Mencintai Mas Ganteng

Mencintai Mas Ganteng
MA Season 3 #122


__ADS_3

Setelah Raymond dan teman-temannya selesai membersihkan halaman belakang. Nuna meminta mereka untuk makan siang terlebih dulu. Raymond dan para karyawan Leon melihat istri kedua atasannya itu memang sangat berbeda dari istri pertamanya. Mungkin kalau orang lain akan membiarkan mereka pergi tanpa mengucapkan terima kasih. Tapi Nuna berbeda, dia membelikan makanan sebagai tanda terima kasih darinya.


Usai makan siang, mereka pulang kecuali Raymond. "Tunggu Raymond, aku berencana untuk menyewakan rumahku apa kamu bersedia menempatinya?" tanya Nuna.


"Aku tidak akan membebanimu dengan harga yang mahal, bayarlah semampumu." Perkataan Nuna membuat Raymond senang.


"Apakah benar yang kau katakan? Kalau begitu aku akan pindah secepatnya," kata Raymond antusias.


"Tapi ingat jangan sampai diketahui oleh Leon, aku tidak ingin dia menuduhku membelamu." Nuna berpesan pada pemuda yang ada di hadapannya itu.


"Baiklah aku setuju."


Setelah itu Raymond pun pergi. Kini tinggal dia dan Nando yang ada di rumah. Nuna melihat keadaan Nando di dalam kamarnya.


"Papa sudah makan siang?" Tanya Nuna penuh perhatian.


"Belum."


"Kalau begitu ayo makanlah bersamaku, makan sendiri tidak enak lebih baik kita makan bersama, papa setuju?" Tanya Nuna meminta pendapat.


"Baiklah." Nando pun keluar dari kamarnya.


...***...


Di tempat lain, Leon yang baru tiba di kantor menemui sekretarisnya, Raya. "Ray, Apa kamu sudah mengerjakan apa yang Aku perintahkan kemarin?" Tanya Leon.


"Sudah, Pak. Hari ini kita bisa mulai memprosesnya."


"Kerja bagus. Apakah semua orang sudah berkumpul di meja rapat?"


"Sudah, Pak. Kita bisa mulai meetingnya sekarang."

__ADS_1


Leon dan Raya memasuki ruang rapat. Pemimpin rapat antara pemegang saham dan para investor lainnya. "Baiklah kita mulai rapat hari ini. Saya akan langsung to the point. mengembalikan uang yang kalian tanam di perusahaan saya dan dan membatalkan kontrak kerjasama yang kita jalin. Untuk nama-namanya nanti Raya yang akan menyebutkan." Leon meninggalkan meja rapat begitu saja. Ia muak dengan orang-orang ya bermuka dua seperti mereka.


Setelah itu Leon kembali ke rumahnya. Dia mampir di sebuah toko perhiasan guna membeli hadiah untuk istri tercintanya.


Mata Leon tertuju pada sebuah kalung yang sangat cantik. "Tolong bungkus kalung itu dengan rapi.


Setibanya di rumah, Leon mencari keberadaan istrinya. Ternyata Nuna sedang memasak. "Bi Siti tolong ambil wortel yang ada di kulkas ya!" perintah Cindy pada asisten rumah tangganya.


Leon berikan kode agar bisa pergi dan membiarkan mereka berdua di dapur. Tangan Nuna menengadah. Leon mengambilkan wortel dari dalam kulkas untuk istrinya.


"Terima kasih." Nuna masih belum menyadari kalau suaminya ada di belakang.


Leon kemudian memeluk Nuna dari belakang. Nuna terkejut ketika tangan suaminya memeluknya.


"Mas Leon bikin kaget saja? Kapan pulang kok aku nggak lihat."


"Gimana kamu lihat kamu lagi fokus masak." Leon mengambil pisau dari tangan Nuna. Lalu ia meletakkan pisau tersebut. "Biarkan Bi Siti mengerjakannya."


"Apa itu mas?" Leon membuka kotak tersebut. Sebuah kalung cantik terdapat di dalamnya. Nuna menutup mulutnya tak percaya suaminya seromantis itu dengan memberikan hadiah yang istimewa.


"Terima kasih." Nuna mengulas senyum lebarnya.


"Aku bantu pakaikan ya?" Nuna mengangguk.


Leon menyibak rambut panjang istrinya. Namun, saat ia akan memasangkan kalung itu, ia melihat leher istrinya yang begitu menggoda.


Setelah memasang kalung Leon memeluk Nuna dengan posesif. Ia menciumi pundak dan leher istrinya dari belakang. "Mas..."


Leon membalik tubuh istrinya. Ia menyingkirkan anak rambut Nuna yang menutupi wajah cantiknya itu ke belakang telinga. "Aku menginginkanmu malam ini," ucapnya singkat sambil memandang mata Nuna dalam.


Setelah itu Leon merebahkan tubuh istrinya di atas kasur. Mereka pun mulai bergumulan dan melewatkan makan malam.

__ADS_1


Sementara itu di meja makan hanya ada Zoya dan Nando. "Papa sehat?" Tanya Zoya yang khawatir karena muka ayahnya itu sedikit pucat.


"Papa hanya sedikit pusing," akunya.


"Baiklah, aku akan ambilkan obat, tunggu sebentar." Zoya oun berdiri dan mengambil obat sakit kepala yang selalu ia sediakan di saat keadaan darurat.


"Ini, minumlah!" Zoya memberikan sebuah tablet dan air putih pada Nando.


"Mungkin papa stress di rumah saja, sekali-kali berjalan-jalanlah keluar." Zoya memberi saran pada papanya.


"Baiklah, besok papa akan menyapa tetangga," katanya lalu terkekeh bersama anaknya Zoya.


Alisha malam ini belum pulang. Ia diajak temannya ke sebuah club malam. "Gue nggak biasa minum kaya kakak gue yang tinggal di kuar negeri," akunya saat slaah seorang teman menawarinya minuman keras.


"Lo coba aja dikit, gue jamin elo bakalan suka sama rasanya."


Dengan ragu Alisha mengambil gelas yang ada di tangan temnany itu. Ia pun meneguk minuman itu dengan sekali teguk. Pahit itu yang ia rasakan.


"Gimana?" Tanya teman Alisha yang meminta pendapat soal rasanya.


"Lumayan," jawab Alisha kemudian. Teman-temannya bersorak setelah Alisha bisa menerima rasa alkohol tersebut. Ini adalah pertama kalinya Alisha menginjakkan kaki di club. Ia belum pernah minum alkohol sebelumnya dan sudah dapat dipastikan dengan minum tiga gelas saja membuat kepalanya pusing.


"Elo tahu nggak, gue tuh cinta sama cowok tapi cowok itu malah kakak gue, apa yang dilihat dari dia jelas-jelas gue lebih cantik dari kakak gue," racau Zoya dalam keadaan mabuk.


"Ihk ngrepotij banget sih naru juga minum beberapa gelas udah teler," keluh teman Alisha.


"Ayo kita antar dia pulang."


Alisha pun diturunkan di depan rumahnya begitu saja oleh temannya dari taksi. Alisha tertidur di halamannya.


Zoya saat itu sedang keluar mencari udara segar di balkon kamarnya tak sengaja melihat Alisha yang tertidur di depan gerbang rumahnya.

__ADS_1


"Ya ampun Alisha." Zoya menajamkan penglihatannya. Ia pun segera berlari menghampiri adiknya. Jangan sampai ketahuan Leon.


__ADS_2