
Raymond keluar dari ruangan Leon. Raya menepuk bahu pemuda itu. "Kamu masih beruntung Pak Leon masih memberikan kamu kesempatan bekerja di sini setidaknya dia tidak melaporkan kamu ke polisi." Raya memberi dukungan.
"Gue balik dulu ya," pamit Raymond dengan wajah sendu. Raya merasa kasihan pada pemuda itu. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya.
Raya pun menceritakan kejadian yang Raymond alami kepada Citra, sepupunya malalui sambungan telepon. Citra tidak kalah kaget atas kejadian yang menimpa Raymond. Cerita itu berlanjut sampai ke telinga Nuna. Nona tidak menyangka hal buruk menimpa Raymond dan perusahaan Leon. Tentu saja dia mengkhawatirkan keduanya.
Nuna melihat mobil kekasihnya terparkir di depan toko bunga miliknya. Dilihat dari raut muka Leon yang kesal, dia sudah tahu alasannya.
"Sayang, ada apa kemari? Kenapa tidak memberitahu dulu melalui telepon?" tanya nona basa-basi. Ia berpura-pura tidak tahu mengenai kejadian yang menimpa perusahaan milik kekasihnya itu.
"Aku hanya ingin menenangkan diri banyak masalah yang terjadi hari ini di perusahaan." Leon bercerita pada Nuna tapi tidak secara spesifik.
Sebagai kekasih yang baik Nuna tidak mau mengungkit permasalahan Leon. karena hal itu akan membuat Leon semakin kesal mengingat masalah yang dialami.
Nuna menggambar tas miliknya. "Ayo kita pergi. Aku siap kamu ajak kemanapun." Leon menjadi bersemangat mendengar perkataan Nuna.
Laki-laki itu pun mengajak kekasihnya masuk ke dalam mobil. Kemudian ia melajukan mobilnya.
...***...
Raymond menelepon kekasihnya, Zoya. Pemuda itu mengajak Zoya bertemu di sebuah cafe yang tak jauh dari kantor kakaknya.
Raymond lebih dulu sampai di cafe tersebut. Zoya melambaikan tangannya untuk menyapa Raymond ketika gadis itu baru sampai.
"Apa kamu lama menunggu?"
"Aku sudah ada di sini setengah jam yang lalu," ungkap Raymond.
"Maafkan, Aku. Ini masih jam kerja apa kamu tidak ada pekerjaan di kantor?" Zoya sedikit curiga pada Raymond.
"Hari ini aku membuat masalah. Seseorang yang tidak aku kenal telah menukar dokumen penting yang aku bawa."
__ADS_1
Perkataan Raymond membuat Zoya terkejut. "Bagaimana bisa itu terjadi?" tanya Zoya tidak mengerti.
"Kejadiannya ketika aku sedang membalas chat darimu di meja resepsionis. Saat itu aku tidak menyadari ada orang yang menukar dokumen yang aku bawa."
Zoya merasa bersalah mendengar pengakuan Raymond. "Apakah kamu tahu siapa yang menukar dokumen penting itu?" Raymond menggeleng.
"Seorang wanita yang wajahnya tertutup masker. Mereka juga sudah mencari kemana wanita itu pergi setelah mengambil dokumen itu tapi dia langsung keluar dari gedung."
Raymond meraup mukanya kasar. Ia merasa frustasi dengan kejadian yang menimpanya.
"Apakah Abangku Leon memberikan hukuman kepadamu?"
"Besok aku hanya akan menjadi OB di perusahaannya. Aku masih bersyukur kakakmu tidak melaporkan aku ke pihak yang berwajib."
Meski terkejut namun Zoya masih bersyukur Raymond tidak dipenjara.
"Sudahlah lupakan kejadian hari ini anggap ini sebagai pelajaran agar kamu lebih baik kedepannya." Zoya memberi dukungan kepada kekasihnya. bagaimanapun dia harus tetap menyemangati Raymond agar dia tidak merasa putus asa.
...***...
"Kenapa sulit sekali mengambil hatimu?" gumam Alisa yang merasa kesal.
Gadis itu masih berusaha merebut hati Raymond meskipun dia tahu kalau Zoya yang menempati hatinya saat ini.
"Kak Zoya baru pulang?" tanya Alisha yang melihat kakaknya akan masuk ke kamar.
"Iya, aku masuk dulu ya capek habis ngampus seharian," pamit Zoya.
Alisha menaruh curiga pada Zoya. "Apa benar dia tidak berhubungan sama sekali dengan Raymond? Atau mungkin mereka diam-diam berhubungan kembali. Nggak bisa kaya gini aku harus membuktikan rasa penasaranku," gumam Alisha.
...***...
__ADS_1
Keesokan harinya Raymond memasuki gedung perusahaan tempatnya bekerja. Kini ia tidak memakai setelan jas seperti biasanya.
Raya menginstruksi supaya Reymond supaya pergi ke bagian OB. Di sana ia mendapatkan seragam yang harus ia pakai.
Raymond menghela napas. "Baiklah sukses dimulai dari bawah, semangat Raymond." pemuda itu menyemangati dirinya sendiri.
Leon baru saja tiba di kantor. semua orang menunduk hormat ketika berpapasan dengannya termasuk Raymond. Leon hanya melirik sekilas ke arah pemuda itu. Dia menarik ujung bibirnya, tersenyum sinis melihat sekilas ke arah Raymon yang kini mengenakan pakaian OB.
Seseorang menepuk bahu Raymond. "Gue udah dengar masalah yang elu buat kemarin. Beruntung lo Pak Leon tidak mengadukan lo ke polisi. kalau gue jadi Pak Leon gue akan..."
"Sudahlah, kalian kembali bekerja ini bukan waktunya untuk mengobrol," sarkas Kepala OB.
...***...
Pagi itu Alisha sengaja mampir ke kantor Leon. Saat Gadis itu mengedarkan pandangannya ia terkejut ketika melihat seseorang yang sangat dia kenal. "Bukankah kemarin dia memakai setelan jas. Lalu kenapa sekarang dia memakai seragam OB?" gumam Alisha. Gadis itu tidak berani menyapa Raymond takut ada pegawai yang menegurnya. Alisha merasa gengsi bila mengobrol dengan bawahan kakaknya.
"Lebih baik aku pura-pura tidak kenal." Alisha pun melewati Raymond begitu saja. Raymond hendak menyapa Alisha tapi saat melihat sikap acuh Alisha maka ia urungkan.
"Hufh, dasar gadis sombong, apa gara-gara sikapku kemaren," umpat Raymond.
...***...
"Kak bagi duit dong." Alisha menodong kakaknya ketika baru masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Kamu masuk tidak ada sopan-sopannya biasakan salam dulu!" Tegur Leon pada adik bungsunya.
"Kamu butuh berapa? Nanti uangnya akan aku transfer, aku sibuk lebih baik kamu keluar," usir Leon tanpa memandang wajah adiknya.
"Transfer 5 juta untuk hari ini, aku butuh untuk membayar uang kampus," bohong Alisha.
Hm
__ADS_1