Berikan aku uang," kata Nando dengan kasar.


Tak terima melihat kakaknya diperlakukan ayahnya dengan kasar Alisha berlari ke kamar mandi lalu membawakan seember air kemudian menyiramkannya ke tubuh Nando.


"Apa-apaan ini?" Nando marah ketika mendapati tubuhnya basah kuyub.


Ia mendekat ke arah Alisha lalu ia menarik rambutnya. Nando benar-benar dikuasai oleh alkohol.


"Dasar anak durhaka kamu," bentak Nando sambil menarik rambut Alisha. Alisha meringis kesakitan.


Zoya kemudian mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk memukul ayahnya. Ia melihat vas bunga. Diam-diam Zoya mengambil vas bunga di sampingnya itu lalu ia memukul kepala ayahnya.


Pukulan vas itu membuat kepala Nando berdarah. Ia memegang kepalanya yang kesakitan kemudian pingsan. Sebenarnya Zoya tidak tega tapi itu membuat rambut Alisha terlepas dari cengkeraman ayahnya.


Sebelum Zoya membawa lari adiknya keluar, ia membantu Alisha mengemasi barang-barangnya. Setelah itu, mereka pergi ke sebuah hotel.


"Sementara malam ini kita menginap di sini," kata Zoya pada adiknya.


"Aku takut sekali kak," kata Alisha sambil terisak. Zoya membawa Alisha ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Tenanglah, kakak akan memesan tiket penerbangan online untuk besok pagi, pulanglah ke Indonesia itu akan lebih aman," pinta Zoya.


Alisha mengurai pelukannya. "Ikutlah bersamaku, kakak juga dalam bahaya. "Alisha memegang tangan kakaknya.


Zoya menatap ke dalam mata adiknya. "Tidak, aku akan tetap di sini, aku akan merawat papa, kau tidak lihat kepalanya berdarah seperti itu? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?" Zoya berusaha meyakinkan Alisha.


"Untuk apa kakak menolongnya, biarkan dia mati," sungut Alisha dengan berapi-api.


"Alisha jangan seperti itu, "Zoya berkata dengan nada yang ditinggikan. Namun katena tak mau membuat adiknya takut ia pun menurunkan intonasi nada bicaranya kemudian.


"Bagaimana pun dia orang tua kita, papa seperti itu karena dia hancur dan frustasi, kalau di saat dia sedang mengalami kesulitan tidak ada yang peduli dengannya lama-lama dia bisa depresi parah seperti kamu waktu itu."


Ucapan Zoya membuat Alisha merasa bersalah. "Maafkan aku kak, aku hanya tidak mau kakak celaka."


"Apakah maksud kakak Raymond?" batin Alisha entah kenapa hatinya sakit membayangkan hal itu.


Apakah kakaknya menaruh hati pada Raymond? Lalu bagaimana nasib cintanya. Sudah bagus di sini Alisha bertemu dengan Raymond tapi kenapa dia malah pulang secepat ini.


"Tapi setelah aku pikir-pikir aku akan menemani kakak saja di sini. "Perkataan Alisha membuat Zoya tidak percaya.


"Jangan! Lebih baik kamu pulang dan urusi sekolahmu, bukankah kamu akan melanjutkan ke universitas setelah ini?" Tanya Zoya. Dia tidak mau membawa adiknya dalam masalah.


"Aku bisa minta kak Leon mengurus sekolahku di sini, oh iya aku lupa bertanya apa selama ini uang yang kak Leon kasih untuk kakak jumlahnya sedikit? Kenapa kakak tidak membeli rumah yang lebih baik?Tinggallah terpisah dengan papa!"

__ADS_1


Zoya menghembuskan nafas kasar. "Semua uang yang abang kasih dirampas oleh papa, tapi kamu jangan mengadu pada abang, ingat jangan sampai mama tahu, kalau dia jatuh sakit lagi kali ini akan berakibat fatal untuknya, kau juga mungkin akan kehilangan mama," Zoya kembali menasehati panjang lebar.


"Kakak," Alisha memeluk erat kakaknya.Ia tidak tega membayangkan nasib Zoya yang dipukuli sang ayah.Akankah dia bisa bertahan?


Setelah itu mereka berdua beristirahat.Zoya tak mau adiknya ketinggalan pesawat besok.


...***...


Keesokan harinya Zoya kembali ke rumah setelah mengantarkan Alisha ke bandara pagi-pagi sekali menaiki taksi.


Hampir saja mereka kesiangan. Zoya bangun jam lima pagi waktu setempat. Dan penerbangan adiknya berangkat jam enam pagi. Zoya segera membantunya untuk berkemas lalu mengantarnya ke bandara.


Ia membuka pintu rumahnya. Ayahnya masih tergeletak di lantai. Zoya khawatir lalu ia mengguncang tubuh ayahnya tapi ia tidak juga bangun.


Zoya berlari ke rumah Raymond karena panik.Ia menggedor pintu rumahnya pagi-pagi. Kebetulan saat itu Hendralah yang membukakan pintu.


"Ada apa?" tanya Hendra.


"Tolong, bisakah anda membantu saya, beliau sedang pingsan di rumah," kata Zoya sambil meremas tangannya yang dingin. Ia tahu Hendra tidak menyukainya karena mungkin ayahnya yang pemabuk.


"Maaf sebentar lagi saya akan berangkat bekerja," tolak Hendra.


Mendengar suara keributan Raymond keluar dari kamarnya. "Ada apa ini?" tanya Raymond saat melihat Zoya menangis di depan ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2