
Seorang wanita melihat laki-laki yang ia kenal berada di gerbong kereta tapi sepertinya ia terlihat bingung.
Zoya mengerutkan keningnya saat ia melihat tangan laki-laki yang tidak dikenal mencoba mengambil sesuatu dari tas pemuda itu. Sesaat kemudian laki-laki asing itu mendapatkan dompet dari dalam tas Raymond.
"Bodoh," cibir Zoya sambil tersenyum sinis.
Zoya segera mendekat ke arah Raymond. Gadis itu sengaja menabrakkan dirinya pada pencopet itu. Diam-diam tangannya mengambil kembali dompet yang berhasil dicopet dari Raymond.
Raymond masih saja bingung menaiki kereta yang mana. Karena frustasi dan merasa haus ia memutuskan untuk mengambil uang yang ada di dalam tasnya guna membeli minuman. Sayangnya dompetnya benar-benar hilang.
"Cari ini?" tanya Zoya sambil menunjukkan dompet miliknya.
Raymond menoleh ke arah Zoya. "Dari mana kau dapatkan dompetku? Jangan bilang kau mencurinya," tuduh Raymond.
"Untuk apa aku mencuri dompetmu yang tidak ada isinya ini," cibir Zoya dia melempar dompet milik Raymond. "Dasar cowok tidak tahu terima kasih," Zoya memalingkan mukanya setelah memberikan dompet milik Raymond.
"Kau mau ke mana?" Tanya Zoya, meski dia sempat dituduh oleh Raymond, tapi gadis itu merasa kasihan pada pemuda di hadapannya itu. Ia bisa menebak Raymond sama sekali belum pernah ke Paris.
"Ikuti aku!" Zoya bagaikan dewi penolong untuk Raymond. Selain tidak tahu ia harus naik di gerbong yang mana, Raymond juga tidak tahu ia harus turun dimana.
__ADS_1
"Aku berterima kasih padamu, seandainya tidak ada kau mungkin aku akan tersesat di kota ini," ucap Raymond dengan tulus.
"Tidak usah berlebihan ini semua karena kita bertetangga," balas Zoya dengan ekspresi wajah datar.
"Jadi kamu menyadari bahwa aku tinggal di sebelah rumahmu?" Zoya tidak menjawab pertanyaan Raymond.
"Namaku Raymond," pemuda itu mengeluarkan tangannya.
Belum sempat Zoya membalas uluran tangannya, tiba-tiba kereta mengerem mendadak. Tubuh Zoya menjadi limbung untung saja Raymond menangkapnya dengan sigap.
Sejenak pandangan mata mereka bertemu. Zoya merasakan jantungnya berdebar saat menatap mata Raymond. Raymond tersenyum ke arah Zoya. Gadis itu makin salah tingkah kemudian ia mencoba berdiri sendiri.
Tak lama kemudian kereta berhenti di pemberhentian selanjutnya. Zoya lebih dulu melangkahkan kakinya keluar. Raymond pun mengikutinya.
"Setelah ini kita naik apa untuk sampai ke rumah?" Tanya Raymond sambil menyamakan langkahnya dengan Zoya.
"Aku sudah terbiasa jalan kaki sampai ke rumah, tapi kalau menurutmu jaraknya terlalu jauh kau bisa naik taksi," jawab Zoya.
Sikapnya sudah jauh lebih ramah dari sebelumnya. "Tidak, begini lebih baik," Raymond menolak saran Zoya. Ia memilih kerjaan bersama Zoya sambil menikmati pemandangan di sekitar jalan di mana daun-daun dan bunga mulai tumbuh.
__ADS_1
Zoya melirik sekilas ke arah Raymond lalu tersenyum. Namun, tidak sengaja Raymond melihat senyum manis di wajah gadis cantik itu. Raymond merasakan jantungnya berdebar.
"Aku baru tahu kalau waktu siang sangat panjang di sini padahal sekarang sudah menunjukkan pukul 06.00 sore, kalau di Indonesia jam segini udah gelap banget," tutur Raymond.
"Kau benar. Kalau musim semi begini waktu siang akan lebih panjang dari waktu malam," terang Zoya.
"Apa kau baru pertama kali tinggal di luar negeri?" Tanya Zoya kemudian. Raymond mengangguk mengakuinya.
Akhirnya mereka tiba di depan rumah. "Sudah sampai aku masuk dulu," pamit Zoya pada Raymond.
Raymond tidak berkata apa-apa ketika gadis itu berpamitan. Namun, dapat berbicara langsung dan mengetahui nama gadis itu saja sudah membuat hati Raymond senang bukan kepalang.
Ia pun mengulum senyum dan melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Ketika dia memasuki rumah, sang ayah sudah lebih dulu tiba di rumah.
"Dari mana saja kau jam segini baru pulang, Aku menelpon ke handphone-mu tapi tidak aktif. Apa yang terjadi?" cecar Hendra.
"HP aku lowbat ya jadi aku tidak bisa menghubungimu. Untung saja aku bertemu dengan tetangga kita itu," tunjuk Raymond ke arah rumah Zoya dengan dagunya.
"Sebaiknya kau tidak terlalu akrab dengannya," Raymond kaget dengan penuturan ayahnya.
__ADS_1