
"Terima kasih sudah mengantarku pulang," ucap Nuna pada Leon di depan rumahnya.
"Gak masalah, kalau perlu aku akan antar jemput kamu tiap kali ke rumahku," goda Leon.
Dulu rumah Leon masih satu komplek dengan rumah Nuna. Namun semenjak Leon menikah dengan Safira ia kembali ke rumah besarnya. Jaraknya lumayan jauh dari rumah Nuna. Perlu waktu hampir satu jam untuk sampai ke rumah Leon dari rumah Nuna.
Setelah memastikan mobil Leon pergi Nuna baru mau masuk ke dalam. Namun langkahnya terhenti saat seseorang memanggil namanya.
"Nuna," teriak Raya.
"Eh Raya, Citra, ngapain kalian ada di sini malam-malam?" tanya Nuna heran.
"Kita mo ngajakin elo hang out bareng," kata Citra dengan antusias.
"Kemana?" tanya Nuna.
"Udah ikut aja," kata Raya seraya menarik Nuna masuk ke dalam mobil.
Saat ia masuk ke dalam mobil Nuna melihat Raymond ada di depan kursi kendali. "Kamu ikut juga," kata Nuna.
"Hai kak Nuna," sapa Raymond seraya melambaikan tangan.
"Yuk jalan," ajak Citra Raymond pun mengangguk. Kini mobilnya mulai melaju menyusuri jalan aspal di malam hari.
__ADS_1
"Mo ngajakin kemana sih?" tanya Nuna penasaran sejak tadi tak ada yang menjawab pertanyaannya.
Satu jam kemudian mereka sampai di sebuah villa yang lumayan besar. Nuna melihat Raya dan Citra yang tertidur kemudian membangunkannya.
"Kalian ini yang ngajakin pergi malah kalian tidur," Nuna menggelengkan kepalanya.
"Eh sorry sorry gue capek banget hari ini," jawab Citra yang merasa tidak enak karena mengantuk.
"Udah sampai ya," Raya masih mengumpulkan nyawanya.
"Nun bantuin gue turunin barang-barang dong," perintah Citra.
"Lo bawa apaan sih?"
"Perlu bantuan kak?" tanya Raymond dengan suara lembut.
"Gak usah modus deh lo," sungut Citra.
"Ihk biarin aja sih, mulut-mulut gue kenapa situ yang sewot," bantah Raymond yang kesal pada sepupunya.
"Udah gak usah diterusin berantemnya, yuk kita bakar," Raya mengajak mereka masuk ke dalam vila.
"Btw ini vila siapa sih?" tanya Nuna.
__ADS_1
"Punya bokapnya si kunyuk," Citra menujuk Raymond dengan dagunya.
Setelah itu mereka menyiapkan sosis dan bahan makanan yang siap dibakar. Sementara yang lain sibuk Nuna malah melamun.
Raymond mendekati Nuna. Ia duduk di sebelah wanita itu. "Kakak mau gak?" Raymond memberikan jagung yang baru matang.
Nuna mengambil jagung yang ditawarkan oleh Raymond. "Makasih," ucap Nuna sambil tersenyum.
"Kita ke sini buat seneng-seneng kenapa kak Nuna malah menyendiri?"
"Gak papa aku cuma capek aja hari ini habis pindahan," elak Nuna.
Padahal sebenarnya ia memikirkan Leon. Leon sudah mengucapkan kata talak pada Safira artinya mereka akan berpisah sebentar lagi. Seharusnya ia merasa senang tapi kenapa ia malah merasa pernikahan mereka terganggu karena Leon yang tidak bisa move on darinya.
"Apa aku salah bila aku kembali ke masa lalu?" tanya Nuna.
"Kenapa harus kembali ke masa lalu kalau masa depan lebih menjanjikan," tiba-tiba Raymond merentangkan tangannya.Nuna hanya bisa tertawa melihat tingkah konyol Raymond. Nuna tahu kalau laki-laki itu memiliki perasaan padanya tapi entah kenapa hati Nuna hanya untuk Leon.
"Kamu ini becanda terus," cibir Nuna.
"Eh gabung sini, kalian mah mojok terus," sindir Raya.
Nuna dan Raymond pun bergabung dan merayakan pesta barbeque dalam rangka yang tidak jelas malam itu. Tapi mereka sangat menikmati meski harus kembali hampir pagi. Karena kesibukan bekerja keesokan harinya yang tidak bisa dihindari.
__ADS_1