
Hari ini Zoya libur kuliah. Ia gunakan waktunya untuk mencari sang ayah. Raymond tidak menyebutkan di mana dia tinggal karena dia sendiri tidak jauh seperti itu Nando tidak memberi tahu tempat tinggalnya.
Zoya mulai mencari di sekitar rumahnya. Ia mencari tak tentu arah. Sungguh dia seperti orang kebingungan.
Sampai akhirnya ia berhenti untuk membeli minuman di oinggir pasar tradisional. Zoya mengipas-ngipas badannya dengan tangan sambil mengedarkan pandangannya. Lalu ia memperjelas pandangannya pada satu arah.
"Papa? Apa benar dia papa?" Zoya mendekat saat ia telah membayar minuman tersebut.
Nando masih sibuk menunggu antrian barang yang akan dia angkut. Dia tidak tahu Zoya telah berdiri di belakangnya.
"Pa?" Panggil Zoya dengan suara bergetar. Nando berbalik. Ia meneteskan air mata saat melihat putrinya ada di hadapannya.
Nando mengajak Zoya menjauh dari tempat itu. Lalu mereka duduk di sebuah tempat yang sepi. "Apa kabar pa? Kenapa papa bekerja kasar? Ikutlah denganku papa tidak perlu bekerja kasar seperti ini."
"Tidak, kau tahu sendiri Leon tidak menyukaiku," jawab Nando.
"Beritahu aku dimana papa tinggal,"
"Sudah jangan cemaskan aku, aku tidak mau lagi menjadi bebanmu," kata Nando.
"Tidak papa bukan beban, papa adalah orang tuaku, sudah sepantasnya aku membalas kebaikan papa."
"Maafkan aku, aku sudah menerima hukuman dari Tuhan," ucap Nando dengan perasaan menyesal.
"Baiklah, kalau papa memaksa tapi aku akan datang ke alamat papa, tolong tidak usah lagi bekerja sebagai kuli panggul. Aku tidak bisa melihat papa menderita. Sebagai gantinya aku akan mengirim kebutuhan papa, kumohon," pinta Zoya dengan muka memelas.
"Baiklah," Nando mengangguk setuju.
__ADS_1
...***...
Di hari berikutnya dan seterusnya Zoya selalu menyempatkan diri untuk mampir ke kontrakan papanya. Ia selalu pulang pada malam hari.
Alisha sedikit curiga terhadap kakaknya karena pada hari libur pun dia masuk kuliah. Tapi itu bohong. Zoya pergi menemui papanya.
Suatu hari Alisa sengaja mengikuti kemana kakaknya pergi. Zoya memasuki sebuah gang sempit dan pemukiman yang jauh dari kata elite. "Sebenarnya siapa yang dia temui?" gumam Alisha.
Sampai pada akhirnya dia melihat sehingga bertemu dengan orang tuanya. Alisha terkejut ternyata kakaknya juga telah menemukan sang ayah.
Alisha mengepalkan tangannya. Ia berniat mengadukan kelakuan Zoya pada Leon.
...***...
"Zoya dari mana saja kamu jam segini baru pulang?" selidik Leon. Ia seperti sedang mengintimidasi Zoya.
"Benarkah, apa kamu tidak berbohong?" Zoya mengangguk.
Leon sudah tahu kalau adiknya itu berbohong karena Alisha telah mengadu pada Leon. Tapi Leon tidak mau menuduh Zoya sebelum dia membuktikan omongan Alisha.
...***...
Keesokan harinya diam-diam Leon mengikuti Zoya. "Apa ini Zoya kamu membohongiku?" bentak Leon.
Saat itu Zoya sedang menyerahkan uang pada Nando. "Tolong jangan salah paham, aku bisa jelaskan."
"Penjelasan apa lagi. Jelas-jelas kamu sudah memberinya uang di depan mataku, apa dia yang mengancammu?"
__ADS_1
"Tolong jangan salahkan papa, salahkan saja aku," Zoya sudah menangis tersedu-sedu.
"Ayo ikut aku pulang dan jangan pernah temui dia lagi," Tangan Leon menarik tangan Zoya. Gadis itu memberontak.
"Bang, tidak bisakah kamu mengingat kebaikannya ketika kamu masih kecil? Tegakah kamu terhadap orang tua yang telah mengasuhmu dan membesarkanmu, mana balas jasamu? Mana budi baikmu kepadanya? di sisa umurnya bahkan dia harus bekerja sebagai kuli panggul di pasar."
Leon seakan tersambar petir. Benarkah papanya semenderita itu. Leon pun menghembuskam nafasnya. Ia masih mencerna omongan adiknya.
"Ajak dia pulang ke rumah," kata Leon dengan nada yang dingin.
Zoya merasa senang akhirnya kakaknya itu sadar betapa pentingnya sang ayah seberapa pun buruknya dia di masa lalu.
Setibanya di rumah Zoya membawa masuk sang papa. Alisha kaget bukannya mengusir Nando, kakaknya itu justru membawa papanya pulang dan tinggal dengannya.
"Apa maksudnya ini?" tanya Alisha pada Leon. Tapi laki-laki itu tidak menjawab. Dia memilih berlalu masuk ke dalam kamarnya.
"Untuk apa kamu tinggal di sini kalau hanya akan membawa beban untuk keluarga ini?"
Plak
Zoya menampar adiknya. "Jaga bicaramu. Tidak sepantasnya kamu berbicara kasar pada papa," geram Zoya.
Alisha menghentakkan kaki lalu kembali ke kamar. Dia menutup pintu kamarnya dengan kasar. Bahkan sampai terdengar keluar.
"Sudah jangan hiraukan dia. Ayo aku ajak papa ke kamar sekarang, beristirahatlah, aku akan membawakan makanan untuk papa,"
Dari tadi Nando hanya terdiam saja dia takut salah bicara apalagi di depan Leon. Laki-laki tua itu tidak mau berdebat dengan anggota keluarganya. Sudah diperbolehkan tinggal bersama mereka merupakan suatu anugerah yang harus disyukuri.
__ADS_1