
Hari ini Zoya mulai tinggal bersama Raymond di rumah yang disewakan Nuna untuknya. "Rumah kak Nuna bagus juga ya," puji Zoya ketika baru memasuki rumah tersebut. "Oh iya ayah tidak mau tinggal di sini?"
"Ayah langsung berangkat ke Paris hari ini juga katanya, dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya."
"Kamar kita dimana?" Tanya Zoya pada suaminya.
"Ayo aku akan mengantarmu beristirahat." Raymond membawa koper Zoya naik ke atas.
"Ini kamarnya." Raymond menunjukkan kamarnya. Zoya terkejut ketika kamar Raymond seperti kapal pecah.
"Ya ampun bagaimana aku bisa beristirahat kalau berantakan seperti ini," keluh Zoya.
Zoya kemudian memunguti pakaian Raymond yang berserakan, sedangkan Raymond memilih keluar agar Zoya membereskannya sendiri.
Raymond duduk di ruang tengah di depan televisi. Ia sibuk memainkan handphonnya. Zoya menggelengkan kepalanya saat melihat suaminya itu bermalas-malasan.
"Raymond, kamu bisa kan bantu aku buang sampah-sampah ini di depan?" Zoya meminta tolong pada suaminya.
"Kamu bisa kan tidak memanggilku dengan nama, aku suamimu sekarang," tegur Raymond dengan nada dingin.
Zoya merasa terkejut dengan perubahan sikap Raymond padanya. Raymond mau menuruti permintaan Zoya tapi dengan terpaksa.
...***...
Nando diam-diam membeli sejumlah saham di perusahaannya yang dulu. Mereka tidak menyadari kalau yang membeli sahmnya adalah pemilik perusahaan yang terdahulu karena ia membli atas nama perusahaan Leon.
__ADS_1
Nando berterima kasih pada menantunya kalau tidak diberi mandat untuk menggantikan Leon sementara waktu ia tidak akan bisa menyusup ke perusahaan yang telah lepas dari tangannya.
"Perlahan aku akan mengembalikan apa yang menjadi hakku," gumam Nando.
...***...
Di rumah Leon, Nuna sedang melayani suaminya yang baru sadar dari koma selama beberapa bulan. "Mas, kalau butuh sesuatu panggil saja aku!" Perintah Nuna pada suaminya. Leon mengangguk paham.
"Maaf karena sudah merepotkanmu," ucap Leon merasa tidak enak.
"Tidak apa aku senang melakukannya."
"Sebaiknya aku tidak menceritakan masalahku yang tidak bisa hamil pada suamiku saat ini. Aku tidak ma dia terbebani, aku mau dia sembuh dulu," batin Nuna.
Alisha baru pulang dari kampusnya. "Dimana kak Leon, Kak?" Tanya Alisha.
"Sedang beristirahat di dalam kamar," jawab Nuna.
"Owh baiklah, aku ke kamar dulu kak," pamit Alisha. Nuna mengangguk.
...***...
Seminggu kemudian Leon merasa badannya sudah fit kembali. Ia pun memutuskan untuk kembali bekerja. "Terima kasih, Pa telah menggantikanku selama ini hingga memajukan perusahaanku juga," ucap Leon dengan tulus.
"Ya, nak. Aku juga berterima kasih terutama pada istrimu yang memberikan aku kesempatan untuk memegang perusahaan setelah sekian lama. KIni aku kembalikan posisi ini padamu." Nando memeluk putranya. Leon balas memeluk ayahnya.
__ADS_1
Tidak ada ambisi bagi Nando untuk menguasai perusahaan yang dibangun oleh putranya itu.
...***...
"Raya, saya mau kamu kasih semua laporan selama saya tidak memimpin, syaa ingin tahu apa saja yang dikerjakan oleh papa karena saya juga ingin meneruskan pencapaiannya," perintah Leon pada sekretarisnya.
Tak lama kemudian Raya membawa sejumlah berkas yang penting di tangannya. Wanita itu meletakkan berkas-berkas tersebut di atas meja.
"Terima kasih Ray. Kamu boleh keluar."
Leon mulai sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk. Ia pelajari satu per satu berkas tersebut. Hanya satu yang menyita perhatiannya. "Saham di perusahaan lama papa?" gumam Leon saat mendapati berkas yang menyatakan kepemilikan saham di perusahaan apapnya yang diambil alih oleh orang lain.
"Aku harus tanyakan ini sama papa," Leon pun membawa map penting itu pulang.
"Pa, aku minta penjelasan papa! Maksudnya bagaimana, Pa. Kenapa papa membeli saham di perusahaan papa yang dulu?" Tanya Leon.
"Aku memang ingin kamu merebut kembali perusahaan papa dari tangan para pengkhianat itu. Papa akan merasa lega kalau kamu yang memilikinya. Rencana awal papa adalah mulai dengan membeli saham mereka sedikit demi sedikit hingga kita bisa membeli sampai lebih dari 75% saham mereka. Lama-lama kita yang akan menjadi owner dari perusahaan itu."
Leon menarik ujung bibirnya. Rencana papa boleh juga."
Nando mendekat ke arah Leon. "Leon, bisakah kamu menaikkan jabatan Raymond, bukankah dia sudah menjadi adik iparmu?"
Leon mendengus. "Nanti aku tanya bagian HRD Pa. Apakah ada lowongan laain di perusahaanku," balas Leon.
"Papa hanya ingin dia tidak merasa rwndah diri," Nando menasehati.
__ADS_1